Portal Jatim

Sejarah Candi Gentong, Peninggalan Kerajaan Majapahit

Redaksi
133
×

Sejarah Candi Gentong, Peninggalan Kerajaan Majapahit

Sebarkan artikel ini
Sejarah Candi Gentong, Peninggalan Kerajaan Majapahit

MOJOKERTO — Candi Gentong terletak di Dukuh Jambu mente Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.

Candi Gentong tersusun dari batu bata merah, struktur Candi Gentong disebut gentong karena sebelum eskavasi masyarakat melihat gundukan besar dan berlubang dan dahulu juga ditemukan banyak fragmen gentong.

Candi Gentong Berdiri pada masa Kerajaan Majapahit di Era Raja Hayam Wuruk pada tahun 1350 masehi di bagi menjadi dua yaitu Candi gentong 1 dan Gentong II.

Juru pelihara Candi Gentong Rokiin Sabtu ( 08/06/2024) mengatakan ” Dari hasil eskavasi tahun 1994/1995 dan mendapatkan temuan berupa kumpulan stupika ,arang dan dua fragmen arca Buddha, sedangkan temuan terdapat ada pada Candi Gentong I ” jelasnya.

Stupika tersebut terbuat dari tanah liat yang dibentuk seperti stupa berukuran kecil dan dipahatkan inskripsi berisi mantra Buddha pada bagian bawahnya.

Temuan lain berupa arca Buddha terdapat di sisi timur struktur candi. Kondisi kedua arca kepalanya telah hilang. Temuan arang selanjutnya dilakukan tes carbon dating di Laboratorium Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi di Bandung , dan Berdasarkan hasil penanggalan tersebut didapatkan kesimpulan bahwa Candi Gentong berasal dari masa Majapahit khususnya periode pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350 – 1389 M ).

Candi Gentong ini mempunyai pintu yaitu di bagian barat dan terdiri dari beberapa bilik ,Candi gentong 1 memiliki ukuran 23,5 x 23,5 meter dan tinggi 2,45 meter, sedang Candi di sisi utara merupakan Candi Gentong Dua yang mempunyai ukuran lebih kecil .

Sementara itu Candi gentong dua berupa struktur utama yang dikelilingi struktur kecil dengan luas 18,5 meter x 18,5 meter dengan bentuk persegi dengan ukuran 7,10 x 7,10 meter.

Candi Gentong ditemukan pada tahun 1889 dan dicatat oleh Verbeek dalam TBG XXXIII pada tahun yang sama. Selanjutnya Knebel melakukan penelitian pada candi ini tahun 1907 yang ditulis dalam ROC dan disusul N.J. Krom pada tahun 1923 dengan buku berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst.

Maclaine Pont pada 1925 juga memasukkan candi ini dalam peta rekonstruksi kota Majapahit. Pemugaran terhadap candi ini dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur pada tahun 1995/1996, 1998/1999 hingga 2004.

Selain jadi jujukan Wisata edukasi Candi gentong juga di gunakan sebagai kegiatan ritual Kejawen.