Berita BolaBeritaberita sportOlahragaSepak Bola

Joao Pinheiro Diprotes Bayern: Dua Handball PSG yang Bikin Kompany Geram

×

Joao Pinheiro Diprotes Bayern: Dua Handball PSG yang Bikin Kompany Geram

Sebarkan artikel ini
joao pinheiro diprotes pemain Bayern dan PSG
Wasit Joao Pinheiro berdiskusi dengan pemain Bayern Munchen dan PSG dalam laga Bayern vs PSG.

Portal-Indonesia.com – Nama Joao Pinheiro ikut menjadi pusat debat setelah Bayern Munchen ditahan PSG 1-1 di Allianz Arena. Hasil itu membuat PSG lolos ke final Liga Champions dengan agregat 6-5, tetapi kubu Bayern pulang dengan rasa tidak puas terhadap dua keputusan handball pada babak pertama.

Protes Bayern mengarah pada dua momen berdekatan. Pertama, bola mengenai lengan Nuno Mendes saat PSG bertahan. Tidak lama kemudian, sapuan Vitinha mengenai tangan Joao Neves di kotak penalti. Pinheiro tidak memberi penalti, VAR juga tidak meminta peninjauan di monitor pinggir lapangan.

joao pinheiro dan protes Bayern soal handball PSG
Joao Pinheiro menjadi sorotan setelah Bayern Munchen memprotes dua keputusan handball melawan PSG.

Kronologi singkat keputusan Joao Pinheiro

Laga Bayern vs PSG berjalan panas sejak awal karena Bayern tertinggal agregat dan butuh respons cepat. PSG justru mencetak gol lebih dulu lewat Ousmane Dembele pada menit ke-3. Tekanan tuan rumah meningkat setelah itu, termasuk lewat serangan yang memicu dua klaim handball pada menit ke-29 sampai 30.

Dalam laporan BBC Sport, pemain Bayern disebut mengerubungi Joao Pinheiro setelah sapuan Vitinha mengenai lengan Joao Neves di area PSG. Pinheiro menilai situasi itu bukan penalti. VAR tidak mengubah keputusan di lapangan.

MomenPeristiwaKeputusan
Menit 29Nuno Mendes terlihat menyentuh bola dengan tangan saat duel melawan Konrad Laimer.Free kick untuk PSG karena Pinheiro lebih dulu melihat handball dari Laimer.
Menit 30Sapuan Vitinha mengenai tangan Joao Neves di kotak penalti PSG.Tidak ada penalti untuk Bayern, VAR tidak mengirim wasit ke monitor.
Menit 90+4Harry Kane menyamakan skor menjadi 1-1.Bayern tetap tersingkir karena agregat 6-5 untuk PSG.

Kenapa Bayern merasa dirugikan?

Bayern merasa ada dua keputusan besar yang tidak berpihak. Insiden Mendes dianggap bisa berujung kartu kuning kedua karena bek PSG itu sudah mendapat kartu pada awal pertandingan. Pada insiden Joao Neves, Bayern melihat bola mengenai tangan pemain PSG di kotak penalti sehingga protes langsung mengarah ke Joao Pinheiro.

Vincent Kompany juga mengkritik arah keputusan tersebut. Dalam kutipan yang dimuat The Guardian, pelatih Bayern menyebut terlalu banyak hal berjalan melawan timnya. Ia tidak menjadikan wasit sebagai satu-satunya alasan tersingkir, tetapi menilai momen seperti itu tetap berpengaruh dalam pertandingan satu gol.

Sudut Bayern cukup mudah dipahami. Mereka bermain di kandang, sedang mengejar agregat, lalu melihat dua momen tangan di area PSG dalam rentang singkat. Pada situasi seperti itu, satu penalti bisa mengubah jalannya leg kedua dan memberi Bayern peluang memaksa PSG bermain di bawah tekanan lebih lama.

Aturan handball membuat kasus Joao Neves tidak sederhana

Debat soal Joao Neves tidak berhenti pada pertanyaan apakah bola mengenai tangan. Dalam interpretasi aturan, arah bola, jarak, posisi tangan, dan sumber pantulan ikut menentukan. Jika bola datang dari aksi rekan setim dalam jarak dekat, wasit dan VAR bisa menilai tidak ada pelanggaran yang layak dihukum penalti.

Itu yang membuat keputusan Joao Pinheiro menjadi kontroversial, bukan otomatis keliru. Dari kacamata Bayern, tangan Neves menghalangi bola di kotak penalti. Dari kacamata perangkat pertandingan, bola lebih dulu ditembakkan oleh Vitinha ke arah rekannya sendiri dalam ruang sempit sehingga unsur kesengajaan dan kontrol tangan tidak cukup kuat.

Perdebatan ini juga mengingatkan pada duel PSG sebelumnya di fase gugur. Pada laga besar dengan margin agregat tipis, satu keputusan kecil bisa menjadi topik utama setelah peluit akhir, bahkan ketika pertandingan sendiri punya banyak detail taktis lain.

Nuno Mendes lolos dari kartu kedua

Insiden Nuno Mendes menambah panas situasi. Bek kiri PSG itu sudah mendapat kartu kuning lebih awal setelah pelanggaran terhadap Michael Olise. Ketika bola kemudian mengenai tangannya, pemain Bayern meminta hukuman lanjutan. Namun Pinheiro memberi free kick untuk PSG karena menilai Laimer lebih dulu melakukan handball.

Keputusan ini penting karena konsekuensinya bukan cuma tendangan bebas. Jika Mendes dinilai sengaja handball dan mendapat kartu kuning kedua, PSG harus bermain dengan sepuluh orang dalam waktu panjang. Itu skenario yang sangat berbeda untuk Bayern, terutama ketika mereka sedang mengejar agregat di Allianz Arena.

Data laga: PSG tetap bertahan dalam tekanan Bayern

Terlepas dari protes terhadap Joao Pinheiro, Bayern tetap punya cukup peluang untuk menyamakan keadaan lebih cepat. Data pertandingan dari ESPN menunjukkan Bayern memegang 65,6 persen penguasaan bola dan melepaskan 18 tembakan. PSG tidak hanya bertahan pasif karena mereka juga punya 15 tembakan dan tujuh yang mengarah ke gawang.

StatistikBayern MunchenPSG
Penguasaan bola65,6 persen34,4 persen
Tembakan1815
Tembakan tepat sasaran67
Pelanggaran1112
Umpan akurat499 dari 573212 dari 301

Angka itu menjelaskan kenapa laga tidak bisa dibaca hanya dari keputusan wasit. Bayern lebih lama menguasai bola, tetapi PSG punya serangan yang tetap tajam. Dembele menghukum Bayern sangat cepat, sementara Harry Kane baru membalas pada injury time. Menurut laporan resmi UEFA, PSG akhirnya melaju ke final melawan Arsenal di Budapest pada 30 Mei.

Kontroversi tidak menghapus masalah finishing Bayern

Bayern boleh marah terhadap Joao Pinheiro, tetapi penyelesaian akhir tetap menjadi bagian dari cerita besar. Mereka punya penguasaan bola, tekanan stadion, dan momentum setelah beberapa serangan beruntun. Masalahnya, PSG bertahan cukup rapat sampai Bayern hanya mampu mencetak satu gol lewat Kane pada menit akhir.

Jika Bayern mendapat penalti pada babak pertama, tekanan pertandingan mungkin berubah. Namun tanpa penalti pun, mereka masih punya waktu panjang untuk mengejar. Di sinilah laga ini terasa pahit bagi Bayern: keputusan wasit diperdebatkan, tetapi peluang untuk menyelesaikan pertandingan juga tidak dimaksimalkan.

Untuk pembaca yang mengikuti rangkaian Bayern PSG, kontroversi ini menjadi babak lanjutan dari duel yang sejak awal memang berjalan ketat. PSG datang dengan keunggulan agregat, mencuri gol cepat, lalu bertahan dari gelombang protes dan tekanan sampai tiket final aman.

Dampak ke final Liga Champions

PSG keluar dari Allianz Arena dengan dua hal sekaligus: tiket final dan debat panjang soal keputusan wasit. Lawan mereka berikutnya adalah Arsenal, yang membuat konteks jalur final makin menarik karena PSG harus mengalihkan fokus dari kontroversi ke persiapan pertandingan puncak.

Bagi Bayern, protes terhadap Joao Pinheiro kemungkinan akan tetap menjadi bahan pembicaraan setelah tersingkir. Namun hasil resmi tidak berubah. Skor 1-1 di leg kedua dan agregat 6-5 memastikan PSG melaju, sementara Bayern harus menerima bahwa dua klaim handball tersebut tidak cukup untuk mengubah keputusan perangkat pertandingan.

FAQ Joao Pinheiro di Bayern vs PSG

Siapa Joao Pinheiro dalam laga Bayern vs PSG?
Joao Pinheiro adalah wasit utama pada leg kedua semifinal Liga Champions antara Bayern Munchen dan PSG di Allianz Arena.

Apa keputusan yang diprotes Bayern?
Bayern memprotes dua momen handball pada babak pertama, terutama bola yang mengenai tangan Joao Neves di kotak penalti PSG.

Apakah Bayern mendapat penalti?
Tidak. Joao Pinheiro tidak memberi penalti dan VAR tidak meminta tinjauan ulang di monitor pinggir lapangan.

Bagaimana hasil akhir laga?
Bayern Munchen bermain 1-1 melawan PSG. PSG lolos ke final Liga Champions dengan agregat 6-5.