Wisata Edukasi di Yogyakarta Sangat Terbuka untuk Dikembangan

Wisata Edukasi di Yogyakarta Sangat Terbuka untuk Dikembangan
Rombongan keluarga saat berwisata di Gembira Loka Zoo (GL Zoo) Yogyakarta. (Foto : Bambang S/Portal Indonesia)

YOGYAKARTA|portal-indonesia.com – Pariwisata di Yogyakarta berkembang sangat pesat dan mampu menyumbang pendapatan daerah yang cukup besar sekaligus menggerakkan perekonomian. Melihat potensi tersebut maka wisata edukasi menjadi sangat-sangat terbuka untuk dikembangkan dan berprospek sangat bagus.

Dosen Bina Sarana Informatika University, Dr Ani Wijayanti MM, Par. CHE menyampaikan itu dalam seminar bertema “Pariwisata Edukasi di Yogyakarta: Antara Harapan dan Kenyataan” digelar Program Studi S2/S3 Kajian Pariwisata, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,  Selasa (26/1/2021) malam.

Wisata Edukasi di Yogyakarta Sangat Terbuka untuk Dikembangan

Alumna S3 Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM ini menilai dengan berkembangnya model pembelajaran yang sangat inovatif saat ini menjadikan wisata edukasi sangat mungkin untuk dikembangkan. Konsep-konsep pembelajaran di ruangan dan hanya dibatasi gedung-gedung dan sekat ruang saat ini sudah berubah.

Kehadiran wisata edukasi ini tentu akan sangat diminati. Wisata edukasi sebetulnya sudah sejak lama telah dilakukan. Dan wisata ini dikenal dengan istilah study tour yang dilakukan secara rutin para pelajar/ mahasiswa. Sehingga mestinya wisata edukasi bisa dikelola dengan baik. “Dengan melihat potensi yang sangat luar biasa, dari sebuah artikel saya membaca wisata edukasi menjadi destinasi wisata yang diminati sangat tinggi di Jakarta dan Bali. Bahkan kalau liburan di DIY ini terlihat dipadati bus-bus wisata yang isinya para pelajar dan siswa-siswa. Ini menunjukkan potensi yang sangat luar biasa,” tunjuk dia.

Bentuk dan jenis pariwisata disebutnya selalu berkembang, dan kini tidak hanya wisata klasik saja. Tetapi telah mengalami pergeseran pada bentuk wisata yang memberikan nilai plus, yaitu mendapatkan ilmu pengetahuan. Wisatawan pun kini menginginkan pulang membawa ‘memorable knowledge’ sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka.

Inilah yang menjadi dasar berkembangnya pariwisata berbasis edukasi. “Sayangnya, di DIY model pengelolaan pariwisata edukasi belum tersedia dengan baik, belum masuk dalam perencanaan maupun peraturan, baik Perda DIY No 1 Tahun 2012 – tentang RIPPARDA DIY 2012-2025. Sehingga pengelolaan yang ada cenderung trial and error, dan memberi hasil yang kurang pasti dan kurang optimal,” kata Ani.

Mengkaji wisata edukasi di Yogyakarta, pembicara mengamati empat destinasi wisata edukasi dengan karakter yang berbeda-beda. Yaitu,  Taman Pintar yang berbasis teknologi, Kraton Yogyakarta yang berbasis budaya, Benteng Vredeburg yang berbasis sejarah dan Museum Biologi yang berbasis untuk matakuliah pembelajaran. Disebutnya, keempatnya menarik tetapi sebagian besar belum menerapkan konsep-konsep pariwisata edukasi.

Misalnya dalam wisata edukasi itu harus menyajikan pengalaman, dan bagaimana paket wisata harus didesain yang bisa menyajikan kelas dan lapangan. Harapannya ada link and match antara yang dipelajari di kelas kemudian ke lapangan, sehingga wisatawan bisa mendapatkan pendalaman materi yang sudah diperoleh.

Menurut Ani, hal tersebut di atas hingga kini belum terbentuk. Banyak pihak belum pernah mengadakan duduk bersama membahas apa-apa yang menjadi kebutuhan sekolah dan mana-mana yang kemudian harus diprovite (dikelola) destinasi wisata.

Kalau itu bisa didesain paket wisata, lanjut dia, wisata edukasi sangat menarik. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak-anak akan komprehensif, memperkuat ilmu yang diperoleh di sekolah. Tetapi yang terlihat sekarang studi tour terkesan anak-anak berjalan sendiri. Walaupun ada beberapa yang terkoordinasi dengan baik, bahkan guide di Kraton menyebut susah mau menjelaskan karena terkadang mereka jalan sendiri. “Ya… pada akhirnya menyerah dan hanya menjelaskan pada mereka yang mau-mau (tanya) saja,” jelas dia.

Ani menyarankan sebaiknya dilakukan pembekalan sebelum melakukan study tour, sehingga muncul sinergi ketika sampai di lokasi. “Jangan sampai anak-anak (wisatawan) tidak mendapat apa-apa dan itu sangat disayangkan,” pesan dia.

Menurut Ani perlu dilakukan konsep tutorial dan exsplorasi, sehingga pelajar pada saat melakukan perjalanan wisata edukasi ada beberapa step yang harus ditempuh. Mereka sebaiknya tidak langsung masuk ke obwis, melihat-lihat, melakukan selfie tanpa mengerti isi dari tujuan wisatanya.

Seharusnya ada tutorial dan eksplorasi, anak-anak diberikan dasar pengetahuan dulu dan disini dibutuhkan pemandu yang atraktif dan komunikatif. Sehingga pelajar memiliki pemahaman awal, kemudian dipersilakan untuk ekplore. Seperti di Benteng Vredeburg, di situ ada diorama-diorama, sehingga jika pelajar tidak tahu alurnya, dan hanya melihat yang hanya disukai maka ia tidak akan mengerti.

Ani menyebutkan dalam wisata edukasi itu ada hidden curricula atau kurikulum tersembunyi. Karenanya perjalanan wisata edukasi perlu dirancang sedemikian rupa sehingga akan berguna untuk memperkuat proses pembelajaran di sekolah. Kalau didesain dengan baik itu akan menjadi kurikulum tersembunyi dan bisa menjadi mata pelajaran tertentu. Aktivitas pembelajaran yang baik, edukasi yang baik yang mendukung pembelajaran mampu memberi retensi atau daya ingat yang tinggi ke anak. “Ingatan edukasi wisata memberi sesuatu yang dalam,  maka akan ada pengalaman-pengalaman yang bisa dibagikan untuk orang lain,” ujar dia. (bams)

Tinggalkan Balasan

error: