Vatikan Dukung PWKI Kampanye Perdamaian

waktu baca 4 menit
Kamis, 17 Nov 2022 07:08 0 46 Bambang

ROMA- Takhta Suci Vatikan menegaskan akan terus memperjuangkan perdamaian antara Ukraina dan Rusia yang berperang hampir satu tahun dan belum ada tanda-tanda berhenti. Oleh karena itu, Vatikan mendukung Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang  berkampanye terwujudnya perdamaian dunia.

Demikian dikemukakan Scretaris Negara Vatikan  Kardinal Pietro Parolin saat menerima delegasi PWKI di kantornya Vatikan, Selasa (15/11/2022).

Sebanyak 18 orang delegasi  PWKI mengadakan kunjungan resmi ke Vatikan dipimpin Mayong Suryolaksono sebagai ketua delegasi dan didampii Penasihat PWKI AM Putut Prabantoro. Kunjungan itu didasarkan pada amanat Pembukaan UUD 1945 tentang perdamaian dunia dan Dokumen Abu Dhabi yang ditandatangani pada Februari 2019.

“Vatikan akan terus memperjuangkan perdamaian di dunia, khususnya di Ukraina. Perang Ukraina sudah berlangsung setahun tapi belum ada tanda-tanda bakal  berakhir, ini sangat memprihatinkan,” tutur Mgr Parolin.

Kardinal Parolin menyatakan Vatikan sangat mendukung langkah PWKI untuk menyebarkan semangat perdamaian dan persaudaraan. Mengingat saat ini perdamaian di dunia sulit dicapai dan bahkan untuk dapat membuka ruang negosiasi.

Menurutnya Vatikan sudah menawarkan diri  kepada kedua belah pihak yang bertikai sebagai poin netral pertemuan atau negosiasi. Namun hingga saat ini belum mendapat tanggapan. “Belum ada tanggapan positif, sementara perang sudah banyak memakan korban,” ucapnya prihatin.

Lebih jauh Kardinal Parolin mengungkapkan jika melihat peta dunia, sebenarnya bukan hanya Ukraina saja yang dilanda perang.

Di beberapa tempat di dunia juga mengalami kondisi atau situasi yang buruk. Karena itu Paus Fransiskus bersama Sheikh Ahmad al-Tayyeb, Imam Besar Al Azhar pada 4 Februari 2019 di Uni Emirat Arab menerbitkan dokumen Abu Dhabi terkait human fraternity atau persaudaraan manusia untuk perdamaian.

Vatikan Dukung PWKI Kampanye Perdamaian

Setelah pandemi Covid-19, tandas Parolin, memang dunia jadi berbeda. Jawaban Gereja Katolik terhadap kondisi ini adalah human fraternity. Itu solusi yang paling tepat untuk kondisi saat ini. “Karena itu kami berterima kasih jika jurnalis Katolik Indonesia (PWKI) memperjuangkan human fraternity,” ucapnya.

Parolin merasa prihatin, wartawan yang seharusnya mendukung perdamaian akhir-akhir ini justru malah sebaliknya membuat kekacauan dengan berita-berita negatif. Mereka menerbitkan berita bohong, hoaks, yang justru menimbulkan konflik dan menjauhkan dari perdamaian.

“Maka tepat sekali jika PWKI memilih tema Human Fraternity sebagai basis perjuangan. Karena, itu memang hal yang seharusnya diperjuangkan oleh wartawan,” ucapnya.

Kepada Delegasi PWKI ke Vatikan, Kardinal Parolin berpesan sama seperti halnya disampaikan Paus Fransiskus. Agar tidak membuat tembok penghalang atau pembatas, tetapi membangun jembatan persaudaraan agar perdamaian tercapai. Salah satunya bekerja sama dengan pihak lain.

Kardinal memahami Indonesia adalah negara dengan pluralisme sangat tinggi. Dengan umat Katolik yang minoritas. Maka persaudaraan menjadi sangat penting untuk terus diperjuangkan.

Setelah PD II dan multilateralisme berakhir, sambung Parolin, semangat untuk berdialog pun terus melemah. Multilateralisme hilang dan berganti dengan interest pribadi. Negara mulai berani angkat senjata untuk mendukung interest pribadi dan egoism negaranya. Nafsu dan kerakusan menjadi nomor satu atau passion yang buntutnya menimbulkan perang.

Di sinilah, ia melihat,  misi jurnalis terutama jurnalis Katolik  untuk mengajak atau mengedukasi masyarakat menjadi orang baik yang bisa melawan nafsu, egoisme dan kerakusan dalam diri meraka. “Saya melihat PWKI punya energi untuk melakukan itu,” tunjuknya.

Kunjungan resmi PWKI ke Vatikan mengambil thema Journalists & Human Fraternity. Dalam penjelasannya kepada Kardinal Pietro Parolin, Putut menegaskan bahwa PWKI yakin meski tidak diketahui kapan,  perang antardua negara itu akan selesai.  Dengan belajar dari runtuhnya Eropa Timur dan Uni Soviet yang melibatkan Vatikan. Namun banyaknya analisa luar negeri yang berbicara tentang perang nuklir, Putut yang juga Taprof bid. Ideologi dan Sosbud Lemhannas RI menjelaskan kampanye perdamaian PWKI dimaksudkan agar perang tidak membesar dan meluas yang melibatkan berbagai negara.

Menurutnya kampanye perdamaian ini sebagai bentuk nyata dari pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945 tentang perdamaian dunia. Setiap warganegara Indonesia harus terlibat dalam perwujudan perdamaian dunia. Dan sebagai orang Katolik, kampanye perdamaian ini didasarkan pada Dolumen Abu Dhabi,” tegas pendiri PWKI itu.

Pada Februari 2019, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syekh Ahmed El Sayyeb di Abu Dhabi menandatangani dokumen Human Fraternity for World Peace and Living Together.

Putut  mengandaikan meski upaya mewujudkan perdamaian seperti menegakkan benang basah, harus ada yang terus menggaungkannya. “Perdamaian lebih baik daripada perang seadil apapun,” pungkasnya. (*/bams)

IKLAN MUBAR

IKLAN SITUBONDO

IKLAN KPU MUBAR

IKLAN KOTA PASURUAN

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN DPRD SIDOARJO

IKLAN PDAM SIDOARJO

IKLAN PASURUAN

IKLAN DPRD MUBAR

error: