Portal Jatim

Terwujudnya Wisata Religi Terpadu, Diantaranya Dinilai Dari Penataan Kawasan PKL Alun-Alun Kota Pasuruan

12
×

Terwujudnya Wisata Religi Terpadu, Diantaranya Dinilai Dari Penataan Kawasan PKL Alun-Alun Kota Pasuruan

Sebarkan artikel ini
Terwujudnya Wisata Religi Terpadu, Diantaranya Dinilai Dari Penataan Kawasan PKL Alun-Alun Kota Pasuruan
Rombongan Dinas Kominfotik dan Wartawan Pasuruan, saat dijamu Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta diruang kantor kerjanya

PASURUAN — Demi terwujudnya wisata religi terpadu, tentu harus dibarengi dengan berbagai upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Pasuruan. Salah satunya soal penataan kawasan Pedagang Kaki Lima (PKL) Kuliner, yaitu untuk menghidupkan fungsi tata ruang kota di Kota Pasuruan.

Mengaca dari daerah lain, tepatnya kawasan Malioboro Kota Yogyakarta, Dearah Istimewa Yogyakata (DIY), merupakan salah satu tempat atau daerah favorit yang kerap menjadi jujukan bagi para wisatawan dari berbagai daerah bahkan hingga luar negeri.

Terwujudnya Wisata Religi Terpadu, Diantaranya Dinilai Dari Penataan Kawasan PKL Alun-Alun Kota Pasuruan
Kondisi aktivitas masyarakat di pedestrian depan pasar Beringharjo

Bahkan Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Kota Pasuruan, bersama Wartawan se Pasuruan Raya, melakukan study banding ke Kota tersebut mulai 18-20 Mei 2023 kemarin.

Kawasan Malioboro, merupakan salah satu area utama yang masuk dalam kunjungan untuk selanjutnya dapat diterapkan di Kota Pasuruan khususnya soal penataan PKL kuliner yang ada.

Adapun beberapa titik atau lokasi yang menjadi kunjungan tersebut diantaranya kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Kominfosan) Kota Yogyakarta, kawasan Malioboro dan museum Vendeburg, lalu ke gedung RRI program 01.

“Alhamdulillah Kota Yogya masih menunjukkan betul-betul smart city, baik mulai kita hadir disini kita masuk melalui ke aplikasi, bahkan sampai kepastian kita menginap di Yogya atau tidak itu tahu dan ini patut ditiru”, ucap Kepala Dinas Kominfotik Kota Pasuruan, Imam Subekti bersama puluhan wartawan, saat bertandang ke kantor Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta. Jumat (19/5) pagi.

Berbicara masalah wisata religi di Kota Pasuruan, saat ini keberadaan Payung Madinah di alun-alun Kota Pasuruan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar daerah terutama para peziarah ke makam KH. Abdul Hamid dan ulama lainnya.

Disisi lain, Pemerintah Kota Pasuruan masih terus memikirkan bagaimana agar wisata religi terpadu di Kota Pasuruan dapat terwujud terutama dalam hal penataan kawasan PKL termasuk lainnya.

“Kota Pasuruan mempunyai semangat juga untuk mengembangkan wilayah di Kota Pasuruan terkait wisata, dan konsep kita di Kota Pasuruan wisata religi. Pak Walikota Gus Ipul dalam hal ini mempunyai cita-cita, bahwa Kota Pasuruan kedepan akan dijadikan Kota Manasiq dan saat ini sudah dibangun payung Madinah (replika)”, imbuhnya.

Oleh karena itu, Diskominfotik dan juga para Wartawan Pasuruan Raya yang ikut dalam kunjungan tersebut tertarik dengan adanya penataan PKL yang ada di sepanjang jalan Malioboro, Kota Yogyakarta lantaran dianggap berhasil.

“Gayung bersambut ada permasalahan baru muncul, yaitu PK Lima dan parkirnya. Lalu kita terbesit untuk mencontoh best practice (praktik terbaik) yang ada di Kota Yogya dalam hal ini kawasan wisata Maliboro yang kami nilai berhasil”, ujar Imam.

Berdasarkan data dari Dinas Kominfosan dan Satpol Kota Yogyakarta, untuk PKL tercatat kurang lebih ada sebanyak 2 ribu. Sementara Kota Pasuruan tidak lebih dari 150 PKL di alun-alun Kota Pasuruan.

Sebagai kota jasa pariwisata, Kota Yogyakarta juga dikenal sebagai Big Community (komunitas besar) bisa dilihat secara komprehensif.

“Data sepanjang Malioboro, tidak lebih dari 18 persen dan yang lain orang dari luar. Kalau Yogya itu konon katanya pembuat angkringan, 90 persen itu orang Klaten. Kalau kita bicara Bentor, gak ada 10 persen orang Yogya”, kata Kepala Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta, dihadapan para tamu dari Kota Pasuruan.

Dikatakan oleh Kepala Dinas Kominfosan Kota Yogyakarta, ada upaya yang lebih pada pendekatan ketika menyinggung soal penataan atau penertiban baik terhadap PKL maupun soal parkir.

“Menata PKL atau parkir sebetulnya menata perkara. Dalam hal penertiban dan penataan, tentu kita harus dengan cara pendekatan humanis dan lebih banyak komunikasi (soft). Kita rangkul sambil makan bareng, mulai dari paguyuban, komunitas, agar tujuan kita tersampaikan dengan baik”, pungkasnya.

Dan ketika apa yang menjadi keinginan pemerintah bisa diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat khususnya dalam hal ini PKL, maka disitulah sebuah kesepakatan menurutnya akan terjadi.

“Kedua, kita meminit eskalasi dan kita tetap pertegas kebijakan itu agar supaya jalan terus dan jangan sampai putus ditengah dijalan. Dan memang sosialisasi ini sudah dilakukan sejak tahun 2014 silam, dan baru terealisasi pada awal 2022 lalu”, Ignatius Tri Hastono.

Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Kominfosan, Ignatius Tri Hastono, Kota Yogyakarta merupakan Kota Jasa Pariwisata, yang mana para pelaku usaha yang ada hingga saat ini adalah mereka mayoritas masyarakat berasal dari daerah luar Kota Yogyakarta.

Dan selain penjagaan yang melibatkan beberapa unsur dari masyarakat, pihak pemerintah juga memberi pagar pembatas terutaka bagi tempat atau titik yang dilarang untuk berjualan.

Bagi para PKL yang dulunya berjualan di depan toko atau sepanjang jalan Malioboro dan sekitarnya, kini sudah ditempatkan di 2 lokasi yang disiapkan oleh pemerintah setempat. Sebagian ada di Teras Malioboro 1 atau pusat UMKM depan Pasar Beringharjo, dan Teras Malioboro 2 bekas gedung Dinas Pariwisata DIY.

Sementara jalan Malioboro dan sekitarnya, saat ini lebih difokuskan bagi pejalan kaki dan tempat santai terutama bagi wisatawan yang berkunjung karena banyak disediakan tempat duduk. (Eko/Ghana)