Portal Jatim

Ternyata Kota Malang Miliki Bantengan yang Dibuat Tahun 1953

740
×

Ternyata Kota Malang Miliki Bantengan yang Dibuat Tahun 1953

Sebarkan artikel ini
Ternyata Kota Malang Miliki Bantengan yang Dibuat Tahun 1953
Bantengan yang saat ini dimiliki Bapak Mulyadi dibuat pada tahun 1953 (Junaedi/Portal Indonesia)

KOTA MALANG  – Ternyata Seni Bantengan sudah ada di Kota Malang sejak 69 tahun lalu, hal tersebut terungkap saat gelaran event Bantengan Ngudal Roso. Event yang Di gelar di Gedung Dewan Kesenian Malang yang sangat akrab dengan seniman dan budayawan Kota Malang. Bantengan yang di beri nama Pathak Putih atau dalam bahasa indonesia Dahi Putih, Minggu (20/03/2022)

Dari tangan Mbah Mulyadi, Mbah Tamsir (almarhum) serta Mbah Gondo lah yang turut dalam pembuatan bantengan pada tahun 1953. Saksi hidup pembuatan bantengan adalah Mbah Mulyadi yang saat ini telah berusia sekitar 91 tahun. Mbah Mul adalah asli warga yang dulu dikenal daerah Mantren, saat ini di Klayatan gang 2 Kecamatan Sukun.

Scroll kebawah untuk lihat konten

Menurut beberapa nara sumber yang bisa ditemui oleh portal-indonesia.com menyebutkan proses pembuatan bantengan ini di prakarsai oleh mbah Thamsir, Mbah Mulyadi yang berasal dari Kemantren dan Mbah Gondo dari daerah Gempol Sukun Kota Malang.

Ada pula yang mengatakan bahwa untuk pembuatan kepala batengan tersebut di buat oleh seseorang yang berasal dari daerah Wagir Kabupaten Malang, dan untuk tanduk bantengan di buat oleh mbah Thamsir dan mbah Mul.

Sedangkan menurut Prayitno (anak dari Mbah Mul) mengungkapkan ” seperti yang pernah di ceritakan oleh bapak saya, bahwa pembuatan bantengan ini memang pada tahun 1953, pada tahun tersebut beliau bersama Mbah Thamsir telah mendirikan perguruan pencak silat yang bernama PPORM serta dulunya bapak saya juga salah satu kader dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang kebetulan partai tersebut berlogo kepala banteng.”

” menurut bapak saya, bantengan ini ditampilkan bersama PPORM pertama kali pada tahun 1954 di hadapan warga Kemantren yang sekarang daerah Kelayatan gang 2. Mbah Thamsir dan bapak saya adalah pendekar pada waktu itu. Hingga saat ini banteng Pathak Putih ini telah direhab sebanyak dua kali, karena kayunya alami kelapukkan. Saya meyakini banteng Pathak Putih dan PPORM ini adalah cikal bakal adanya kesenian pencak dan bantengan di Malang Raya ini.” pungkas pria yang saat ini berusia 55 tahun. (Junaedi)