Terkait Pasang Ikat Merah-Putih Terbalik, Elmas Mandaranrejo Minta Lurah Dipindah

Terkait Pasang Ikat Merah-Putih Terbalik, Elmas Mandaranrejo Minta Lurah Dipindah
Sejumlah Elmas bersama Sekretaris LMPI Jatim, saat diskusi bersama soal Lurah Mandaranrejo.

PASURUAN – Terkait pemasangan pita ikat kepala Merah-Putih terbalik, oleh seorang oknum pejabat publik atau Lurah Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur pada beberapa hari lalu menuai kritik.

Tampak sejumlah perwakilan dari unsur atau Elemen Masyarakat (Elmas) khususnya warga Mandaranrejo, bersama Sekretaris Markas Daerah Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI) Jawa Timur, meminta supaya oknum Lurah ditindak dan meminta maaf ke publik.

Mereka menilai bahwa kejadian tersebut dinilai memalukan serta dapat menimbulkan rasa ketidakpercayaan dan pertanyaan bagi Elmas, soal tingkat rasa nasionalisme yang dimiliki oleh seorang oknum pejabat publik tersebut.

“Terkait penyalahgunaan simbol merah putih di momen hari kemerdekaan RI oleh oknum Kepala Kelurahan Mandaranrejo, tentu ini akan menimbulkan rasa tidak percaya bagi masyarakat itu sendiri. Karena seorang pemimpin seharusnya memberikan contoh yang baik, apalagi masalah rasa nasionalisme”. Kata Sekretaris LMPI Jatim, Rachmad Tjahjono bersama Elmas Mandaranrejo, sembari ngopi bersama (minum kopi).

Terkait Pasang Ikat Merah-Putih Terbalik, Elmas Mandaranrejo Minta Lurah Dipindah
Foto Lurah Mandaranrejo, yang viral lantaran memasang pita merah putih terbalik.

Lebih lanjut Rachmad Tjahjono menegaskan, bahwa rasa nasionalisme harus betul-betul tertanam pada diri warga Indonesia dengan baik dan benar. Karena NKRI, menurutnya merupakan harga mati.

“Rasa nasionalisme tidak bisa di ganggu gugat dan NKRI sudah harga mati khususnya bagi kami. Dan ini harus ada penindakan dari aparat maupun instansi terkait, terlepas sengaja atau tidak sengaja. Karena ini dilakukan oleh seorang pejabat publik”. Tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat setempat dalam hal ini H. Abdul Kodir Syafii, yang mana menganggap bahwa Lurah Mandaranrejo kurang proporsional.

“Pada momen memperingati hari kemerdekaan Indonesia, masak memasang ikat kepala warna yang putih ditaruh diatas dan merah dibawah. Ini sudah menunjukkan kurang proporsional”. Tuturnya.

Abah Kodir nama panggilan akrabnya juga menyampaikan, “Sebenarnya masalah kepala Kelurahan Mandaranrejo, pada waktu itu pangkatnya masih kurang untuk menjabat sebagai Lurah. Belum waktunya dijadikan Lurah, akhirnya timbul persoalan didalam lingkungan Mandaranrejo salah satunya seperti yang sekarang ini”. Imbuhnya.

Adapun mengenai janji Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang akan memindah Lurah Mandaranrejo, sejauh ini Abah Kodir bersama warga Mandaranrejo lain terus menagih janji tersebut.

“Sesuai dengan petunjuk dari Gus Ipul, bahwa Gus Ipul sendiri akan mengambil sikap yang tegas. Kalau tidak bulan delapan (Agustus) atau sembilan (September) Lurah ini katanya akan dipindah, walaupun secara lisan disini warga menagih janji dan masih memegang janji itu”. Ujarnya.

Sementara menyinggung soal dugaan Lurah Mandaranrejo meminta dukungan kepada seluruh RT diwilayah setempat agar bisa diterima warga, Abah Kodir menyayangkan hal itu dan menganggap tindakan tersebut tidak dibenarkan.

“Jadi tolonglah kepada Wali Kota, apa sih beratnya kepada Lurah Mandaran. Kalau Lurah sudah ditaruh di sana (Mandaranrejo) dan posisinya sudah benar, kenapa harus mencari dukungan kepada seluruh RT supaya minta didukung dan ini sudah tidak benar. Sehingga pola kerjanya jadi bingung”. Pungkas Abah Kodir.

Begitu juga seperti disampaikan oleh Muslimin salah satu warga Mandaranrejo terkait upaya Lurah minta dukungan ke RT/RW, Dirinya menilai tindakan itu kurang etis.

Selanjutnya meminta kepada Wali Kota Gus Ipul agar Lurah Mandaranrejo diganti atau dipindah, sesuai dengan janji yang pernah diucapkan khususnya kepada warga Mandaran.

“Kalau menurut pendapat saya secara pribadi, ini tidak logis. Kalau memang beliaunya (Lurah) merasa benar, kenapa meminta dukungan ke RT/RW untuk menguatkan posisinya di Mandaran. Ya terus terang aja, Pak Lurah ini sudah menunjukkan sikap yang kurang etis. Intinya saya juga menagih janji, apa yang sudah diucapkan Gus Ipul ditepati”. Ucap Muslimin.

Menanggapi persoalan pemasangan pita Merah-Putih yang di ikat terbalik di bagian kepala oleh seorang oknum Lurah, dalam hal ini Camat Panggungrejo, Kota Pasuruan, Senedi nama panggilan akrabnya akan memanggil Lurah bersangkutan dalam waktu dekat.

“Kaitan dengan pemasangan pita yang terbalik, secepatnya saya akan memanggil yang bersangkutan dan minta klarifikasi”. Tutur singkatnya.(Eko/Ghana)

Tinggalkan Balasan

error: