Tanam Kopi di Merapi, Sultan: SG Bisa Dimanfaatkan, Bukan untuk Ditambang

waktu baca 4 menit
Minggu, 25 Sep 2022 22:23 0 5 Bambang

SLEMAN – Gubernur DIY Sri Sultan HB X kembali mengingatkan soal penghentian aktivitas penambangan  pasir di lereng Gunung Merapi serta mengembalikan kelestarian lingkungan di kawasan tersebut.

“Gunung kembali ke gunung. Artinya tidak ada penambangan lagi karena itu merusak lingkungan,” tandas Sultan pada Gerakan Tanam Kopi di Lereng Merapi Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (24/9/2022).

Tanah Sultan Ground (SG) yang (kemarin-Red) tambang itu namanya mencuri. “Jangan diulangi. Tanah SG (Tanah Kasultanan-Red.) boleh dimanfaatkan, tapi jangan ditambang,” tegas Ngarso Dalem.

Pada kesempatan tersebut selain melakukan penanaman pohon kopi. Juga menyerahkan secara simbolis 50000 bibit tanaman kopi dari Kementerian Pertanian RI kepada perwakilan dari kelompok- kelompok tani kopi di kawasan lereng Merapi.

Sultan berharap dorongan yang diberikan Pemda DIY bisa membuat masyarakat yang tinggal di lereng Merapi memiliki mata pencaharian. Khususnya di bidang pertanian. Sehingga selain perekonomian, mereka meningkat juga tetap dapat selaras dengan kelestarian lingkungan.

“Jangan lagi (berpikir) menanam kopi untuk menambah penghasilan, karena asumsi (menganggap kopi hanya sebagai penghasilan sampingan) seperti itu membuat tanaman (kopi) tidak dirawat sungguh- sungguh,” pinta Sultan.

Pada kesempatan yang sama, putri sulung Sultan HB X, GKR Mangkubumi yang hadir di acara itu menyambut baik pembagian bibit tanaman kopi kepada masyarakat tersebut.

Diharapkan tanaman kopi yang ada di Cangkringan tersebut bisa semakin luas. Masyarakat bisa mengambil manfaatnya.

Menurut Gusti Mangku, sapaan GKR Mangkubumi keberadaan kopi asal lereng Merapi sebenarnya sudah dikenal luas. Namun, lanjutnya, permintaan pasar akan kopi Merapi saat ini masih sulit dipenuhi karena keterbatasan produksi.

Hari itu ada penambahan 50000 bibit pohon kopi. Diharapkan setiap tahun akan ada terus, bahkan jumlahnya lebih banyak lagi.

Tanam Kopi di Merapi, Sultan: SG Bisa Dimanfaatkan, Bukan untuk Ditambang

GKR Mangkubumi dapat RM Marrel dan Wabup Sleman Danang Maharsa (Ist)

Jadi memaksimalkan lahan yang ada di (lereng) Merapi ini untuk (ditanami) kopi. Kopi Merapi sebenarnya sudah terkenal, tapi kapasitas produksinya yang belum mendukung. “Mudah- mudahan dengan gerakan seperti ini (produksi) kopi Merapi bisa lebih banyak. Merapi juga bisa lebih hijau. Kemudian yang paling penting, hal ini adalah salah satu alih profesi masyarakat dari penambang (pasir) ke petani kopi. Karena kita semua juga membutuhkan (ketersediaan) air yang baik. Kalau (tanah) terus ditambang kan nanti airnya nggak ada” lanjut Gusti Mangku.

Senada, pegiat lingkungan RM Gustilantika Marrel Suryokusumo mengapresiasi dukungan yang diberikan Kementerian Pertanian RI. Dengan memberikan bantuan bibit pohon kopi kepada para petani yang ada di lereng Merapi.

Bantuan yang diberikan berupa bibit tanaman kopi tersebut disebutnya sesuai dengan program  Ngarso Dalem, yakni “Gunung bali Gunung”. Bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk membantu perekonomian masyarakat,” jelas Marrel.

Cucu Sultan HB X tersebut menambahkan lingkungan di lereng Gunung Merapi banyak yang rusak akibat aktivitas penambangan. Menurut Marrel, kegiatan pembagian bibit tanaman kopi tersebut merupakan aksi nyata Pemda dan Kraton Yogyakarta serius menggarap permasalahan lingkungan dan memfasilitasi alih profesi bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi yang sebelumnya terlibat di aktivitas tambang.

Harapannya kedepan aksi seperti ini bisa terjadi terus menerus dan jangan sampai oknum- oknum perusak lingkungan ini bisa berjalan bebas di Yogya. (Lereng gunung) Merapi adalah kawasan penangkap air. Jangan sampai dalam 20 sampai 30 tahun kedepan Yogya kesulitan mendapatkan air.

Marrel berharap, generasi muda yang ada di Yogya lebih memiliki pemahaman  dan  bisa mulai mengikuti kegiatan- kegiatan penyelamatan lingkungan.

“Jangan sampai teman- teman yang selama ini bekerja atau sudah aktif di bidang pertanian surut semangatnya karena ada oknum- oknum yang terus menerus merusak lingkungan. Kita nggak mau itu terjadi di Yogya. Kita nggak mau lingkungan di Yogya tergerus terus- menerus. Kita nggak mau oknum- oknum itu terus ada di masa depan,” tandas Marrel.

Dilain pihak Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyatakan pihaknya berkomitmen untuk mendukung penuh program Sultan HB X dalam menghijaukan kembali lingkungan lereng Gunung Merapi.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari melanjutkan dawuh Ngarso Dalem. Yang utama, adalah memberikan kegiatan alternatif bagi warga. Gunung bali Gunung. Ekosistem lereng gunung Merapi sebagai penyangga bagi DIY ini akan kita pelihara,” kata Danang. (*/bams)

IKLAN MUBAR

IKLAN SITUBONDO

IKLAN KPU MUBAR

IKLAN KOTA PASURUAN

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN BONDOWOSO

IKLAN DPRD SIDOARJO

IKLAN PDAM SIDOARJO

IKLAN PASURUAN

IKLAN DPRD MUBAR

error: