Tahun 2047 Waduk Kedung Ombo Tak Berfungsi?

  • Bagikan
Tahun 2047 Waduk Kedung Ombo Tak Berfungsi?
Waduk Kedung Ombo (Foto : Suprapto/Portal Indonesia)

KUDUS – Pada akhir tahun 2047 posisi waduk Kedung Ombo (Kdo) diperkirakan tidak akan berfungsi sebagai mestinya. Akibat tingkat sedimentasi atau pelumpuran yang begitu tinggi. Sedang penyumbang terbesar sedimentasi dari erosi lahan sebesar 77 persen.

Hal itu merupakan hasil penelitian Rahmat Taufik Setiaji dan Nanda Melyadi Putri, dari Program Studi Teknik Sipil Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Teknologi Yogyakarta 2020

Berdasarkan hasil analisis pengaruh sedimentasi terhadap umur waduk Kdo dengan menggunakan metode kapasitas tampung mati (dead storage) mendapatkan pengaruh rata-rata sedimentasi terhadap umur waduk sebesar 2,72% tiap tahunnya.

Atau sedimen sedimen yang mengendap pada tampungan mati waduk Kdo sebesar 1,47 juta m³ per tahun . Dan di perkirakan tampungan mati waduk penuh karena adanya endapan sedimen pada tahun 2047

Sedang Wakil Presiden Jusuf Kalla khawatir dengan penurunan usia waduk Kdo dari sebelumnya 100 tahun saat dibangun menjadi 49 tahun pada pengukuran dua tahun lalu. Alasannya, waduk yang dibangun pada tahun 1989 silam dengan biaya besar dan pengorbanan masyarakat yang juga besar itu bisa menjadi tidak optimal.

“Oleh sebab itu, harus dilakukan berbagai upaya penurunan laju sedimentasi. Memang belum terlalu mengkhawatirkan, tetapi jangan dibiarkan,” ujar Wapres saat meninjau Waduk Kedung Ombo, Jumat (5/12/2014)

Kepala Balai Besar Wilayah Pamali Juwana Kementerian PU Bobby Prabowo mengatakan, laju sedimentasi Waduk Kedung Ombo per tahun 2,74 meter per kubik dan volume sedimentasi kini mencapai 14,59 juta meter per kubik.

“Akibatnya, dengan volume yang semula 723,16 juta meter per kubik pada tahun 1989 dan usia diperkirakan 100 tahun, kini turun volume 688,41 juta pada 2012 dan usianya turun menjadi 49 tahun,” ujar Bobby. Namun, kata Bobby, hal itu masih belum membahayakan.

“Memang bahaya jika kita diamkan. Tetapi, kita kan akan hentikan laju sedimentasinya, di antaranya dengan pengurangan keramba apung dan pengambilan air,” tutur Bobby.

Lalu berdasarkan data yang dihimpun Portal Indonesia per Minggu ( 14/11/2021) dari laman Kantor Balai Pengeloaan Sumber Daya Alam ( BPSDA) Serang Lusi Juwana (Seluna) isi ( volume) air waduk Kdo tinggal 263,4 juta meter kubik.

Tahun 2047 Waduk Kedung Ombo Tak Berfungsi?

Padahal daya tampung waduk Kdo yang diresmikan Presiden Soeharto 18 Mei 1991 ini mencapai 723 juta meter kubik. Dan sejak diresmikan sampai dengan saat ini, belum pernah lagi mampu menampung air sebanyak itu. Namun hanya berkisar antara 600 juta meter kubik saja.

Selain itu pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air ( P3A) wilayah waduk Kdo juga telah melaporkan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tentang maraknya pembegalan air waduk di wilayah Kabupaten Grobogan, Kudus dan Demak. Terbesar di wilayah Grobogan. Namun juga belum ada tindakan nyata untuk mengatasi atau mencari solusinya.

Waduk Kdo adalah waduk terbesar di Jawa Tengah. Berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Grobogan, Sragen dan Boyolali. Dibangun pada tahun 1985- 1989 di atas lahan seluas 5.268 hektar.

“Menenggelamkan” 37 desa yang tersebar di tujuh Kecamatan. Namun mampu mengairi mengairi lahan (sawah) baku seluas 60.000 — 63.000 hektar. Sebagian besar berada di wilayah Demak ( 29.561 hektar), disusul Grobogan (13.676 hektar), Pati (9.826 hektar), Kudus (6.949 hektar) dan sebagian kecil ( kurang dari 70 hektar) masuk wilayah Jepara. Ke tiga kabupaten tersebut berubah menjadi sentra pangan — khususnya beras/padi di Jawa Tengah.

Selain itu waduk Kdo juga menjadi salah satu obyek wisata. Terutama bagi warga yang tinggal di Kabupaten Grobogan, Sragen, Boyolali, Demak, Pati, Kudus, Jepara . (Suprapto)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: