Portal DIY

Sejak Dini Taman Kanak-kanak Pius X Magelang Dikenalkan Keberagaman

12
×

Sejak Dini Taman Kanak-kanak Pius X Magelang Dikenalkan Keberagaman

Sebarkan artikel ini
Sejak Dini Taman Kanak-kanak Pius X Magelang Dikenalkan Keberagaman

 

YOGYAKARTA – Sejak usia dini anak- anak dikenalkan dengan keberagaman. Kelompok B Taman Kanak-kanak Pius X Magelang melakukan kunjungan ke RA Masyitoh 4 di Jalan Beringin 1, Tidar Krajan Kota Magelang, Jateng, Selasa (16/5/2023).

Ada sejumlah 33 siswa beserta 6 guru pendamping yang ikut serta dalam kunjungan ini,  dalam rangka silaturahmi Idul Fitri, sekaligus sebagai sarana mengenalkan para siswa akan keberagaman di Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak TK dari kedua sekolah diajak untuk berdinamika bersama melalui media bermain. Anak-anak dengan semua kepolosannya ternyata mampu berbaur dengan cepat. Suasana sangat cair dan akrab.

Setelah sesi perkenalan, para siswa diajak untuk bernyanyi bersama serta bermain dalam kelompok-kelompok kecil dengan anggota yang berasal dari kedua sekolah. Setiap kelompok didampingi oleh guru pendamping.

Yang paling menarik adalah sesi dimana dalam tiap kelompok tersebut anak-anak diminta merancang satu penampilan seni. Anak-anak yang belum pernah berjumpa sebelumnya dan kebetulan berbeda latar belakang agama ternyata mampu berdialog dan bekerja sama dengan cara mereka sendiri.

Mereka mampu menyepakati tampilan apa yang akan disajikan. Ada yang menampilkan kreasi tepuk, menyanyi, hingga menari. Di penghujung acara, anak anak menyantap hidangan khas Idul Fitri yakni lontong opor dan sup buah yang disajikan tuan rumah. Sebelumnya mereka berdoa dulu bergantian, secara Islam dan Katolik.

Kepala TK Pius X Magelang Retno Purbo Sari, S.Pd menjelaskan, kegiatan kunjungan ke lembaga pendidikan yang berbeda latar belakang agama ini baru pertama kalinya dilaksanakan oleh TK Pius X Magelang. Sebagai sekolah yang siswanya nyaris homogen yakni 95 persen lebih beragama Kristiani, khususnya Katolik, menjadi penting untuk mengenalkan nilai keberagaman sejak dini.

Harapannya, pengalaman perjumpaan dengan banyak orang yang beragam menjadi bekal bagi para siswa agar di masa depan tidak kikuk atau bahkan antipasti jika berelasi dengan mereka yang berbeda latar belakang, baik suku, agama, maupun identitas sosial lain.

Retno Purbo Sari menambahkan, gagasan pengenalan keberagaman ini sebenarnya sudah mulai muncul sekitar tahun 2019 seusai ia beserta beberapa rekan pendidik mengikuti pelatihan pendidikan keberagaman yang diselenggarakan oleh Komunitas SRILI (Srikandi Lintas Iman) Yogyakarta.

Pada pelatihan tahap berikutnya, gagasan ini makin mendapatkan peneguhan maupun pengayaan wawasan, namun realisasinya baru terlaksana saat ini setelah kegiatan pembelajaran berjalan lebih normal paska meredanya pandemi.

Semula Retno dan kawan-kawan merasa khawatir kalau tawaran mereka untuk melakukan kunjungan ke RA Masyitoh 4 ini kurang mendapat tanggapan yang diharapkan. Namun ternyata sambutannya justru di luar ekpektasi. “Baik Kepala Sekolah, para guru, maupun para siswa RA Masyitoh 4 menyambut kami dengan sangat baik, hangat, dan bersahabat. Dukungan dan kerja sama yang baik juga kami dapatkan dari para orangtua siswa TK Pius X Magelang” tutur Retno.

Kepala Sekolah RA Masyitoh 4 Nurkartika Rahmawati, S.Pd menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya acara ini sangat baik sebagai media pembelajaran keberagaman bagi para siswa. Semangat toleransi bisa ditumbuhkan sejak dini.

Sejak Dini Taman Kanak-kanak Pius X Magelang Dikenalkan Keberagaman

“Ini sesuai dengan semangat moderasi beragama yang digaungkan oleh Kementerian Agama, yang juga telah ditekankan pada lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag,“ imbuh Nurkartika.

Menurut Nurkartika, selama ini sekolahnya telah melaksanakan kegiatan pengenalan keberagaman melalui kunjungan ke beberapa tempat ibadah di sekitar kawasan Alun alun Kota Magelang, namun perjumpaan dan dinamika langsung bersama siswa lain yang berbeda latar belakang agama memang baru pertama kali ini dialami.

“Ternyata anak-anak tidak mengalami kekikukan dalam berelasi dengan kawan-kawan baru yang berbeda atributnya maupun cara berdoanya.” lanjut Nurkartika.

Baik Retno Purbo Sari maupun Nurkartika berpandangan bahwa kegiatan ini sangat baik untuk dilanjutkan bahkan dikembangkan melalui kunjungan balasan ataupun kegiatan bersama yang memiliki nilai pembelajaran misalnya menanam pohon bersama, mengolah sampah, dan sebagainya.

Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam hal pembelajaran keberagaman sejak dini. Agar di masa depan tumbuh insan-insan yang menjunjung semangat toleransi, cinta damai, dan rukun bersatu.

Romo Martinus Joko Lelono Pr mengapresiasi dua sekolah di Magelang  yang telah memulai langkah baik ini. (bams)