Salurkan Pekerja Migran Ilegal ke Malaysia, Wanita Asal Banyumas Diamankan

Salurkan Pekerja Migran Ilegal ke Malaysia, Wanita Asal Banyumas Diamankan
YUN (tengah), pelaku penempatan tenaga migran Indonesia ilegal saat menjalani pemeriksaan di Satreskrim Pokresta Banyumas. (Ist)

PURWOKERTO|portal-indonesia.com– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Unit IV Polresta Banyumas berhasil mengungkap kasus penempatan tenaga migran Indonesia secara ilegal dengan negara tujuan Malaysia. Seorang wanita berinisial YUN (42) warga di Kecamatan Patikraja, Banyumas yang diduga menyelundupkan tenaga kerja migran ilegal diamankan.

Dikatakan Kapolresta Banyumas, Kombes Pol M Firman Lukmanul Hakim, SH, SIk, MSi melalui Kasat Reskrim, Kompol Berry, ST, SIk, kasus tersebut bermula saat YUN memberangkatkan LSA (22), warga Kecamatan Kemranjen, Banyumas untuk bekerja sebagai ART di Malaysia. Namun ternyata prosesnya ilegal, lantaran YUN membuatkan pasport kunjungan untuk korban.

“Untuk mengelabui imigrasi, YUN mengatakan bahwa korban hanya pergi berlibur ke Malaysia dengan menunjukkan tiket pulang pergi,” terang Kasat Reskrim, Kamis (25/2) sore.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kasus tersebut terjadi di salah satu perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia yang berkantor di salah satu perumahan di Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, pada bulan Januari 2020, dimana kantor tersebut juga tempat tinggal terduga pelaku.

YUN sendiri selama ini merupakan kepala cabang perusahaan pengerah tenaga kerja migran ke luar negeri.

Sebelum diberangkatkan ke Malaysia, korban LSA terlebih dahulu menginap di rumah YUN selama satu minggu dan diberikan pelatihan terkait adat kebiasaan orang Malaysia maupun bahasa yang digunakan di negara itu.

Setelah itu, YUN mendampingi korban untuk berangkat melalui Bandara Yogyakarta menuju Batam dan selanjutnya menggunakan kapal ke Malaysia

Sesampainya di Malaysia, lanjut Berry, YUN bersama korban menemui seseorang yang merupakan kenalan pelaku dan akhirnya LSA diantar ke rumah seseorang untuk dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga dengan upah sebesar 6.000 ringgit atau setara Rp 20 juta.

Namun sejak bulan Mei 2020, korban tidak bisa dihubungi keluarga dan tidak dapat dipulangkan ke Indonesia dengan alasan negara itu sedang menerapkan “lockdown” ke luar negeri.

“Pihak keluarga bersama pengacaranya sudah beberapa kali melakukan mediasi dengan perusahaan yang memberangkatkan LSA namun korban belum juga bisa dipulangkan dengan alasan Malaysia sedang menerapkan ‘lockdown’,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, keluarga korban melaporkan kasus tersebut ke Polresta Banyumas pada pertengahan bulan Januari 2021 yang ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan mengamankan YUN.

Saat ini, YUN beserta barang bukti berupa satu set laptop, satu unit telepon pintar, serta satu bundel fotokopi kartu keluarga, kartu tanda penduduk, ijazah SD hingga SMA, dan biodata LSA serta satu bundel persyaratan pengajuan pasport kunjungan atas nama korban telah diamankan di Markas Polresta Banyumas guna penyidikan lebih lanjut.

“YUN bakal dijerat Pasal 81 Jo Pasal 69 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Sementara untuk korban atas nama LSA, hingga saat ini masih berada di Malaysia dan sedang diupayakan untuk pemulangan ke Indonesia,” pungkasnya. (KJ)

Tinggalkan Balasan

error: