Rencana Pendidikan Tatap Muka di Sleman Dibatalkan

Rencana Pendidikan Tatap Muka di Sleman Dibatalkan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Drs. Edy Widaryana (Foto : Brd / Portal Indonesia)

SLEMAN|Portal-Indonesia.com – Meski Pemkab Sleman sudah menetapkan mulai tanggal 1 Februari mendatang, pelaksanaan pendidikan S-D dan S-M-P di Sleman akan mulai dilaksanakan secara langsung atau tatap muka, namun rencana tersebut terpaksa dibatalkan.

Sebab, kasus penderita covid-19 di Sleman yang semula sudah mereda, belakangan ini justru terus melambung. Sehingga bila dipaksakan, dikawatirkan akan terjadi klaster baru penyebaran covid-19 di lingkungan pendidikan.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana, Jumat (29/1/2021), untuk rencana pelaksanaan pendidikan tatap muka di Sleman, hampir semua SD dan SMP di Sleman sudah menyiapkan berbagai sarana prasarana protokol kesehatan.

Diantaranya, sudah memasang sejumlah tempat cuci tangan pakai sabun atau hanzaniteser, menyediakan alat penguikur suhu dan di berbagai ruang sekolah juga sudah sering disemprot desinfektan.
Bahkan, letak atau penempatan tempat duduk siswa, juga sudah dijarangkan, dengan harapan, jarak tempat duduk siswa tetap aman.

Selain itu, di berbagai ruang kelas telah dipasang bener bertuliskan peringatan untuk semua pihak agar selalu melaksanakan protokol kesehatan. Sehingga dengan keberadaan sarana protokol kesehatan yang lengkap tersebut, hampir semua sekolah jenjang pendidikan SD dan SMP di Sleman sudah siap melaksanakan pendidikan tatap muka.

“Namun karena jumlah warga Sleman yang terpapar covid-19 jumlahnya terus meningkat, hingga pemerintah penerapkan situasi Pembatasan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM), maka rencana pelaksanaaan pendidikian tatap muka di semua jenjang pendidikan di Sleman, terpaksa ditunda hingga batas waktu yang belum ditentukan,” kata Edy Widaryana.

Untuk itu, semua sekolah di Sleman masih diwajibkan melaksanakan pendidikian secara daring. Bila ada sekolah melanggar ketentuan ini, maka pihak pengelola atau kepala sekolah bersangkutan akan dikenai sanksi setimpal.

Diakui, semua guru dan siswa di Sleman sudah merasa bosen melaksanakan pendidikan secara daring yang waktunya sudah berkangsung hampir satu tahun ini. Selain itu, semua pihak tentu juga menyadari bahwa hasil pendidikan secara daring tidak akan lebih baik jika dibanding dengan pendidikan luring atau tatap muka.

Namun, karena situasi yang tidak memungkinkan, terkait terus meningkatnya jumlah penderita covid-19 belakangan ini, maka meski pelaksanaan pendidikan daring itu terasa berat dan merepotkan semua pihak, namun karena situasi yang belum memungkinkan terkait masih tingginya kasus pandemi covid 19 ini, maka pelakasanaan pendidikan di semua jenjang pendidikan di Sleman masih tetap dilaksakana secara daring. (Brd)

 

Tinggalkan Balasan

error: