Portal Sumsel

Polemik Aset 401 Hektar Lahan Sawit Berlarut-larut, Masyarakat Pali Geram

12
×

Polemik Aset 401 Hektar Lahan Sawit Berlarut-larut, Masyarakat Pali Geram

Sebarkan artikel ini
Polemik Aset 401 Hektar Lahan Sawit Berlarut-larut, Masyarakat Pali Geram
Lokasi perkebunan sawit di Simpang Raja, Kelurahan Handayani Mulya, Kecamatan Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali)

PALI SUMSEL. portal-indonesia.com – Polemik pengelolaan berikut aset lahan kebun sawit seluas ratusan hektar di Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya, Kecamatan Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), sejak 5 tahun lalu hingga saat ini, Sabtu (6/5/2023), belum ada titik terang dan kepastian.

Informasi terhimpun portal-indonesia.com, bahwa mulai tahun ke-3 hingga tahun ke-5 semenjak Kabupaten Pali resmi berdiri pada tahun 2013 silam, aset lahan perkebunan sawit di Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya seluas 401 hektar belum diserahkan oleh Pemda Kabupaten Muara Enim kepada Pemda Kabupaten Pali.

Aset dan lahan perkebunan sawit itu hingga saat ini masih tetap dikelola oleh Perusda Kabupaten Muara Enim.

Menurut masyarakat di Kabupaten Pali, bahwa Pemda Kabupaten Pali yang paling berhak untuk memiliki dan mengelola aset berikut lahan perkebunan sawit tersebut.

“Sudah jelas bahwasannya 401 hektare perkebunan sawit yang dikelola oleh Pemdas Agro Citra Buana itu berada di Kabupaten Pali, tepatnya di Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya. Artinya apa, pengelolaan kebun sawit itu merupakan hak dari kabupaten PALI,” tegas Mulyadi Asoy, tokoh masyarakat kecamatan Abab, Kabupaten Pali.

Polemik Aset 401 Hektar Lahan Sawit Berlarut-larut, Masyarakat Pali Geram
Mulyadi Asoy, tokoh masyarakat kecamatan Abab, Kabupaten Pali.

Sosok laki-laki yang dikenal banyak masyarakat dengan sebutan Singa Abab itu menilai ada unsur kesengajaan yang diduga dilakukan oleh oknum pejabat pemerintah tertentu dari luar daerah yang menginginkan tetap mengelola kebun sawit tersebut.

“Kalau memang tidak rela kebun sawit itu dikelola oleh Pemkab Pali, tolong cabut saja batang sawitnya, agar lahan seluas 401 hektare itu bisa dikelola dan bahkan bisa membawa kesejahteraan untuk masyarakat kabupaten Pali,” tegas Mulyadi Asoy.

Lebih lanjut Mulyadi Asoy mengatakan, kabupaten Pali saat ini sudah masuk usia 10 tahun. Namun herannya, perkebunan sawit itu masih tetap dikelola oleh Perusda milik kabupaten luar dan belum diserahkan kepada Pemda Kabupaten Pali.

“Hal ini jelas bahwa Pemkab Muara Enim telah mengangkangi UU Nomor 7 Tahun 2013 tentang pembentukan kabupaten Pali. Kalau hal ini juga tidak diindahkan, maka jangan salahkan kami untuk mengambil paksa aset tersebut,” tambahnya.

Mulyadi Asoy juga menegaskan, jika masalah ini (pengelolaan kebun sawit yang berada di Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya.red) terus berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan masyarakat Kabupaten Pali akan melakukan aksi.

“Jika masih belum ada kejelasan hingga pertengahan bulan nanti, ribuan masyarakat kabupaten Pali bakal mendatangi kantor bupati yang berada di kabupaten tetangga itu,” tegas Mulyadi Asoy. (Lidian Heri)