Persiku Tersingkir, Harus Evaluasi Total

Persiku Tersingkir, Harus Evaluasi Total
Tim Persiku Kudus Macan Muria di depan supporternya (Foto : Suprapto/Portal Indonesia)

KUDUS – Tragis ! Persiku Macan Muria Kudus tersingkir di babak awal Kompetisi Liga 3 Provinsi Jawa Tengah. Setelah dikalahkan PSIP Pemalang 2-1 di Stadion Mochtar Pemalang Sabtu ( 6/11/2021).

Meski masih menyisakan satu kali laga melawan BJL 2000 Semarang. Sebab, tim kebanggaan Kota Kretek ini sudah bertanding tiga kali, namun hanya memperoleh satu nilai. Dua kali kalah dan satu kali seri.

Sedang PSIP dipastikan melenggang ke babak 10 besar, setelah mengantungi nilai 9. Dan pendampingnya Persikap Kabupaten Pekalongan yang telah mengoleksi nilai 7 dan masih menyisakan satu kali laga.

Apapun hasilnya menang atau kalah tidak mungkin terkejar tim Persikaba, BJL 200 maupun Persiku.

Kekalahan Persiku di babak awal atau penyisihan grup ini, tergolong langkah mundur. Mengingat pada Kompetisi Liga 3 sebelumnya 2019/2020 masih mampu lolos ke babak ke dua. Pada saat itu Persiku ditangani pelatih papan atas Subangkit dan didukung dana segar sekitar Rp 3 miliar.

Sebenarnya selepas Subangkit gagal mempromosikan Persiku ke Liga 2, tim yang berjuluk keren Macan Muria ini ditangani Hartono Ruslan. Mantan pemain Persiku yang sempat menjadi pemain di klub klub besar dan juga yang terakhir menjadi pelatih di Sriwijaya FC Palembang.

Dia sempat di kontrak dan melatih Persiku, saat tim ini di bawah manejer Sunarto . Sedang Ketua Asosiasi Kabupaten ( Askab) /PSSI Kabupaten /Kota di tangan Sutrisno. Lalu sebagai Ketua KONI dipegang Antoni/Anton.

Namun akibat terjadi kisruh di tingkat pimpinan KONI yang berujung Anton digantikan Imam Triyanto, maka manajer Persiku juga digantikan Ardi . Begitu pula pelatihnya beralih ke tangan Cuncun Sulistyo.

Ardi dikenal sebagai pengusaha dan baru kali pertama menjadi manajer Persiku. Sementara Cuncun sejak remaja sudah menggeluti sepakbola. Juga dikenal sebagai pemain Persiku dan pelatih Persiku Yunior.

Evaluasi total
Kegagalan di awal kompetisi kali ini sebaiknya segera ditindak-lanjuti dengan evaluasi total. Mengingat nama besar Persiku yang pernah berkibar di persepakbolaan nasional.

Setelah mampu berkiprah di Divisi Utama ( saat itu sekitar 1989/1990) dan salah satu pemainnya , yaitu Edy Mulyono sempat dipanggil mengikuti seleksi pemain nasional.

Namun kenyataannya untuk saat ini pamor Persiku anjlok. Kekuatan persepakbolaan di Jawa Tengah memang sudah mulai beralih dari wilayah timur (PSIR Rembang yang juga sempat menghuni di Divisi Utama, Persiku) ke wilayah barat. Seperti Cilacap. Tinggal Persijap Jepara yang masih mampu bertahan di Liga 2.

Menurut pengamatan Portal Indonesia, salah satu penyebab terpuruknya Persiku karena amburadulnya kompetisi. Sangat banyak anggota/klub Persiku, yaitu lebih dari 30. Tapi sebagian besar tidak memiliki pelatih- apalagi pelatih bersertifikat. Tidak punya lapangan sendiri. Tidak punya jadwal rutin latihan hingga uji coba-latih tanding dengan tim lain.

Hal ini disebabkan Askab Kudus nyaris tidak berfungsi. Terkecuali hanya “ bermain” dengan anggaran yang rutin setiap tahunnya digelontorkan pemerintah kabupaten- melalui APBD. Begitu pula KONI yang menaungi Askab.

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah peran pemkab- lebih khusus kepada figur “sang bupati” apakah “ senang atau tidak senang” sepakbola. Termasuk tentunya kalangan pengusaha papan atas.

Salah satu buktinya, ketika Persiku ditangani PT Djarum berhasil melesat ke Divisi Utama. Menghasilkan sejumlah pemain yang mampu menjadi pemain di klub papan atas. Seperti Bambang Harsoyo dan Agus Santiko.

Termasuk pendahalunya Amir, pemilik pabrik rokok kecil, namun didukung penuh pabrikan kelas atas di Kudus, yang untuk kali pertama menerapkan sepakbola profesional. Dengan mendatangkan sejumlah pemain dari Jawa Timur (antara lain Hadi Ismanto, Efendi, Hartono Ruslan) .

Juga secara rutin ngampirke —mengundang klub papan atas untuk bermain dengan Persiku- yang saat itu baru memiliki lapangan sepakbola utama di Ploso — yang saat ini dijadikan Pasar Bitingan.

Semua pihak yang terkait dengan Persiku juga harus menyadari dan mengakui , persekbolaan di Kota Kretek yang berpenduduk sekitar 800.000 jiwa ini sudah jauh tertinggal di banding daerah lain- yang semula dipandang sebelah mata.
Lalu harus berani pula mengambil sikap dan tindakan yang radikal. Kembali memulai dari titik nol lagi. (Suprapto)

Tinggalkan Balasan

error: