Surabaya, portal-indonesia.com — Persebaya Surabaya terus menunjukkan komitmennya dalam membangun skuad yang tidak hanya kompetitif untuk musim ini, tetapi juga berkelanjutan untuk masa depan. Klub kebanggaan Kota Pahlawan tersebut secara resmi mendatangkan gelandang muda berbakat, Rizki (19), dari klub pengembangan talenta lokal.
Pemain bernama lengkap Rizki Pratama Sumitro ini merupakan produk asli akademi sepak bola Surabaya. Ia memulai perjalanan karier junior di SSB Tunas Jaya sebelum promosi ke level senior. Di usianya yang baru 19 tahun, Rizki sudah mencuri perhatian dengan statistik impresif di pentas Liga 2 musim lalu, di mana ia mencatatkan tiga gol dan lima assist dalam 15 penampilan.

Rizki memiliki karakteristik yang sangat sesuai dengan filosofi permainan arsitek teknis Persebaya, David Arturo. Kemampuannya dalam mengontrol ritme permainan, umpan kunci yang presisi, serta visi permainan yang matang untuk seusianya menjadikannya kandidat ideal untuk mengisi sektor tengah yang selama ini mengandalkan pengalaman pemain senior.
“Kami sangat gembira bisa membawa Rizki ke Persebaya. Ia adalah tipe gelandang yang bisa menghidupkan permainan dari lini kedua. Physicality-nya sudah cukup baik untuk level Liga 1, dan yang lebih penting, ia memiliki mentalitas pemenang yang kuat,” jelas manajer teknis Persebaya, Fernando Justice, dalam jumpa pers resmi di Surabaya, Senin (3/5).
Kedatangan Rizki ini tidak bisa dipisahkan dari visi besar manajemen Persebaya di bawah komando pemilik baru, yang telah menganggarkan dana signifikan untuk pengembangan talenta muda. Kebijakan ini kontras dengan tren klub-klub Liga 1 lainnya yang lebih memilih mendaratkan pemain asing mahal demi prestasi instan.
Dibandingkan dengan gelandang senior seperti Kapten Saddil Ramdani yang telah mengarungi berbagai kompetisi, Rizki masih membutuhkan adaptasi terhadap intensitas dan tempo permainan Liga 1. Namun demikian, Saddil sendiri menyambut baik kedatangan sang junior. “Rizki anak muda yang punya potensi besar. Saya siap memandu dia agar cepat beradaptasi. Posisi kami berbeda sedikit, jadi bukan kompetitor langsung,” papar Saddil dengan senyum lebar.
Dalam data komparatif yang dirangkum oleh tim analisis Portal Indonesia, Rizki mencatatkan rata-rata tingkat keberhasilan umpan sebesar 87 persen di Liga 2, melampaui rata-rata gelandang seumurnya di kasta yang lebih tinggi. Ia juga memiliki kecenderungan untuk selalu bergerak aktif tanpa bola, membuka passing lane bagi rekan satu tim.
Integrasi pemain muda ke skuad senior memang tidak pernah instan. Namun, David Arturo sudah memiliki rekam jejak positif dalam mengembangkan talenta muda di klub sebelumnya. “Saya percaya setiap pemain muda butuh kesabaran dan kepercayaan. Di Persebaya, mereka akan mendapat keduanya. Target saya bukan hanya menang musim ini, tapi juga membangun fondasi yang kuat untuk tiga hingga lima tahun ke depan,” terang arsitek strategis berusia 45 tahun tersebut.
Tekanan dari suporter setia Persebaya, Bonek, yang menginginkan trofi liga tentu saja menjadi beban tersendiri bagi manajemen. Namun, keputusan untuk menginvestasikan talenta muda menunjukkan kematangan organisasional yang perlu diapresiasi. Langkah ini mirip dengan PSBS Biak yang terdegradasi jadi pelajaran soal regenerasi — bagaimana pengabaian proses pengembangan jangka panjang bisa berakibat fatal bagi kelangsungan klub.
Situasi serupa juga terjadi pada Garudayaksa yang juga bergantung pada pemain muda, yang membuktikan bahwa regenerasi yang terstruktur bisa menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.
Bagi Persebaya, musim ini mungkin belum menargetkan gelar liga. Namun, dengan kehadiran pemain muda berbakat seperti Rizki, mimpi merebut kembali supremasi sepak bola Jawa Timur dan akhirnya kembali ke pentas nasional tampaknya bukan lagi angan kosong. Tim Hijau-Ubirawa — julukan tim — saat ini sedang dalam proses transformasi dari tim Biasa menjadi organisasi profesional yang mengutamakan pertumbuhan berkelanjutan.
Segala sesuatu mengenai kebijakan ini masih akan terus berkembang seiring waktu. Yang jelas, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah Persebaya saat ini tengah menulis bab baru dalam buku sejarah klub — sebuah bab yang ditulis dengan tinta optimisme dan perencanaan strategis yang matang. Bagi para Bonek, sabar dan berikan waktu. Seperti kata pepatah, “Rome was not built in a day.”













