PendidikanPortal DIY

Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru

1712
×

Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru

Sebarkan artikel ini
Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru
FX. Siswo Murdwiyono, MSi (Praktisi hipnoterapi) menyampaikan materi "Berkomunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar " (Ist)

YOGYAKARTA – Praktisi hipnoterapi FX. Siswo Murdwiyono, MSi  mengajak para guru  menyelaraskan pikirin mempengaruhi hidup manusia.  Hipnoteaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar.

“Sebagai landasannya adalah ilmu hipnosis, yaitu seni berkomunikasi seseorang, sehingga mengubah tingkat kesadarannya,” kata Siswo pada pembinaan peningkatan kompetensi guru pendidikan agama Katolik pendidikan tingkat menengah Kabupaten Sleman di Java Village, Pandowoharjo, Sleman, Rabu (20/3/2024).

Acara menghadirkan pula pembicara Romo Paulus Erwin Sasmita., Ph.D, Pr (Staf dan Psikolog Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan) dan Drs. St. Kartono., MHum (Guru SMA Kolese De Britto).

Menurut Siswo melalui topik “Berkomunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar”,  hipnoteaching yang dipelajari adalah teknik dan seni mengajar yang menggunakan sugesti-sugesti positif dengan cara mengubah gelombang otak pembelajaran semakin dipahami siswa, penuh antusias, kreatif dan efektif.

Dalam materi “Menjadi Guru Bagi Muridku”, Drs. St. Kartono, MHum., mengajak para guru menelusur kesadaran menjadi pendidik. “Mengapa Bapak Ibu bertahan sebagai guru Pendidikan Agama Katolik sampai saat ini?” dan “Demi siapa Bapak Ibu menjadi guru Pendidikan Agama Katolik?”

St. Kartono mengatakan, para guru akan menemukan jatidiri sebagai pendidik yang baik ketika sungguh mencintai anak didik dan jujur ingin membantu mereka berkembang dan maju. “Tanpa cinta dan kepekaan terhadap anak didik, akan sulit  membantu mereka. Dengan semangat cinta, kita dapat mengadakan pendekatan kepada anak, mengerti situasinya dan dapat membantu secara tepat,”  tuturnya.

Romo Paulus Erwin Sasmita., Ph.D, Pr., mengampu “Cura Personalis: Better Teacher! Better Education!”.

Ia mengajak para guru berdialog tentang pengalaman pendampingan bersama para siswa.

Romo Erwin menyebut Yesus tidak hanya nabi; bukan hanya disebut Tuhan, tetapi juga sekaligus seorang guru. Sebagai seorang guru, Yesus mengenal betul para murid-murid-Nya. Dia mengajar, mendidik, dan mendampingi para murid-murid-Nya yang awalnya biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Dia mengajak, melibatkan dan sekaligus memampukan para murid-Nya sevisi dengan-Nya. Untuk melanjutkan tugas perutusan-Nya mewartakan Kerajaan Allah.

“Kita diajak menimba semangat dan sekaligus meneladan Yesus dalam mendampingi para murid. Dengan merefleksikan kisah kehadiran Yesus dalam perjalanan para murid ke Emaus,” katanya.

“Kita ingin belajar dari Dia agar kita juga bisa menghargai setiap pribadi yang kita dampingi (ennoble), memampukan orang-orang yang kita layani (enable), serta memberdayakan siapa saja yang dipercayakan kepada kita (empower)”.

Sementara Agung Widodo, MPd., Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Katolik se- Sleman  mengaku memperoleh kesan mendalam dari pertemuan ini. Materi para narasumber menggugah dan menginspirasi, secara khusus sebagai guru.

“Saya lebih menghayati dan memaknai panggilan hidup sebagai pendidik dan pengajar. Selain ltu, saya diingatkan untuk menempatkan setiap murid sebagai pribadi yang unik, berharga dan berbeda,” kesan Agung Widodo yang juga guru di SMAN 1 Minggir, Sleman. (bams)