Pemberdayaan Petani Lereng Gunung Slamet dengan Budidaya Cincau Hitam

Pemberdayaan Petani Lereng Gunung Slamet dengan Budidaya Cincau Hitam
Kang Indra (kiri) dan Nasihin memeriksa tanaman cincau hitam di lereng Gunung Slamet Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Banyumas. (Foto : Sugiyanto / Portal Indonesia)

BANYUMAS|Portal-Indonesia.com – Cincau hitam adalah salah satu tanaman berbentuk perdu dengan batang beruas, berkayu, persegi, kecil, berbulu, dan berwarna kemerahan. Daun berwarna hijau, lonjong, tipi lemas, ujungnya runcing, serta pangkal tepi daun bergerigi dan berbulu dengan ketinggian antara 30 – 60 cm.

Tanaman cincau hitam tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian diatas 400 meter di atas permukaan laut (DPL), serta dapat tumbuh baik pada musim kemarau maupun penghujan.

Indra Mulya Kusumah (46) yang akrab dipanggil Kang Indra adalah seorang pendamping petani lereng gunung slamet yang selalu aktif untuk menggiatkan pemberdayaan masyarakat agar bisa lebih mandiri.

Saat di temui Portal Indonesia, Minggu ( 24/1/2021) Kang Indra mengatakan, untuk memberdayakan masyarakat memang butuh pemikiran khusus yang dapat di terima dengan dampak yang jelas.

Dijelaskan bahwa tanaman cincau hitam dapat sebagai salah satu alternatif yang bisa dikembangkan di daerah-daerah kritis atau lahan tidur di sekitar pegunungan karena tanaman cincau hitam mempunyai nilai ekonomi tinggi selain untuk mencukupi kebutuhan lokal juga untuk Eksport dalam bentuk tanaman cincau hitam kering yang di pres.

Sudah sekitar satu tahun lebih ia bersama Salimin dan Krisna, mengembangkan tanaman cincau di sekitar Bukit Kasturi, Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas yang memiliki ketinggian 630 meter DPL.

Bukit Kasturi sendiri merupakan tanah milik Perhutani yang di perbolehkan untuk di dikelola oleh masyarakat setempat tetapi dengan catatan tetap menjaga kelestarian lingkungan tidak merusak tanaman utama dan tidak mengganggu ekosistem di sekitar hutan.

Lebih jauh dijelaskan Indra bahwa, untuk pemasaran cincau hitam sudah terjalin kemitraan dengan CV. Jasa Tiga Mas yang berkedudukan di Kecamatan Kembaran. “Sampai saat ini harga tanaman Cincau hitam kering mencapai Rp. 8000,- per kilogram,”
terang Indra.

Ia melanjutkan, sekitar 10 Ha tanaman cincau hitam yang menjadi pendampingannya di sekitar lereng gunung Slamet. Sementara di sekitar Bukit Kasturi sendiri baru mencapai luasan kurang lebih 2,5 Ha.

Sementara itu, Salimin (49) selaku penggiat dan petani cincau hitam menambahkan, untuk hasil panen satu hektare bisa mencapai 25-30 ton tanaman cincau hitam basah jika di keringkan menjadi sekitar 3-4 ton cingcau kering padahal dalam satu tahun hanya satu kali tanam tetapi bisa panen 3 sampai 4 kali.

Nasihin (43) selaku tokoh masyarakat di grumbul Larangan menceritakan, pada awalnya kedatangan tiga orang tamu yang tidak di kenalnya katanya mau melakukan survai lokasi untuk tanaman cincau di sekitar Bukit Kasturi. Lalu setelah bersama-sama naik keatas sampai ke titik paling tinggi ternyata menurut tamu yang tak lain adalah Kang Indra, Salimin dan Krisna mengatakan bahwa lokasi Bukit Kasturi cocok untuk budidaya tanaman cincau hitam.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan tamunya tentang cincau, Nasihin menjadi tertarik untuk membudidayakan walaupun pada awalnya juga mengalami kendala dalam budidaya tetapi saat ini sudah tidak lagi. Bahkan pada awal panen pernah mengalami harga jual sekitar Rp.22.000,- per kg tanaman cingcau kering.

Selaku pendamping petani lereng Gunung Slamet, Kang Indara dan kawan-kawannya mengharapkan kepada pemerintah agar memberi dukungan program kegiatan pemberdayaan dan pembinaan sehingga setidaknya petani pinggiran bisa mendapat perhatian dari pemerintah baik akses informasi maupun teknologi dan dampaknya bisa di rasakan manfaatnya oleh masyarakat tani sendiri. (Sugi)

Tinggalkan Balasan

error: