Parijotho, Mitos dan Keilmuan

  • Bagikan
Parijotho, Mitos dan Keilmuan
Penjual buah Parijotho di Kudus (Foto : Suprapto/Portal Indonesia)

KUDUS – Berziarah ke makam Sunan Muria konon tidak akan lengkap, jika tidak membeli buah parijotho. Utamanya bagi kaum perempuan yang tengah mengandung-hamil. Sebab dengan mengkomsumsi buah ini, maka saat melahirkan jabang bayinya bakal berparas cantik- bila berkelamin perempuan. Jika berkelamin laki laki berparas gantheng/ tampan.

Makam dan Masjid Sunan Muria, secara administratif berada di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Sekitar 18 kilometer utara dari pusat pemerintahan kabupaten (Pemkab). Termasuk kawasan Gunung Muria.

Sunan Muria sendiri lahir pada tahun 1450 Masehi dan diberi nama Raden Said atau Raden Umar Syahid. Nama kecilnya Raden Prawoto. Putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh( putri dari Maulana Ishaq). Ia adalah salah satu “anggota” Wali Sanga ( wali yang berjumlah sembilan orang)

Sedang isterinya menurut Buku Sunan Muria Antara Fakta & Legenda, yang ditulis Umar Hasyim terbitan CV Tawang Alun Kudus 5 Mei 1983 bernama Dewi Sujinah. Sedang dalam ceritera rakyat yang tidak tercatat dalam sejarah bernama Dewi Roroyono.

Nah setiap kali isteri Sunan Muria ini hamil sering memakan buah parijoto yang diperoleh di seputar kebunnya- yaitu di kawasan Gunung Muria.

Efeknya ketika sang bayi yang dilahirkan berkulit bersih dan sehat.Mulai saat itu berkembanglah dari mulut ke mulut. Jika ibu-ibu hamil dan mengkomsumsi buah parijoto, maka anak yang dilahirkan dipastikan cantik untuk berkelamin perempuan dan yang pria ganteng/tampan.

Menurut , Kholidin dan Anik dari Universitas Muria Kudus (UMK), buah parijotho atau nama latinnya Medinella speciosa L. Nama ini berasal dari nama gubernur Republik Mauritius yang menjabat pada tahun 1820. Pada masa itu, Mauritius masih bernama Kepulauan Marianne. Nama gubernur yang dimaksud adalah José de medinilla y Pineda.

Belum diketahui secara jelas dari mana asal usul tanaman parijotho tersebut
Secara medis, parijotho sebenarnya memiliki kandungan bahan kimia saponin dan kardenolin pada daun dan buahnya, Sedang buahnya mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tannin yang berkhasiat sebagai obat sariawan dan obat diare.

Termasuk tumbuhan perdu dengan ketinggian 1-2 meter. Berdaun tunggal, berakar serabut, berbatang kecil dengan lapisan gabus dan umumnya berbuah pada Maret — Mei. Mudah dikembang-biakkan, tanpa memerlukan perawatan khusus.

Mengingat rasa buah parijotho ini sedikit asam dan pahit, maka cara mengkomsumsi yang tepat dengan dibuat rujak atau pecel
Tanaman ini juga tergolong tanaman hias, dengan tinggi sekitar 1-2 meter. Namun hanya hidup- tumbuh dan di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.

Tergolong tanaman asli dari sekitar 80 jenis tanaman asli/khas lainnya yang berada di kawasan Gunung Muria dengan ketinggian 1.602 meter di atas permukaan air laut

Asli Kudus atau Jepara
Pertengahan 2020, sempat muncul “kegaduhan” tentang tanaman Parijotho. Setelah tanaman ini resmi terdaftar di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP Nasional sebagai varietas lokal Jepara,
Sejumlah warga Kudus protes dan Dinas Pertanian Kabupaten Kudus pun meresponnya dengan “naik banding” ke BPTP nasional. Namun sampai dengan Minggu (2/1/2022) belum ada kabar beritanya.

“Saya “wong cilik” tidak tahu menahu masalah tersebut, Yang pasti menurut saya luas tanaman parijotho di wilayah Kabupaten Kudus jauh lebih luas di banding dengan Jepara. Ada sekitar lima hektar, yang tersebar di Desa Colo, Kajar, Ternadi dan Japan (Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus) Selain itu tetap dirawat, dilestarikan dan dikembangkan,” tutur Marlan warga Desa Dukuhwaringin Dawe (Kudus)

Dengan tersedianya tanaman seluas tersebut, maka sampai sekarang pun, para peziarah makam Sunan Muria di Desa Colo, masih tetap bisa membeli dengan mudah buah parijotho yang dijajakan para pedagang kaki lima .

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, muncul sejumlah pengusaha yang memproses buah parijotho menjadi sirup dan dipasarkan secara tradisional hingga melalui jalur internet. Juga ada sejumlah penduduk yang menjual dalam bentuk bibit.(Suprapto)

  • Bagikan
error: