Nitilaku UGM 2020 Digelar Secara Virtual

Nitilaku UGM 2020 Digelar Secara Virtual
Kampus UGM Yogyakarta. (Foto : Istimewa)

YOGYAKARTA | portal-indonesia.com – Nitilaku UGM Yogyakarta yang biasanya diramaikan dengan pawai jalan kaki dari Keraton Yogyakarta  menuju Bulaksumur, kali ini dilaksanakan secara virtual mengingat pandemi Covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mewakili Presiden Joko Widodo  mengatakan, makna peringatan nitilaku adalah untuk mengingat kembali awal mula lahirnya UGM, yang tidak terlepas dari peran penting Keraton Yogyakarta, dan para pendiri bangsa  ini.

Pada 1949  Ir Soekarno, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, serta sejumlah tokoh ingin meningkatkan kualitas SDM Indonesia yang waktu itu baru merdeka untuk dapat lebih banyak mendapatkan pendidikan sarjana.

“Atas kemurahan hati Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada awalnya perkuliahan diperkenankan dilakukan di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Dan atas kemurahanya dihibahkan 183 hektare tanah di Bulaksumur untuk kemudian dibangun Gedung Perkuliahan UGM, yang dipergunakan hingga saat ini,” kata Menko Airlangga dalam sambutannya yang digelar secara virtual, Minggu (13/12/2020).

Hikmah dari peringatan nitilaku, lanjut dia, bukan sekadar perpindahan tempat perkuliahan UGM saja. Tetapi lebih dari itu agar seluruh akademisi dan mahasiswa UGM tidak lupa pada akar sejarahnya, nilai-nilai kebudayaan, serta yang terpenting adalah mengingat niat dan upaya para pendiri bangsa dalam meningkatkan kapasitas SDM Indonesia.

Sedangkan Sri Sultan Hamengkubuwono X saat membuka nitilaku tahun ini menyatakan sudah mentradisi sejak dulu penyambutan dies natalis UGM dirayakan dengan kegiatan nitilaku.

Dalam sejarah nitilaku kelahirannya tampaklah  peran para pendahulu peletak dasar berdirinya balai perguruan tinggi di Yogyakarta.

Kemudian yang terpenting, menurut Sultan, adalah nata-laku untuk nanting-laku agar semangat ke-UGM-annya menjadi pandom pandoming laku kehidupan.

Berdirinya UGM  membuktikan jati diri sebagai universitas perjuangan, universitas kebangsaan, universitas kerakyatan, universitas Pancasila dan universitas pusat kebudayaan. Semua predikat yang disandang UGM tersebut tidak lain adalah harapan agar UGM ke depan menjadi actor of change menuju peradaban baru yang maju dan berakar pada tradisinya.

Diharapkan dengan keagungan literasi para guru besarnya, kecerdasan kolektif para staf pengajar dan invasi para peneliti dan kalangan inventor kreasi diharapkan UGM siap di era digitalisasi dan revolusi industri 4.0 serta mampu melewati pandemi Covid-19 ini.

Dengan pesan harapan itulah, Sultan menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan nitilaku perguruan kebangsaan 2020 secara virtual. Dengan ucapan dirgahayu UGM ke-71 dan Kagama ke-62 teruslah mengalir bagi almamater serta bagi bangsa dan negara serta rakyat Indonesia.

Sementara Rektor UGM Prof Panut Mulyono menyampaikan nitilaku merupakan upaya mengenang kembali dukungan Keraton Yogyakarta kepada UGM yang terus dilakukan hingga kini. Di awal-awal perkuliahan UGM atas perkenan  Sultan HB IX menggunakan pagelaran dan rumah-rumah seputar Keraton hingga kemudian berpindah ke Kampus Bulaksumur.

Ketua Umum Kagama Ganjar Pranowo mengapresiasi penyelenggaraan nitilaku kebangsaan tahun kembar 2020 ini yang dilaksanakan secara virtual.

Meski menghadapi pandemi Covid-19, menurutnya UGM tidak mati gaya bahkan tetap melakukan tradisi nitilaku dengan inovasi-inovasi agar terus berkontribusi untuk bangsa Indonesia. (bams)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: