Portal Lampung

Menuju Seabad SD Xaverius Pringsewu, Guru Wasitah Rindukan Kehadiran Sri Mulyani

13
×

Menuju Seabad SD Xaverius Pringsewu, Guru Wasitah Rindukan Kehadiran Sri Mulyani

Sebarkan artikel ini
Menuju Seabad SD Xaverius Pringsewu, Guru Wasitah Rindukan Kehadiran Sri Mulyani
Guru Redemtha Wasitah (kanan) dan para siswa SD Xaverius Pringsewu (Ist)

LAMPUNG – Redemtha Wasitah (87), guru SD Xaverius Pringsewu, Lampung, merindukan salah satu muridnya yang sekarang menjadi orang penting Indonesia, Sri Mulyani yang menjabat sebagai Menkeu.

Sri Mulyani semasa kecilnya dulu bersekolah di SD Xaverius Pringsewu dan kemudian melanjutkan ke SMP di Tanjung Karang (sekarang Bandarlampung) pada tahun 1975. Redemtha Wasitah dan Sr Arnolde FSGM (alm) adalah dua guru SD Xaverius Pringsewu, Lampung yang dikunjungi oleh Sri Mulyani ketika menghadiri reuni di Bandarlampung beberapa waktu lalu.

Demikian diungkapkan oleh dr Yohanes Sugiri Ruslan, putera dari Redemtha Wasitah saat membicarakan Reuni Agung Menuju Satu Abad SD Xaverius Pringsewu, Lampung, Kamis (18/5/2023). Cerita tentang Sri Mulyani disampaikan Sr Arnolde kepada Sugiri.

Reuni Agung akan berlangsung dua hari,  19 – 20 Mei 2023. Sekitar 700 orang sudah mendaftarkan diri untuk hadir dalam acara ini. Dan, Redemtha Wasitah merindukan kehadiran Sri Mulyani.

Bagi Redemtha Wasitah, demikian dituturkan Sugiri – putera ketiganya, menjadi guru SD Xaverius adalah suatu kebangaan dan martabat. Ini kesan kuat yang selalu diceritakan Wasitah kepada enam anaknya.

Kekuatan para suster / biarawati dari Kongregasi Para Suster Fransiskan dari St. Georgeus Martir Thuine dari Jerman dalam membangun manusia melalui pendidikan jelas terlihat dari spirit yang diberikan kepada para guru dan muridnya.

Menuju Seabad SD Xaverius Pringsewu, Guru Wasitah Rindukan Kehadiran Sri Mulyani
Panitia Reuni Agung Menuju Seabad SD Xaverius Pringsewu

Keteladanan hidup para suster dan juga Romo Kanjeng memberikan makna dalam tentang hidup. Romo Kanjeng adalah nama panggilan Mgr Albertus Hermelink Gentiaras SCJ, Uskup pertama Tanjung Karang.

“Bersama-sama beliau-beliau menanamkan perilaku disiplin, budi pekerti, jujur, terbuka, rendah hati dan menerima semua orang tanpa membedakan agama atau suku,“ ujar Sugiri seraya menegaskan Sr Arnolde mempunyai jasa besar bagi hidupnya.

Tantangan utama bagi para guru adalah mentransfer nilai-nilai yang sudah ditanamkan para suster kepada para murid. Keberhasilan dunia pendidikan sebenarnya bukanlah nilai, tetapi mentransfer nilai kemanusiaan tersebut agar menjadi bekal bagi para murid untuk hidup selanjutnya. Demikian diurai oleh  Redemtha Wasitah sebagaimana dikutip oleh Sugiri.

Kesan tentang nilai yang sama itu juga yang merupakan kesan dari Titiek ‘Wara Indrasti’ Khamdani, alumnus SD Xaverius Pringsewu tahun 1970. Ia adalah seorang puteri dari guru SMP Xaverius.

Menurut Titiek Khamdani, Xaverius dibanding dengan sekolah-sekolah lain adalah kedisiplinan, tata krama dan non diskriminasi. Selain itu, reward and pusnishment selalu menjadi indikator dari perilaku anak didik. “Yang tidak disiplin dan terlambat masuk sekolah ya akan menanggung akibatnya sebagai bentuk tanggung jawab yang harus dipikul oleh anak didik,“ pungkas Titiek. (*/bams)