Memetik Hikmah Dibalik Kisah Rasulullah dan Seorang Pengemis Buta

Memetik Hikmah Dibalik Kisah Rasulullah dan Seorang Pengemis Buta
Ustadz H.Darul Jalal S.Ag MM, saat ceramah dihadapan jamaah Salat Taraweh di Musala Nurul Jannah. 

PALEMBANG — Ustadz H. Darul Jalal menyampaikan tausiyah kepada jamaah salat Tarawih, Rabu 13/4/2022, di Musala Nurul Jannah, Palembang.

Dalam tausiyahnya, Ustadz H Darul menyampaikan salah satu sifat mulia Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) yang patut kita contoh adalah sifat tolong-menolong.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW tidak enggan memberikan bantuan kepada mereka yang suka menjelek-jelekkan dirinya.

Seperti yang terjadi dalam kisah Nabi Muhammad SAW dengan seorang pengemis Yahudi buta yang selalu menghina beliau.

Pada masa Rasulullah, hiduplah seorang pengemis Yahudi buta di sudut pasar Madinah Al-Munawarah. Hari demi hari dia selalu mengatakan hal buruk tentang Rasulullah SAW.

Pengemis berkata : Wahai saudaraku, jangan kau dekati Muhammad. Dia itu gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir! Jika kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhi olehnya.

Padahal, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan.

Tanpa sepatah apa pun, Rasulullah SAW menyuapinya sembari mendengarkan pengemis itu berpesan untuk menjauhi orang yang bernama Muhammad. Namun Rasulullah SAW terus melakukannya hingga beliau (Rasulullah) wafat.

Sepeninggal Rasulullah SAW, tidak ada lagi yang memberikan makanan ke pengemis Yahudi buta tersebut.

Suatu ketika sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar, berkunjung ke rumah anaknya, Siti Aisyah (istri Rasulullah).

Abu Bakar bertanya kepada anaknya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah kepada ayahnya menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah hampir tidak ada satu sunah pun yang belum ayah lakukan, kecuali satu sunah saja”

“Apakah itu?” tanya Abu Bakar lagi.

Aisyah menjawab, “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”.

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi buta.

Setibanya di pasar dan bertemu dengan pengemis itu, Abu Bakar pun memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?”

Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa”

“Bukan!, Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawab si pengemis buta itu.

Lalu si pengemis itu berkata, “Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi makanan itu terlebih dahulu dihaluskan dengan mulutnya, setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri.”

Mendengar penyampaian si pengemis, Abu Bakar pun tidak dapat menahan air matanya.

Sambil menangis dia (Abu Bakar) berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, dia pun menangis dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia”.

“Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dan bersaksi masuk Agama Islam dihadapan Abu Bakar”, beber Darul dalam ceramahnya.

Diakhir ceramahnya, Ustadz Darul mengatakan akhlak mulia ditauladankan Rasulullah SAW, dan Islam adalah pembawa Rahmat bagi seluruh isi penghuni alam. “Didalam Islam tidak ada yang namanya radikalisme dan terorisme, tapi penyejuk seluruh umat”, pungkasnya. (Hadi ST)

error: