Portal Jateng

Kebudayaan Turonggo Cinde Laras Diresmikan Camat Candisari

131
×

Kebudayaan Turonggo Cinde Laras Diresmikan Camat Candisari

Sebarkan artikel ini
Kebudayaan Turonggo Cinde Laras Diresmikan Camat Candisari
Camat Candisari Moeljanto mengikuti kirab Turonggo Cinde Laras (Ist)

SEMARANG – Nyadran merupakan adat budaya turun temurun dari leluhur dalam tradisi Jawa dalam menyambut bulan Ramadhan, tepatnya di bulan Sya’ban atau Ruwah menurut penanggalan (kalender) Jawa.

Budaya ini dilakukan antara lain dengan bersih-bersih makam para leluhur dengan membawa dan membagikan makanan tradisional serta berdoa bersama di sekitar area makam.

Scroll kebawah untuk lihat konten

Camat Candisari Moeljanto, SE, MM, didampingi oleh Kapolsek Candisari Iptu Handri Kristanto, SH, MH, Lurah Jomblang Yulistiyono, SE, pada Minggu pagi (13/3) memimpin kirab budaya dan doa bersama menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan menggelar Nyadranan.

Camat juga meresmikan paguyuban Seni Turonggo Cinde Laras yang bertempat di Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

Menurut Moeljanto, potensi Kelurahan Jomblang yang memiliki beberapa makam leluhur membuat acara ini dapat menjadi hal yang menarik apabila dikemas dalam sebuah event tahunan.

“Tinggal nanti kita kelola dengan baik dan latihan rutin di Kelurahan Jomblang ini sehingga harapannya seni budaya kuda lumping bisa bangkit kembali sekaligus menciptakan destinasi wisata religi di Kecamatan Candisari,” kata Moeljanto saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan seluler, Minggu (13/3).

Makam leluhur yang ada di Kelurahan Jomblang ini menurut Moeljanto ada beberapa yang merupakan ulama atau sesepuh warga Jomblang, diantaranya adalah makam mbah Nur Alim, mbah Jangkang dan mbah Begog yang kesemuanya merupakan tokoh pejuang kemerdekaan berasal dari wilayah Jomblang yang dulunya disebut Tandang.

Terdapat pula makam mantan Bupati Blora di era 1960an, R. Soekirno Sastrodimedjo yang setiap tahunnya banyak pejabat dari Blora melakukan ziarah ke makam ini setiap peringatan hari jadi Kabupaten Blora.

Harapannya dengan diresmikannya kesenian tradisional Turonggo Cinde Laras menjadi ikon seni budaya di Kelurahan Jomblang ini harapannya dapat menjadi penyemangat dalam berlatih sehingga benar-benar menjadi sebuah seni yang dapat mengangkat kearifan budaya lokal.

Hal tersebut juga dapat membuka peluang UMKM bagi warga Jomblang dengan membuat produk cinderamata, aksesoris atau kaos bertuliskan wisata religi mbah Jangkang, mbah Nur Alim dan mbah Begog serta yang lainnya sehingga akan mampu menambah ekonomi warga melalui produk-produk tersebut.

“Kita support sepenuhnya potensi yang ada di Kelurahan Jomblang. Kedepan akan kita bantu memperbaiki infrastruktur jalan menuju lokasi makam agar menjadi lebih baik. Dan pengelolaan makam nanti akan kita usahakan membantu melalui pemerintah Kota Semarang, kecamatan dan kelurahan,” kata Moeljanto.

Lurah Jomblang Yulistiyono, SE, mengatakan, bahwa nyadranan yang dilaksanakan di Kelurahan Jomblang merupakan kegiatan rutin tahunan yang telah dilakukan jauh sebelum dirinya menjadi lurah di Jomblang.

“Nyadran ini kegiatan rutin tahunan yang selalu diadakan setiap tahun menjelang Ramadhan, dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu sebelum saya menjadi lurah disini,” kata Yulistiyono saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan seluler.

Menurut Yuli, dengan adanya acara sadranan yang dipadukan dengan kesenian budaya tradisional ini sekaligus sebagai ajang nguri-uri budaya sebagai rintisan menjadikan Kelurahan Jomblang sebagai destinasi wisata religi dan seni yang mampu bersaing dengan kelurahan-kelurahan lainnya.

“Kelurahan Jomblang mempunyai potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata religi. Karena disini ada beberapa makam leluhur yang menjadi catatan sejarah bagi warga Jomblang. Dan semua makam leluhur tersebut merupakan tokoh pejuang kemerdekaan dan juga seorang alim ulama di jamannya, serta adanya kesenian tradisional yang berpotensi dikembangkan menjadi kearifan lokal,” tutur Yuli.

Yuli berharap apabila religi dan kesenian tradisional dipadukan akan mampu mengangkat Kelurahan Jomblang menjadi rujukan wisata religi bagi masyarakat di luar Kelurahan Jomblang untuk ziarah ke makam-makam leluhur yang telah berjasa dan ikut berjuang dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.

Nyadran yang telah dijaga selama ratusan tahun, mengajarkan untuk mengenang dan mengenal para leluhur, silsilah keluarga serta memetik ajaran baik para pendahulu.

Sesuai dengan pepatah Jawa kuno yang mengatakan “mikul dhuwur mendem jero” yang kurang lebih memiliki makna ajaran-ajaran yang baik kita junjung tinggi, yang kurang baik kita tanam dalam-dalam. (Deano)