Kades Sukamanah Bandung Diduga Terlibat Manipulasi Tanah Adat, Begini Ceritanya

Kades Sukamanah Bandung Diduga Terlibat Manipulasi Tanah Adat, Begini Ceritanya
Objek tanah yang diduga menjadi sengketa di Blok Citere RT 02 Dusun IV Kampung Hegarmanah, Desa Sukamanah/Pangalengan Kabupaten Bandung (Foto : Landong Gultom/Portal lndonesia)

 

PANGALENGAN – Sengketa tanah Diduga libatkan Kades Sumakanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berawal dari keterangan yang mengaku ahli waris dari pemilik tanah yang terletak di Blook Citere kampung Hegarmanah Jl Perjuangan Dusun 4 desa Sukamanah/Pangalengan, kabupaten Bandung, Senin (10/8/2021) lalu.

Ahli waris dari E Louhanapesi pemilik dari tanah adat tersebut, menceritakan tanah yang sudah di beli oleh orang tuanya dengan bukti segel jual beli (tahun 1971). Tanah warisan orangtuanya itu didudukin oleh warga yang mengaku pemilik tanah tersebut berinisial DS yang diduga adalah mafia tanah di wilayah Kabupaten Bandung dan sekitarnya.

Anehnya lagi, ahli waris menduga kepala Desa Sukamanah, Asep Hasanudin yang menjabat saat itu, ikut berperan membuat skenario perampasan lahan tersebut bersama DS ,yang sangat merugikan pihaknya

Kepala Desa non-aktif Asep Hasanudin yang saat ini persiapan mengahadapi Pilkades Tahun (2021) yang mana beliau sebagai Calon petahana Pilkades Sukamanah/Pangalengan kabupaten Bandung, berhasil diemui saat berada di kediaman orangtuanya, Kamis(12/8/2021).

“Saya selaku Kepala Desa Sukamanah tidak berpihak , kami bekerja sesuai fungsinya melayani semua masyarakat dan
Kalau untuk permasalahan berkas atau Administrasi yang ada di Desa , kami (Desa) tidak memiliki surat (C) atau nomor (persil 207) di nomor (kohir 2941) yang di maksud kedua belah pihak,” bebernya”

Tambahnya lagi jika permasalahan ini sudah cukup lama. “Dari saya baru menjabat sebagai kepala Desa tahun (2015), saya sudah di datangi salah satu yang bersengketa inisial DS dan tamu saya yang pertama sekali adalah DS, meminta saya untuk membuatkan sesuatu mengenai tanah tersebut, bertujuan untuk menguntungkan beliau DS , sempat juga beliau DS menawarkan sejumlah uang juga kontrak politik apabila menuruti permintaannya,bahkan waktu itu karena saya tidak mengindahkan keinginan DS
Beliau pernah sakit hati,sampai saya pernah di laporkan ke Polresta Bandung sampai ke Polda Jabar,” teranganya

“Saya sebagai kepala desa , disini tidak bisa menjelaskan tentang objek lahan tersebut,, yang bisa saya terangkan disini Administrasi yang ada di desa Sukamanah,”ucapnya

Di hari yang sama di tempat berbeda, Endru, salah satu kuasa dari E Louhanapesi yang bersengketa, membantah semua keterangan yang di berikan kepala desa Sukamanah non-aktif.

“Beliau mengatakan mereka punya bukti Kepala Desa ikut andil dan bahkan punya peran membantu pihak DS dari dugaan memanipulasi Tanah adat, penggelapan Nomor Persil, Pengakuan status tanah Negara, menurut kami ini adalah modus Operandi Tanah,dan Kepala Desa non-aktif ikut Praktik Mafia tanah untuk memgkuasai fisik lahan tersebut bersama DS yang kita cukup tau Begron seorang DS,” teranganya

Endru menilai yang di sampaikan Kepala Desa adalah sandiwara, seolah – olah beliau terdzolimi dari permasalahan lahan tersebut
dari saksi dan bukti yang kami miliki kepala Desa non-aktif cukup mengetahui lahan tersebut ,juga peryataan tertulis kepala Desa yang menyebutkan status tanah tersebut tanah milik negara, itu sendiri sudah di kalarifikasi dan beliau mengakui itu adalah kesalahannya,sebab tanah tersebut bukan tanah negara, bagaimana seorang Kepala Desa mengubah status tanah tampa ada bukti jelas ,ini adalah Penyalahgunaan wewenang sesuai dengan (UUD NO 30 tahun 2014) Dan (UUD Korupsi NO 31 Tahun 1999).Kepala Desa non-aktif Asep Hasanudin harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Kami sudah kumpulkan bukti dan mengetahui siapa yang bermain dan peranannya apa itu semua adalah skenario DS dan Kepala Desa, Modus Operandi untuk menghilangkan hak klien kami,kami siap untuk pembuktian membuka seterang terangnya baik secara Administrasi maupun secara hukum, “tutup Endru. (Landong Gultom)

Tinggalkan Balasan

error: