Flu Burung Tak Menular Antarmanusia

  • Bagikan
Flu Burung Tak Menular Antarmanusia
Ilustrasi

YOGYAKARTA – Ancaman soal kemungkinan virus flu burung menjadi sumber wabah baru layaknya seperti Covid-19, kemungkinan sangat kecil peluangnya. Ini karena virus flu burung tidak dapat ditularkan langsung dari unggas ke manusia,  namun harus melalui  hewan perantara.

Selain itu, virus ini tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia. “Avian Influenza (flu burung) tidak dapat ditularkan langsung dari unggas ke manusia. Harus ada hewan perantara, terutama babi. Virus ini juga tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta Prof drh R. Wasito, MSc., PhD,  menanggapi merebaknya kasus flu burung di China, Jumat (5/11/2021).

Dengan tingkat kemampuan penularannya antar manusia tersebut, menurutnya penyakit flu burung tidak memiliki ancaman serius. Namun demikian tingkat virulensi virus ini pada hewan unggas berbeda-beda tergantung dengan  tingkat variannya. “Virulensi AIV dapat berbeda-beda tergantung antigenisitasnya,” tutur pakar penyakit flu burung ini.

Virus ini,  sepengetahuan Wasito juga mudah mati terkena panas. Untuk menekan tingkat penyebaran flu burung agar tidak terinfeksi ke manusia lewat hewan perantara dengan cara menekan jumlah unggas yang tertular atau mengisolasi mereka yang terpapar.

Soal flu burung bisa menyebabkan kematian pada manusia diakui kemungkinan besar bisa. Namun hal itu  perlu dilakukan pemeriksaan dan penelitian lebih lanjut dengan menentukan hasil biotipe baru AI yang terbentuk akibat faktor sifat pergeseran genetik dari virus tersebut. “Dapat (menyebabkan kematian), ditentukan hasil biotipe baru AI yang terbentuk akibat faktor sifat genetic shift atau genetic reassortment AI,” katanya.

Dari penelitian wasito, Flu burung juga dapat menular dari udara,  namun  virus tersebut mati bila terkena panas. Meski flu burung saat ini tidak menjadi wabah baru, menurutnya pemerintah  perlu mengadakan alat deteksi flu burung untuk manusia guna melakukan mitigasi. Selama ini untuk deteksi flu burung pada hewan unggas, ia menggunakan deteksi melalui PCR yang kesemua menggunakan bahan impor. “Pada riset saya, semua kita import,” katanya.

Seperti diketahui otoritas kesehatan China melaporkan ada 21 kasus Avian Influenza (AI) atau flu burung pada manusia. Dilaporkan 6 orang meninggal dunia dan beberapa orang lainnya masih kritis.

Beberapa ahli di sana menduga penularan ini dipicu oleh kemunculan varian baru virus flu burung dengan tipe H5N6. (bams)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: