Hukum & KriminalPortal DIY

Duh Gusti, Seorang Guru Ngaji Cabuli 12 Anak

16
×

Duh Gusti, Seorang Guru Ngaji Cabuli 12 Anak

Sebarkan artikel ini
Duh Gusti, Seorang Guru Ngaji Cabuli 12 Anak
Tersangka diapit aparat Satreskrim Polresta Sleman (Brd/Portal Indonesia)

SLEMAN – Diduga telah melakukan pelecehan seksual kepada 12 anak perempuan, seorang seorang guru ngaji berinisial CSM (53) warga Kalurahan Banyuraden, kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ditangkap oleh Satreskrim Polresta Sleman.

Penangkapan dilakukan 20 April 2023 lalu, dan kini tersangka diamankan di Mapolresta Sleman untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal (Wakasat Reskrim) Polresta Sleman AKP Eko Haryanto, para korban semuanya adalah wanita murid mengaji tersangka. “Sampai saat ini, dari 12 korban, baru satu korban yang melaporkan disetubuhi tersangka. Sedang lainya masih sebatas dicabuli,” kata Eko kepada para awak media di Mapolresta Sleman, Kamis (4/5/2023).

Sedang terungkapnya kasus ini, lanjut Eko, bermula dari laporan korban anak berusia 17 tahun yang mengaku telah disetubuhi pelaku. Korban saat itu bercerita kepada orangtuanya jika dilecehkan pelaku sejak tahun 2016 hingga 22 September 2022.

Selama rentang waktu itu, korban kerap disetubuhi di rumah pelaku dengan modus mengajar mengaji. Usai mengaji, korban diajak bersetubuh di dalam rumah pelaku saat rumah dalam kondisi sepi ditinggal kerja istrinya.

“Modus pelaku diketahui bahwasannya perbuatan cabul terhadap anak usia pelajar dengan membelai kemudian memanggil anak korban ke rumah tersangka di luar pelajaran mengaji kemudian dilakukan persetubuhan. Hal itu sudah dilakukan berulang kali,” ujar Eko.

Eko melanjutkan, hingga saat ini baru 4 orang korban yang telah diperiksa petugas. Sementara 8 korban lainnya masih dalam tahap asesmen dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perempuan dan Perlindungan Anak (UPTD PPA) Kementerian PPA, serta Kementerian Sosial.

“Atas perbuatanya, pelaku akan dijerat dengan dengan Pasal 81 dan Pasal 82 UU RI No. 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun,” terangnya.

Kepada polisi, tersangka CSM tidak mengakui semua perbuatannya. Ia berdalih jika korban selalu diantar dan dijemput orang tuanya saat mengaji.
Dirinya mengaku mengajari mengaji anak-anak di lingkungan rumahnya sejak 2007. Jumlah muridnya bahkan sempat mencapai 200 orang. Sedang durasinya ngaji, stiap mengaji hanya sekitar 5 menit untuk setiap orang,” ucapnya.

Namun, sekarang jumlahnya mulai berkurang karena sudah banyak yang khatam. Ia menyebut mengajari ngaji secara gratis karena prihatin. (Brd)