Dua Nenek Ini Butuh Perhatian Pemerintah, Keduanya Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Dua Nenek Ini Butuh Perhatian Pemerintah, Keduanya Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot
Tampak Rumah reot tempat tinggal Nenek

PALI, SUMSEL — Miris dan memperihatinkan, di Bumi Serepat Serasan masih dijumpai kehidupan beberapa warganya yang jauh dari kata sejahtera.

Pemandangan kehidupan warga yang jauh dari kata sejahtera itu terpantau awak media saat para elit di Kabupaten Panukal Abab Lematang Ilir (PALI) masih dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 Kabupaten PALI.

Salah satu dari beberapa warga yang kehidupannya jauh dari kata sejahtera, adalah Hopia, warga Desa Suka Manis, Kecamatan Tanah Abang.

Wanita berumur 81 tahun ini sehari-harinya hidup sebatang kara dan tinggal di gubuk reyot yang tanpa terpasang aliran listrik (lampu penerangan). Di gubuk inilah ia bernaung dari sengatan matahari dan guyuran hujan.

Untuk kelangsungan hidup diusianya yang sudah senja, nenek yang sudah tidak kuat lagi tenaganya ini menyandarkan dari penghasilannya sebagai buruh tani.

Untuk mendapat upah sebagai buruh tani, tidaklah setiap hari ia peroleh. Ia dapat upah hanya saat ada warga yang memerlukan tenaganya untuk membersihkan rumput di lahan milik warga tersebut.

Untuk menyambung hidupnya, selain sebagai buruh tani, nenek Hopia juga berjualan sapu lidi.

Dua Nenek Ini Butuh Perhatian Pemerintah, Keduanya Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot
saat awak media berbincang dengan nenek Hopia

“Upah yang saya peroleh setelah saya membersihkan lahan warga deket sini, sesekali dapat buat makan. Kalau lagi ada orang kasihan, sesekali ada yang tebang pohon kelapa, daunnya saya ambil bikin sapu lidi, dan saya jual, tapi jarang sekali ada,” ungkapnya dengan suara gemetar, saat dikunjungi awak media di kediamannya. Sabtu (23/04).

Untuk bertahan hidup dengan penghasilan dan kehidupannya yang sangat jauh dari kata cukup, nenek yang kondisinya memilukan dan seakan belum merasakan nikmatnya arti kemerdekaan sebenarnya itu hanya mengandalkan belas kasihan warga dermawan yang mau menggunakan jasanya.

Dua Nenek Ini Butuh Perhatian Pemerintah, Keduanya Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot
Tempat tidur Nenek Hopia

Meski demikian, nenek Hopia mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan karena dirinya selalu sehat.

Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya sakit.

Karena tidak memiliki kartu BPJS atau kartu kesehatan lainnya, sehingga jika saat sakit, ia harus berobat berbayar. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja ia tidak mampu.

”Saya pernah mengalami sakit selama 3 bulan, tapi saya tidak ada BPJS, atau kartu kesehatan. jadi saya terpaksa berobat dengan membayar,” ungkap Hopia dengan nada suaranya yang sendu.

Keadaan nenek Hopia yang hidup memprihatinkan sebatang kara, membuat banyak tetangganya merasakan turut prihatin.

Seperti yang diutarakan Alamsyah. “Kami iba sekali dengan kehidupan nenek Hopia yang hidup sebatang kara itu,” ujarnya.

Alamsyah meminta kepada Pemerintah Kabupaten PALI agar bisa memberikan perhatian kepada nenek Hopia yang hidupnya sebatang kara itu.

”Tolong perhatikan kehidupan nenek Hopia, Kami minta kepada Pemerintah untuk mendata kembali warga-warga tidak mampu yang belum mendapatkan bantuan,” ucap Alamsyah.

Mengenai kondisi kehidupan yang dialami nenek Hopia, Suryana yang juga masih tetangganya pernah mengusulkan melakukan gotong royong warga Desa Suka Manis untuk memperbaiki kediaman nenek Hopia yang sangat tidak layak lagi ditempati dengan kondisi atapnya banyak yang bocor, berlantai tanah, dan tanahnya menjadi becek setiap kali turun hujan.

”Kami sebagai tetangga merasa kasihan dengan keadaannya. Semoga dengan adanya pemberitaan ini, ada respon dari Pemkab PALI, dan para dermawan yang sudi mengulurkan tangan membantu nenek Hopia,” tutur Suryana.

Sementara itu, Kepala Desa Suka Manis, Iwan Subroto ketika dimintai tanggapannya mengenai nenek Hopia, juga mengaku sangat prihatin.

Untuk membantu nenek tersebut, pihaknya (Pemerintah Desa Suka Manis) memberikan bantuan melalui program BLT-DD (Bantuan Langsung Tunai-Dana Desa).

”Nenek Hopiah selalu menerima bantuan BLT DD, namun program bantuan lainnya belum ada,” jelas Kades melalui telpon, Sabtu (23/04)

Disinggung bantuan program RTLH, Iwan Subroto mengaku terkendala rumah yang ditempati nenek Hopia berada di atas lahan milik orang.

“Untuk program bedah rumah, kediaman nenek Hopiah tidak bisa dilaksanakan karena lahan yang ditempat tinggali bukan di tanah miliknya. Memang kediaman sangat memprihatinkan, sangat tidak layak ditempati oleh manusia,” tambahnya.

Dari pantauan awak media, selain nenek Hopia, juga dialami Siti Zainab yang usianya sudah hampir 1 abad.

Nenek Zainab tinggal seorang diri di sebuah gubuk di Desa Tanah Abang Selatan, Kecamatan Tanah Abang.

Meski tempat tinggal nenek Zainab tidak seburuk dengan tempat tinggalnya nenek Hopia, namun kehidupan nenek Zainab juga masih jauh dari kata sejahtera.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, nenek Zainab hanya berharap belas kasih sesama manusia untuk bertahan hidup dan nenek ini sudah terbiasa hanya makan nasi dan garam.

“Sudah lebih 7 tahun saya sakit sehingga tidak bisa bekerja. Tetangga dekat sini sering ngasih makan, gula dan kopi.Jika tidak ada yang ngasih, yah hanya makan nasi sama garam,” ungkap Siti Zainab.

Kalau soal mandi, nenek Zainab numpang mandi di sumur tetangga yang berada samping rumahnya. Sedangkan kalau soal beras, nenek Zainab dikasih secara rutin oleh warga yang namanya Deris.

“Jadi beras ada terus. Kalau masak, pakai kayu, dan tempat masaknya di bawah rumah,” ungkap nenek Siti Zainab.

Kondisi nenek Siti Zainab yang sangat memprihatikan dan butuh uluran tangan baik dari pemerintah maupun para dermawan, diperkuat penyampaiannya oleh salah satu tokoh pemuda di Desa Tanah Abang Selatan Arly Firgianto, yang turut menemani awak media saat mengunjungi kediaman nenek tersebut.

Untuk diketahui, nenek ini memiliki satu anak yang merantau jauh dari tempat tinggal nya, untuk penerangan kediaman nenek ini, ada satu lampu listrik yang dialiri dari rumah tetangga, itupun tak pernah minta dibayar oleh tetangganya.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Barisan Pemuda Rakyat (BADAR), Dedy Triwijayanto, bersama ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pali, Fardinand Marcos, berencana dalam waktu dekat ini akan mendatangi kedua nenek tersebut untuk memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. (Lidian Heri)

error: