Diplomasi RI Memperjuangkan Kesetaraan Akses Vaksin

Diplomasi RI Memperjuangkan Kesetaraan Akses Vaksin
Menlu RI Retno Marsudi (Ist)

YOGYAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menyampaikan selama pandemi Covid -19 kebijakan politik luar negeri RI tidak banyak berubah meski lebih banyak melakukan diplomasi dalam bidang kesehatan dan vaksin.

Meski demikian, dalam situasi dan tantangan apapun, kebijakan politik luar negeri untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

“Beberapa isu yang mengemuka politik luar negeri selama pandemi adalah diplomasi kita bidang kesehatan dan vaksin, perlindungan WNI dan mengupayakan stabilitas perdamaian kawasan dan dunia,” kata Retno Marsudi saat memberikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru UGM secara daring,  dalam kegiatan Orientasi Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru Program Pascasarjana, Jumat (22/10/2021).

Dalam diplomasi kesehatan dan vaksin, Indonesia menurutnya sangat aktif melakukan diplomasi vaksin. Retno menyampaikan seandainya saat di awal pandemi Indonesia tidak bergerak cepat mencari sumber vaksin akan sulit  melakukan vaksinasi bisa mencapai ratusan juta vaksin.  “Jika tidak bergerak cepat, saya yakin tidak bisa melakukan vaksinasi. Hari ini lebih dari 177 dosis vaksin yang sudah disuntik,” katanya.

Menurutnya dalam situasi kritis kesehatan di awal pandemi, pemerintah melakukan upaya keputusan yang cepat dan tepat. Semua itu dilakukan dengan menggunakan hitungan yang cukup matang.

Bagi Retno tidak mudah Indonesia memenuhi kepentingan rakyat untuk vaksinasi dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa. “Sebuah tugas besar untuk memenuhi jumlah vaksin yang besar,” ujarnya.

Meski Indonesia berhasil memenuhi stok vaksin untuk kebutuhan penduduknya namun Indonesia juga melakukan diplomasi agar negara berpenghasilan rendah mendapat akses yang sama.

Ia menyebutkan ada ketimpangan akses vaksin dimana sekitar 6,7 miliar dosis vaksin sudah disuntikkan, lebih dari 75 persen disuntik di negara kaya. “Kurang dari satu persen negara berpenghasilan rendah yang penduduknya mendapat vaksin,” katanya.

Perjuangannya  yang tergabung dalam Co-Chair COVAX AMC Engagement Group bersama Menteri Pembangunan Internasional Kanda dan Menteri Kesehatan Ethiopia yang memperjuangkan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

“Yang kita lakukan setidaknya 20 persen penduduk dari negara menengah ke bawah menerima vaksin secara gratis. Kita mengupaya dari negara maju dan filantropi,” katanya

Selain memperjuangkan vaksin, kata Retno, pemerintah juga melindungi WNI yang terdampak akibat pandemi. Ia menyebutkan jumlah WNI yang terpapar Covid selama pandemi mencapai 6.010. “Sekarang sudah sehat semua,” katanya.

Pemerintah juga memfasilitasi kepulangan 235 ribu WNI ke Indonesia karena terkena dampak kebijakan pembatasan konektivitas antar negara. Sedangkan yang  terdampak ekonomi, pemerintah memberikan bantuan 771 ribu paket sembako di luar negeri. (bams)

Tinggalkan Balasan

error: