Catut Nama Ponpes Al Kahfi Somalangu saat Minta Sumbangan, Warga Sumenep Dilaporkan Polisi

  • Bagikan
Catut Nama Ponpes Al Kahfi Somalangu saat Minta Sumbangan, Warga Sumenep Dilaporkan Polisi
Pencatutan Ponpes Al Kahfi Somalangu untuk meminta sumbangan diselesaikan dengan restorarive justice (Foto : Wahyudin/Portal Indonesia)

KEBUMEN – Catut Nama Ponpes Al Kahfi Somalangu saat Minta Sumbangan, Hati-hati saat menerima tamu yang meminta sumbangan dengan membawa nama pondok pesantren. Bisa jadi itu hanya modus pelaku kejahatan untuk mendapatkan “tameng”, serta agar mendapatkan uang banyak.

Baru-baru ini, Mahmudi (33) warga Desa Pragaan Daya, Kecamatan Peragaan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diamankan warga karena meminta sumbangan dengan mencatut nama Ponpes Al Kahfi Somalangu.

Mahmudi diamankan saat meminta sumbangan pada hari Senin (27/12), sekitar pukul 15.00 WIB di Desa Kalipurwo Kecamatan Kuwarasan, Kebumen.

Dijelaskan Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama melalui Kapolsek Kuwarasan Iptu Sujatno, diamankannya Mahmudi berawal dari kecurigaan warga yang selanjutnya melakukan pengecekan ke Ponpes Al Kahfi Somalangu, ternyata pihak Ponpes tidak pernah minta sumbangan kepada warga.

Buntutnya, Ponpes Al Kahfi Somalangu yang merasa dirugikan, melaporkan atas dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Mahmudi.

“Setelah mengamankan terlapor, warga melaporkan ke kami. Selanjutnya kasus ini di selesaikan secara hukum, melalui jalur restorasi justice,” jelas Iptu Sujatno saat memimpin restorasi justice di Ponpes Al Kahfi Somalangu, Kamis (30/12).

Kepada polisi tersangka mengaku bisa mendapatkan uang sumbangan lumayan banyak jika mengatasnamakan pembangunan Ponpes Al Kahfi Somalangu.

Hanya hitungan jam, Mahmudi yang ternyata hanya lulusan SD bisa mendapatkan uang sumbangan kurang lebih Rp. 400 ribu

Penasehat hukum Mahmudi, Abdul Waid mengatakan jika kliennya memang sebenarnya adalah suruhan salah satu Ponpes di Jawa Timur untuk melakukan penggalangan dana sumbangan dari masyarakat.

Namun saat mencatut nama Ponpes Al Kahfi Somalangu, ia lebih mudah mendapatkan uang sumbangan.

Selanjutnya karena berbgai pertimbangan, termasuk niat awal memang untuk penggalangan dana sebuah Ponpes di Jawa Timur, laporan dari Pihak Ponpes Al Kahfi Somalangu dicabut.

Namun ada beberapa permintaan dari Pihak Ponpes Al Kahfi yang harus dipenuhi terlapor diantaranya untuk tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

Pihak terlapor, Mahmudi juga telah minta maaf dan menyesali perbuatannya tidak akan melakukan perbuatannya kembali, serta setelah kasus ini diselesaikan dengan jalur restorasi justice ia akan segera kembali ke Sumenep tempat tinggalnya.

Adanya kejadian tersebut Ponpes Al Kahfi Somalangu merasa ducemarkan nama baiknya. Kepada warga, pihak Ponpes Al Kahfi Somalangu, Gus Lukman meminta masyarakat untuk selalu waspada jika ada yang mengatasnamakan Ponpesnya.

Penyelesaian kasus tersebut juga berjalan dramatik. Terlapor, Mahmudi berulang kali mengucapkan terimakasih dan permohonan maafnya karena laporannya telah dicabut oleh pihak Ponpes Al Kahfi Somalangu.

“Ini juga dawuh dari Abah Kyai (Pengasuh Ponpes Al Kahfi, Gus Afifuddin Chanif Al Hasani), kasus ini untuk diselesaikan secara kekeluargaan,” jelas Gus Lukman.

Restorative justice merupakan alternatif dalam sistem peradilan pidana dengan mengedepankan pendekatan integral antara pelaku dengan korban dan masyarakat sebagai satu kesatuan untuk mencari solusi serta kembali pada pola hubungan baik dalam masyarakat.

Dalam hal ini, penyidik memiliki prinsip bahwa hukum pidana merupakan upaya terakhir dalam penegakan hukum dan mengedepankan restorative justice dalam penyelesaian perkara.(Wah)

  • Bagikan
error: