Portal Jatim

Begini Motif Baby Sister Aniaya Bocah 3 Tahun di Kota Malang 

1071
×

Begini Motif Baby Sister Aniaya Bocah 3 Tahun di Kota Malang 

Sebarkan artikel ini
Begini Motif Baby Sister Aniaya Bocah 3 Tahun di Kota Malang 
Pelaku penganiayaan dan kekerasan terhadap anak disampaikan dalam konferensi pers Polresta Malang Kota.

MALANG KOTA – Kasus penganiayaan dan kekerasan yang mencuat di media sosial menarik perhatian publik setelah pelaku berhasil ditangkap. Polresta Malang Kota menyelenggarakan konferensi pers pada Sabtu (30/03/2024) yang turut dihadiri oleh pelaku langsung.

Menurut keterangan resmi yang disampaikan oleh Kapolresta Malang Kota, Kombes. Pol. Budi Hermanto, S.I.K, M.Si, insiden kekerasan terhadap anak ini bermula dari laporan seorang warga Perumahan PJ, Kecamatan Lowokwaru bernama RA. RA melaporkan bahwa IPS (27 tahun), seorang baby sitter, telah melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang berusia 3 tahun, JAP.

“Pada Jumat, 27 Maret 2024, RA melaporkan kejadian ini ke SPKT dan PPA Polresta Malang Kota. Dalam laporannya disebutkan bahwa kejadian tersebut terjadi pada Kamis (26/03/2024) sekitar pukul 04.15 WIB,” ujar Kombes. Budi Hermanto.

Beliau juga menyampaikan bahwa RA curiga setelah melihat cidera di mata kiri anaknya yang dilaporkan oleh IPS sebagai akibat terpeleset. RA kemudian memeriksa rekaman CCTV di kamar anaknya dan menemukan bukti bahwa cidera tersebut disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh IPS, yang sebenarnya bernama Indah.

Kapolresta yang akrab disapa Buher menegaskan bahwa setelah dilakukan pemeriksaan visum terhadap korban, ditemukan cidera di kening dan goresan serta bekas cakaran di telinga kanan dan kiri.

“Unit PPA Polresta Malang Kota terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku. Identifikasi ruangan kamar dari rekaman CCTV dengan kamar korban telah dilakukan dan terdapat persamaan,” tambahnya.

“Saat ini pelaku dalam tahanan kami dan akan dijerat dengan Pasal 80 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda hingga 100 juta rupiah,” tegasnya.

Dari pengakuan pelaku, motif kekerasan tersebut didorong oleh rasa kesal setelah JAP menolak diobati untuk bekas cakaran di telinganya. Selain itu, diketahui bahwa JAP saat ini dalam proses cerai dan tinggal bersama dengan anaknya.