Achmad Jufriyanto tidak pergi jauh dari Persib. Ia hanya pindah sisi lapangan. Buat pembaca yang ingin inti beritanya dulu, klub resmi menarik Jupe masuk ke jajaran staf pelatih tim senior untuk musim 2026/2027. Langkah ini masuk akal bukan karena romantisme semata, melainkan karena Persib sedang memasuki masa transisi teknis bersama Igor Tolic dan membutuhkan figur yang paham isi ruang ganti, kultur klub, dan tekanan khas Bandung tanpa harus belajar dari nol.
Kompetitor ramai menyorot kabar ini karena perannya jelas berbeda dari sekadar seremoni mantan pemain jadi staf. Persib baru mengubah banyak bagian pada level tim utama, dari pelatih kepala sampai struktur pendampingnya. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran Jupe bisa dibaca sebagai penyeimbang. Ia bukan wajah asing yang datang membawa teori dari luar, melainkan orang yang sudah hidup di dalam tuntutan klub ini selama bertahun tahun. Itu sebabnya artikel ini tidak berhenti pada nostalgia empat gelar, tetapi mencoba membaca mengapa penunjukan ini terasa penting justru sekarang.

Kenapa Persib memasukkan Jupe ke ruang teknis sekarang
Dari pengumuman resmi klub, keputusan ini disebut sebagai bagian dari komitmen Persib menjaga kesinambungan nilai, karakter, dan budaya juara. Kalimat seperti itu kadang terdengar formal, tetapi dalam konteks Persib ia punya isi yang cukup konkret. Igor Tolic baru memulai pekerjaan. Beberapa pemain baru juga baru datang. Sementara itu, Persib tetap dituntut langsung rapi karena harus menyiapkan Piala Presiden dan musim kompetisi yang padat. Pada fase semacam ini, klub butuh orang yang tahu bagaimana atmosfer Persib bekerja ketika ekspektasi sedang tinggi.
Jupe cocok untuk peran itu karena ia tidak cuma dikenal sebagai mantan bek. Ia pernah hidup di momen bagus dan momen sulit bersama Persib. Ia paham bagaimana bobotoh membaca performa tim, bagaimana ruang ganti harus dijaga saat tekanan naik, dan bagaimana klub ini biasanya merespons ketika target terasa berat. Pengetahuan seperti itu tidak selalu bisa diajarkan lewat sesi taktik. Kadang ia datang dari kebiasaan harian, cara berbicara ke pemain, dan kemampuan membaca kapan tim butuh dorongan atau justru butuh ditenangkan.
Nilai Jupe lebih besar dari sekadar daftar gelar
Tentu saja catatan prestasinya tetap penting. Jupe ikut berada di skuad juara 2014, lalu kembali menjadi bagian dari fase tiga gelar liga beruntun yang mengukuhkan status Persib di era modern. Namun bila berhenti di daftar trofi, pembahasan jadi terlalu tipis. Yang lebih relevan untuk peran staf pelatih adalah bagaimana ia selama ini dilihat sebagai figur ruang ganti. Klub sendiri menekankan totalitas, loyalitas, dan profesionalisme Jupe sebagai dasar keputusan. Itu memberi petunjuk bahwa Persib mencari sosok yang bisa membantu mentransfer standar kerja, bukan hanya nama yang enak dipamerkan.
Ini penting karena tim pelatih baru biasanya tidak langsung punya bahasa yang sama dengan semua pemain. Di titik itu, figur seperti Jupe bisa menjadi jembatan. Ia tahu kapan pesan pelatih perlu diterjemahkan dengan cara yang lebih membumi. Ia juga paham bahwa pemain Persib tidak cuma hidup di bawah tuntutan skor, tetapi juga di bawah tuntutan identitas klub yang sangat kuat. Tidak semua asisten bisa datang dengan modal seperti itu.
Transisi dari pemain ke staf akan diuji secepat mungkin
Perpindahan peran dari pemain ke staf memang sering terdengar mulus di atas kertas, tetapi lapangan biasanya lebih keras. Jupe kini tidak lagi dinilai dari tekel, duel udara, atau gol penting. Ia akan dinilai dari seberapa cepat bisa menyatu dengan cara kerja Tolic, membantu latihan berjalan efektif, dan menjaga komunikasi dengan pemain agar tetap jernih. Tantangannya berbeda, tetapi justru di situ nilai penunjukan ini akan terlihat.
Persib sudah mulai bergerak di latihan perdana dengan pendamping seperti Zlatko Runje dan Karlo Reinholz berada di lapangan. Masuknya Jupe membuat struktur pendukung Tolic terasa lebih kaya. Ada kombinasi staf yang datang dari jalur teknis luar dan ada juga satu figur yang benar benar paham denyut internal Persib. Secara komposisi, ini menarik. Tolic mendapatkan keseimbangan antara perspektif baru dan memori lama klub.
Efek paling nyata bisa terasa pada pemain baru Persib
Musim ini Persib tidak bekerja dengan grup yang benar benar sama. Ada pemain baru, ada pemain yang kembali dari masa peminjaman, dan ada pemain inti yang sempat terpotong agenda tim nasional. Dalam situasi seperti itu, proses adaptasi jadi bahan bakar utama. Jupe berpotensi membantu di wilayah yang tidak selalu terlihat dari tribune, yakni membantu pemain baru memahami ukuran standar di Persib. Hal ini bukan soal senioritas kosong. Klub besar biasanya punya ritme sendiri, dan orang yang pernah bertahun tahun hidup di sana bisa mempercepat proses masuknya pemain baru.
Pembaca bisa melihat ini sebagai investasi jangka menengah. Kalau penyesuaian berjalan cepat, Persib tidak perlu terlalu lama mencari bentuk. Jika ruang ganti cepat menemukan nada yang sama, pekerjaan teknis Tolic juga lebih ringan. Karena itu, Jupe tidak harus terus berdiri paling depan untuk dianggap penting. Bisa saja kontribusi terbesarnya justru hadir dari obrolan singkat, koreksi kecil, atau pengingat standar yang hanya masuk akal jika datang dari orang yang pernah mengalami sendiri.
Piala Presiden menjadi panggung awal untuk menilai apakah pilihan ini tepat
Persib sendiri sudah menegaskan bahwa Piala Presiden dipakai sebagai fase memanaskan mesin, bukan target glamor yang harus diburu dengan kepala panas. Justru karena itu, turnamen pramusim nanti akan memberi panggung awal yang bagus untuk menilai bagaimana tim pelatih baru bekerja sebagai satu unit. Di situ publik bisa mulai melihat apakah Persib tampak lebih rapi, lebih tenang, dan lebih cepat menyatu dibanding kesan awal saat latihan perdana.
Kalau itu terjadi, peran Jupe akan mudah dipahami. Bukan karena ia tiba tiba jadi tokoh utama, melainkan karena kehadirannya membantu membuat transisi terasa lebih halus. Buat Persib, kadang keputusan yang tampak sederhana justru punya nilai besar ketika musim mulai bergerak cepat. Jupe masuk pada momen seperti itu. Dan kalau pembaca Persib mencari arti terpenting dari penunjukan ini, jawabannya mungkin bukan soal masa lalu. Jawabannya ada pada seberapa berguna ia membantu klub bergerak lebih stabil mulai sekarang.
Artikel ini merujuk pada pengumuman resmi Persib tentang penunjukan Jupe, laporan latihan pertama yang memperlihatkan tim pelatih baru mulai bekerja di lapangan, serta konteks staf pendamping yang sudah lebih dulu dibahas Portal lewat artikel Zlatko dan Karlo. Dari situ, gambarnya cukup terang: Jupe bukan dipasang sebagai penghias nama besar, tetapi sebagai jembatan yang diharapkan membuat era baru Persib terasa lebih masuk akal sejak hari pertama.














