BeritaBerita Bola Hari Iniberita sportOlahragaSepak Bola

John Herdman Fokus ke FIFA ASEAN Cup Usai Bertemu Prabowo, Bukan Sibuk Jual Janji 2030

×

John Herdman Fokus ke FIFA ASEAN Cup Usai Bertemu Prabowo, Bukan Sibuk Jual Janji 2030

Sebarkan artikel ini

John Herdman fokus FIFA ASEAN Cup setelah bertemu Prabowo, dan itu justru terdengar lebih meyakinkan daripada pidato panjang tentang Piala Dunia 2030. Di tengah ramai pembicaraan target besar, pelatih Timnas Indonesia itu memilih kembali ke pekerjaan paling dekat: menyiapkan skuad, mengatur prioritas, dan memastikan agenda regional tidak diremehkan. Pilihan fokus semacam ini penting karena Indonesia terlalu sering terseret oleh kalimat besar sebelum urusan terdekat selesai.

Dari potongan keterangan resmi yang beredar lewat laman Presiden RI dan liputan 24 jam terakhir, pertemuan di Hambalang memang membahas dukungan luas pemerintah terhadap sepak bola nasional. Namun bagi Herdman, dukungan seperti itu baru berguna kalau diterjemahkan menjadi kerja harian. Ia tetap harus memilih pemain, menata ritme tim, dan memastikan FIFA ASEAN Cup tidak diperlakukan sebagai agenda sampingan.

John Herdman fokus FIFA ASEAN Cup usai bertemu Prabowo
Agenda terdekat Timnas Indonesia tetap kembali ke pemilihan skuad dan penataan prioritas menuju FIFA ASEAN Cup.

Itu sebabnya arah percakapan Herdman patut dibaca dari kaca mata teknis. Pada rilis Presiden RI, pemerintah menekankan pembangunan olahraga yang berkelanjutan. Sementara dari jadwal resmi ASEAN Championship, Indonesia sudah tahu bahwa kalender fase grup tidak memberi banyak ruang untuk bersantai: lawan datang cepat, dua laga tandang menuntut kedalaman skuad, dan duel dengan Vietnam hampir pasti akan mengubah peta grup.

Dengan kata lain, pertemuan dengan presiden boleh memberi energi, tetapi tidak mengganti daftar pekerjaan yang sudah menunggu di meja staf pelatih. Herdman masih harus memutuskan pemain mana yang dibutuhkan untuk menang cepat, siapa yang cocok menjaga ritme laga tandang, dan bagaimana membagi menit tanpa mengorbankan intensitas tim.

Kenapa Herdman memilih bicara agenda terdekat

Pelatih yang serius biasanya paham satu hal: target yang terlalu jauh tidak boleh membutakan kebutuhan yang paling dekat. Piala Dunia 2030 memang menarik, tetapi jalan ke sana justru ditentukan oleh kebiasaan menangani turnamen regional dengan benar. Kalau Indonesia gagal rapi di fase semacam FIFA ASEAN Cup, pembicaraan yang lebih besar akan cepat kehilangan pijakan.

Herdman tampaknya mengerti ritme itu. Indonesia perlu membangun tim yang tidak cuma berani saat hype sedang tinggi, tetapi juga stabil ketika masuk jadwal padat. Di sinilah pembahasan soal prioritas skuad menjadi kunci. Ia harus menilai kondisi pemain yang datang dari klub, memantau bentuk fisik mereka, lalu memilih kombinasi yang cukup kuat untuk menang tanpa membuat tim kehilangan keseimbangan di laga berikutnya.

Buat pembaca yang mengikuti grup H Timnas U-20, logika ini terasa akrab. Di level mana pun, turnamen tidak dimenangkan dengan satu headline. Turnamen dimenangkan lewat cara pelatih membaca urutan pertandingan, mengenali kapan harus menyerang, kapan harus sabar, dan kapan perlu mengubah komposisi tanpa membuat identitas tim hilang.

FIFA ASEAN Cup menuntut keputusan skuad yang lebih jujur

Masalah terbesar tim nasional sering muncul ketika skuad dibentuk terlalu politis atau terlalu sentimental. Ada pemain yang dipanggil karena nama, ada yang disorot karena tekanan publik, dan ada yang masuk hanya karena satu penampilan bagus. Kalau Herdman ingin membangun kepercayaan, ia harus membuat FIFA ASEAN Cup menjadi ajang seleksi yang jujur. Artinya, tempat di skuad harus datang dari relevansi taktik dan kesiapan fisik, bukan dari kebisingan di luar lapangan.

Jadwal fase grup menuntut tim yang bisa berganti wajah tanpa kehilangan inti permainan. Laga pertama menuntut start yang tajam. Laga tandang meminta kedisiplinan dan keberanian bermain sederhana. Laga melawan Vietnam hampir pasti menuntut keberanian memegang bola tanpa ceroboh. Itu semua berarti Herdman tidak cukup membawa sebelas pemain terbaik di atas kertas. Ia butuh 18 sampai 20 pemain yang memahami peran masing masing.

Dalam konteks itu, pembicaraan tentang ranking Garuda memang berguna, tetapi hanya sebagai latar. Ranking memberi dorongan psikologis. Turnamen regional meminta pembuktian yang lebih kasar. Satu kesalahan rotasi, satu keputusan lini tengah yang terlalu lambat, atau satu bek sayap yang tidak pulih tepat waktu bisa mengubah seluruh nada kompetisi.

Pertemuan dengan presiden tidak mengganti pekerjaan di lapangan

Ini poin yang sering luput ketika sepak bola terlalu dekat dengan simbol. Bertemu presiden tentu penting. Dukungan negara bisa mempercepat banyak hal, dari fasilitas sampai legitimasi kebijakan. Tetapi pelatih tetap dihakimi oleh apa yang timnya lakukan saat peluit berbunyi. Publik tidak akan mengingat seberapa hangat suasana di Hambalang bila Indonesia tampil ragu di laga pembuka atau kehilangan bentuk ketika jadwal mulai menumpuk.

Karena itu, langkah paling sehat justru menahan euforia. Herdman sebaiknya menerima dukungan itu sebagai dorongan, bukan selimut. Ia perlu menjadikan pertemuan tersebut sebagai penguat posisi saat meminta persiapan yang lebih rapi, koordinasi dengan klub yang lebih disiplin, dan akses data pemain yang lebih cepat. Selebihnya, ia tetap harus membangun chemistry, keberanian menekan, dan variasi serangan dari sesi latihan yang tidak terlihat publik.

Ada banyak pelatih yang pandai bicara tentang proyek besar. Tidak semua sanggup merapikan detail kecil. Pada fase ini, Indonesia lebih butuh tipe kedua. Butuh pelatih yang mengerti bahwa target 2030 akan terdengar masuk akal hanya jika tim terlihat matang dalam hal paling dekat di depan mata.

Ukuran paling masuk akal untuk Herdman dalam waktu dekat

Ukuran keberhasilan Herdman dalam beberapa pekan ke depan seharusnya tidak dibuat kabur. Pertama, skuad harus terlihat masuk akal sesuai lawan dan jadwal. Kedua, pola permainan mesti terbaca lebih tegas, bukan berubah ubah tanpa alasan. Ketiga, Indonesia harus terlihat punya cara menang yang tidak tergantung satu momen kebetulan. Kalau tiga unsur itu terlihat, publik bisa mulai percaya bahwa pembicaraan jangka panjang memang sedang diarahkan dengan serius.

Pada akhirnya, fokus Herdman ke FIFA ASEAN Cup justru kabar baik. Itu menunjukkan pelatih tidak sedang mabuk wacana. Ia tahu timnas tidak dibangun dengan menjual mimpi terlalu cepat. Ia dibangun lewat keberanian mengerjakan yang dekat, yang sulit, dan yang sering membosankan. Kalau itu dilakukan konsisten, target besar akan datang sebagai konsekuensi. Bukan sebagai poster yang terus diulang, tetapi sebagai tujuan yang perlahan masuk akal.

Kiblat Bola