PORTAL-INDONESIA.COM – Kekalahan beruntun Timnas Indonesia dari Irak dan Arab Saudi di babak lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik.
Kali ini, suara paling keras datang dari Coach Justin, yang menilai pelatih kepala Patrick Kluivert sudah kehilangan arah dan kendali di ruang ganti.
“Gue nggak happy bukan karena kalah, tapi karena caranya mengecewakan,” tegas Coach Justin dalam wawancara eksklusifnya.
Menurutnya, bukan hasil akhir yang menjadi persoalan utama, melainkan menurunnya kualitas permainan dan keputusan-keputusan taktis yang tidak masuk akal.
Padahal, sebelumnya Indonesia sempat menunjukkan performa yang menjanjikan.
Patrick Kluivert Disorot: Gagal Taktik dan Manajemen
Coach Justin menilai Kluivert gagal total di tiga sektor penting:
taktik, pemilihan pemain, dan kontrol ruang ganti.
🔴 1. Formasi Tanpa Arah
Sudah tujuh laga dilalui, tapi belum ada starting eleven yang jelas.
Banyak pemain dimainkan di posisi yang bukan spesialisasinya, membuat alur permainan tidak pernah stabil.
“Tujuh pertandingan dan masih coba-coba, itu tanda pelatih nggak ngerti karakter timnya,” ujarnya tajam.
⚫ 2. Telat dan Salah Ganti Pemain
Menurut Justin, Kluivert lamban membaca permainan.
Beberapa kali, pemain yang tampil buruk dibiarkan terlalu lama di lapangan.
Tidak ada efek kejut dari bangku cadangan.
“Kalau pemain jelek, ya ganti. Karena lo punya pemain bagus di bench,” tambahnya.
⚪ 3. Ruang Ganti Tak Lagi Solid
Kasus unggahan Justin Ambran di media sosial dianggap bukti paling jelas bahwa Kluivert kehilangan kendali di ruang ganti.
Hal ini, kata Justin, tidak akan terjadi kalau pelatih punya otoritas penuh dan kedekatan emosional dengan para pemain.
Masalah Lama: Finishing dan Mentalitas
Coach Justin menyoroti bahwa masalah finishing dan ketenangan di depan gawang masih menjadi penyakit klasik Timnas, bahkan sejak era Shin Tae-yong.
“Kita bisa pegang bola, tapi tetap nggak bisa cetak gol. Dari dulu begitu,” ucapnya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kerja keras para pemain yang disebutnya “sudah kasih semuanya”.
Yang disesalkan justru strategi dan rotasi pemain yang tidak membantu tim berkembang.
PSSI & Erick Thohir Tak Lepas dari Sorotan
Nama Erick Thohir dan PSSI juga ikut terseret dalam diskusi publik.
Namun Justin menegaskan bahwa bukan federasi yang salah arah, melainkan pilihan pelatih yang tidak tepat.
“Timnas gagal, iya. Tapi proyek jangka panjangnya jangan sampai dirombak,” jelasnya.
Ia menilai pembinaan pemain muda, kerja sama dengan akademi luar negeri, dan filosofi “DNA Belanda” masih harus diteruskan — hanya kepala proyeknya yang perlu diganti.
Usulan Pengganti dan Arah Baru
Dalam wawancara itu, Coach Justin juga menyarankan agar PSSI segera mengevaluasi posisi Patrick Kluivert dan mencari pelatih baru yang lebih berpengalaman.
Beberapa nama yang ia sebut antara lain Fred Rutten, Dick Advocaat, hingga Bert van Marwijk — sosok dengan rekam jejak panjang di Eropa dan paham kultur sepak bola Asia.
“Kerangkanya udah ada. Tinggal cari pelatih senior yang bisa merangkul semuanya,” katanya menutup.
Kesimpulan: Timnas Gagal, Tapi Proyek Jangan Mati
Coach Justin menekankan bahwa gagal lolos ke Piala Dunia bukan akhir segalanya.
Yang lebih berbahaya adalah kalau PSSI merombak semua sistem yang sudah dibangun.
“Sepak bola Indonesia nggak mati cuma karena nggak lolos. Tapi kalau kita rombak total, itu yang bikin mati.”
Kritik keras ini menjadi refleksi penting bagi federasi dan publik sepak bola Indonesia — bahwa untuk bangkit, Timnas tidak butuh nama besar, tapi pemimpin yang benar-benar bisa mengontrol tim dan memahami DNA Garuda.














