KhazanahPortal Jatim

5 Hari Lagi Haul Kiai Mu’iz Pendiri Ponpes Al-Munir Besuki Bakal Digelar

49
×

5 Hari Lagi Haul Kiai Mu’iz Pendiri Ponpes Al-Munir Besuki Bakal Digelar

Sebarkan artikel ini
5 Hari Lagi Haul Kiai Mu'iz Pendiri Ponpes Al-Munir Besuki Bakal Digelar

SITUBONDO – Haul pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Munir Desa Kalianget Kecamatan Banyuglugur Kabupaten Situbondo, Almarhum KH Raden Abdul Mu’iz Idris, dalam waktu dekat ini bakal digelar.

Seperti dikutip Pro Jatim, Selasa (25/4/2023), Haul KH Raden Abdul Mu’iz Idris akan digelar pada 30 April 2023 atau 10 Syawal 1444 Hijriyah, sekitar pukul 17.45 WIB hingga selesai.

Scroll kebawah untuk lihat konten

Bagi warga dan alumni serta simpatisan Ponpes Al Munir Besuki Situbondo ini, diharapkan kehadirannya di acara haul Kiai Mu’iz tersebut.

Berikut profil singkat DR. KHR. Abdul Mu’iz Idris Al-Qudusy, ulama keturunan Sunan Kudus yang biasa akrab dengan panggilan Kiai Mu’iz ini :

KH. Abdul Muiz adalah putra KH. Idris, dari 11 saudara yang merupakan cucu KH. Sarqowi, pendiri Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-guluk Sumenep Madura.

Beliau dikenal sebagai seorang pengayom ummat lewat nasehat dan kepeduliannya terhadap problematika yang dialami oleh masyarakat, baik masalah yang bersifat pribadi maupun yang bersifat umum.

Dalam pengembaraannya, Kiai Muiz bertemu dan berjodoh dengan seorang gadis bernama Zaitun, putri KH. Abdul Aziz, yang kemudian dinikahinya dalam usia 28 tahun.

Istri beliau juga merupakan cucu kesayangan KH. Rois, pendiri Pondok Pesantren Nurul Hikam, Desa Sambirambak, Panji, Kabupaten Situbondo.

Tiga tahun setelah menikah, Kiai Muiz hijrah ke Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.

Di desa itu, beliau menempati tanah berukuran 6 x 10 m2 di pinggiran pantai yang masih rawa-rawa.

Di atas tanah tersebut dibangun rumah semi permanen yang berukuran 4×6 meter yang dijadikan tempat kediaman dan sekedar tempat berteduh.

Berkat keistiqomahan, kesabaran dan keikhlasannya ternyata mendapat sambutan positif oleh masyarakat sekitar.

Hingga pada tahun 1970 mulailah santri berdatangan dari segala penjuru hingga mencapai 500 santri untuk menuntut ilmu agama.

Kiai Muiz juga aktif di organisasi kemasyarakatan, baik NU, IPNU, GP Ansor, LP Ma’arif dan beberapa organisasi lainnya.

Selain itu, dia juga dikenal sebagai kiai yang mempunyai dedikasi terhadap regenerasi Islam yang ditunjukkan melalui pengajian dan pendidikan yang tidak dikenal lelah, untuk dijadikan sarana pembinaan masyarakat dengan segala upaya.

Kiai Muiz yang masih keturunan Sunan Kudus ini, terasa dekat di hati masyarakat.

Masa remaja beliau banyak dihabiskan di pesantren yang berada di lingkup rumahnya sendiri.

Dalam menguasai ilmu agama, Kiai Muiz dikenal sebagai kiai yang menguasai literatur agama, baik yang salaf sampai yang ditulis para intelektual Islam modern.

Sebagai seorang kiai, Kiai Muiz juga seorang pemerhati dan hobi kesenian.

Kegemarannya terhadap rebana, disalurkannya dalam komunitas hadrah yang dijadikan sarana dakwah pengenal sejarah Nabi.

Tidak hanya itu, kiai Muiz juga menggemari musik gambus. Jadi tidak heran bila beliau menguasai alat musik secara otodidak dapat beliau kuasai.  Seperti rebana, biola, dan gitar.

Ada tiga hal yang selalu diajarkan Kiai Muiz kepada santrinya.

Pertama, mendirikan Sholat sebagai benteng diri dari perilaku yang bisa mengarahkan terciptanya keburukan dan kejahatan serta kekejian.

Kedua, senantiasa baik sangka kepada Allah di dalam berdzikir.

Ketiga, berdoalah agar tidak sombong, ujub dan takabur.

Berkat kecintaanya terhadap pengembangan masyarakat dan pengabdiannya di bidang keilmuan, pada tanggal 23 April 2000, beliau mendapatkan gelar Doktor kehormatan (Honoraris Causa) di bidang managemen masyarakat dan keagamaan dari ITM Malaysia.***

error: