Sensasi Menjadi Guru di Atas Awan, Bagaikan Pembalap Off Road

  • Bagikan
Arif Nurhidayat, Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Sumber

Tulisan ini didesikasikan pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2021 sebagai wujud ekspresi bahwa mengajar di daerah pelosok dilakukan dengan suka cita dan riang gembira. Tak banyak yang mengetahui bagaimana perasaan jiwa seorang pendidik manakala ditempatkan harus mengajar di daerah dengan serangkaian masalah yang dihadapi. Sarana transportasi yang susah, prasarana sekolah yang minim, motivasi belajar siswa yang rendah bahkan sampai pada ongkos operasional sekolah yang kurang. Semua ini timbul setelah penulis menjadi guru lebih dari tujuh tahun di SMAN 1 Sumber Kabupaten Probolinggo. Sekolah yang terletak kurang lebih 30 kilometer dari pusat kota Probolinggo dan membutuhkan waktu sejam berkendara motor dengan menyusuri hutan pinus dan mahoni ini berdiri sejak 2009. Bermula yang hanya memiliki satu kelas dan itupun menumpang di SMPN 1 Sumber, kini melesat perlahan-lahan memiliki sarana prasarana sekolah  seperti kantor, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium IPA, laboratorium TIK, dan lapangan volly. Bisa dibilang lebih lengkap dibanding awal berdiri walaupun tidak selengkap sekolah lain. Salah satu cara mempromosikan sekolah supaya mendapat siswa lebih banyak, maka SMAN 1 Sumber menggunakan strategi membuka ektrakurikuler volley. Karena Olah raga tersebut merupakan primadona  bagi masyarakat setempat, tidak memandang usia baik anak-anak maupun dewasa sangat antusias bermain volly.

Menghadirkan rasa cinta adalah jimat pamungkas sebagai kekuatan batin dalam menjalini sebagai pendidik. Betapa tidak mungkin ketika berbagai macam masalah ditemui hingga memeras tenaga, materi, maupun fikiran harus dihadapi yang bisa mempengaruhi perasaan malas pun muncul dan menghinggapi dihati. Hanyalah dengan menghadirkan perasaan mencintai sekolah dengan segala kekurangan dan kelebihannya tetiba menggugah hati untuk bergerak dan menyapa anak didik disekolah. “Selamat Pagi anak-anak” kalimat sapa ini yang menjadi pemicu rasa cinta yang harus dihadirkan tiap hari disekolah.

Serasa menjadi pembalap off road

Jarak tempuh yang jauh dan sulitnya medan menjadikan para guru harus memiliki ketangguhan fisik dan juga kendaraan yang digunakan. Berbeda menjadi guru di perkotaan, mereka tak akan pernah berfikir lebih, agar mereka sampai disekolahnya. Tak akan pernah dijumpai jalan kelok dan tanjakan cinta (tanjakan ekstrim) bahkan besi beton mengangah yang siap kapan saja menusuk ban setiap kendaraan yang melintasi akibat bekas jalan cor yang rusak. Belum lagi jalan berlubang dan bebatuan seolah  sedang menyebrang sungai yang sedang tidak ada airnya. Itulah kenapa ketangguhan fisik dan kendaraan menjadi yang paling utama dari sekedar perangkat mengajar. Sejenak terlintas seakan para guru yang mengabdi di daerah pelosok ini pernah  sesekali berpikir ganti profesi menjadi pembalap off road saja. Mereka sudah terlatih banting setir sana sini.

Persembahan untuk Para Guru yang Mengabdi di Pelosok dan Semangat Juangnya

Meski medan mereka berat, semangat guru untuk mencerdaskan anak-anak bangsa di daerah pelosok ini tidak pernah luntur. Melihat kehadiran peserta didik saja disekolah membuatnya sangat istimewa. Nampak wajah kelelahan dan kusut saat pagi hari disekolah sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Bagaimana tidak, ada yang berangkat ke sekolah harus menempuh jalan kaki dan menyebrang sungai untuk menuju jalan utama lalu masih berdiri dipinggir jalan  menunggu tumpangan agar bisa sampai kesekolah. Kadang-kadang juga ada yang datang terlambat dengan mengenakan seragam tanpa mempedulikan kerapian karena baru saja berangkat dari ladang untuk bekerja membantu orang tua mereka. Beginilah potret betapa istimewanya kehadiran soosk siswa di sekolah tiap harinya.

Melihat kondisi seperti ini, siapa yang hatinya tidak tersentuh untuk menaruh perhatian agar pendidikan tetap berjalan walaupun keadaan tidak sesempurna seperti sekolah-sekolah lainnya. Bagai menyalakan lentera api yang harus dijaga agar tak padam itulah kira-kira semangat dan motivasi para guru agar tidak mudah menyerah dan tetap teguh pada tujuan awal yaitu mencerdaskan anak-anak bangsa.

Mengajar akademik atau non akademik

Bagi sekolah dipelosok daerah tantangan terbesar dengan segala keterbatasan sarana prasarana yaitu bagaimana harus mampu membaca potensi yang bisa dikembangkan. Selaras dengan kearifan lokal potensi yang dimilikinya untuk bisa dikembangkan adalah hal utama yang diajarkan dalam proses mengajar disekolah. Alamlah yang menuntut kita harus berfikir cermat, cerdik dan tepat supaya kita bisa menemukan sebuah potensi yang bisa digali dan dikembangkan untuk dijadikan skala prioritas sebagai bagian dari proses pembelajaran disekolah. Walaupun pada kenyataannya, bahwa potensi yang muncul tidak ada hubungannya dengan akademik siswa melainkan sesuatu yang justru menurut penulis sangat dibutuhkan sebagai bekal hidup yaitu soft skill. Sungguh tak pernah terlintas untuk mengenyampingkan akademik, tapi keadaanlah yang harus memilih bagaimana cara mengajar di daerah pelosok. Toh sejatinya pendidikan itu juga tidak hanya mengajarkan bagaimana berhitung, membaca dan menulis justru menanamkan nilai-nilai karakter dan melatih skill mereka lah yang menentukan kelak mereka bisa bertahan hidup.

 

Penulis Arif Nurhidayat, S. Pd

Guru SMAN 1 Sumber Kab. Probolinggo

77 Views
  • Bagikan
error: