Rumah Adat Kudus, 5 Tahun Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

  • Bagikan
Rumah Adat Kudus (Joglo Pencu)

KUDUS – Lima tahun yang lalu. Tepatnya 27 Oktober 2016 Rumah Adat Kudus (Joglo Pencu) ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2016 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penetapan WBTB ini dilakukan sebagai suatu upaya Pemerintah agar tetap terus lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya sehingga dapat menguatkan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki nilai luhur.

Penetapan tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda yang merujuk pada 5 hal dan sesuai dengan Konvensi 2003 Unesco yakni tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, serta kemahiran kerajinan tradisi

Menurut Ketua Tim Ahli Penetapan WBTB Indonesia, Tety Pundenta, sidang penetapan berlangsung delapan bulan karena tim harus turun ke lapangan untuk memverifikasi karya budaya dan juga meneliti naskah akademis dari pemerintah daerah/pemerintah kabupaten/kota. Karya budaya yang menjadi WBTB Indonesia berarti telah diverifikasi, diuji dan dikaji keberadaannya

Warisan budaya harus berumur sekurang-kurangnya dua generasi dan bertahan sampai sekarang. Penetapan WBTB ini berdampak pada pelestarian kedepan. Peran pemerintah daerah/pemerintah kabupaten/kota sangat penting.

Khusus Rumah Adat Kudus “domain”nya adalah kemahiran dan kerajinan tradisional.
Dalam tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 150 karya budaya dari 34 provinsi. Dengan demikian sudah tercatat 474 karya budaya yang ditetapkan menjadi WBTB Indonesia.

Rinciannya pada 2013 (77 karya budaya), 2014 ( 96), 2015( 121). Sedang tahun 2021, masih dalam proses penetapan dan Kabupaten Kudus mendaftarkan Dandhangan- tradisi menyanbut puasa ( bulan)

Menurut hasil penelitian Prof DR Moh Umar dari IKIP Semarang pada 1987, tim peneliti Kanwil Depdikbud Provinsi Jateng (24-27 Agustus 1989), serta tim seksi kebudayaan Depdikbud Kudus (Munatin, Sutarna, S Dwija Sumono), pada dasarnya arsitektur gaya bangunan RAK mengkomunikasikan tentang pengaaturan tata ruang, sistem ekonomi, waktu dan falsafah hidup kemasyarakatan ayng bersumber dari Sang Maha PenciptaNYA. RAK merupakan perpaduan antara budaya pra Islam yang biasa disebut gaya arsitktur Mojopahitan dan budaya China .

Pada jaman pekembangan Islam di Kudus sudah ada emigran China yang beragama Islam dan salah satu diantaranya yang paling menonjol adalah The Lieng Sing. Ia dikenal sebagai mubaligh dan sekaligus pemahat- pengukir aliran Sun Ging.

Dari tangan The Lieng Sing itulah, menjadi salah satu unsur pokok penyelasaian gaya arsitektur tradisional RAK. Hal ini bisa dilihat dari bentuk dan motif ukir pada krobongan (bagian dari RAK), bentuk regol dan kongsol yang bermotif ukiran bercirikan ular naga..

Selain The Lieng Sing, sosok lain yang berperan besar dalam arsitektur RAK adalah Ragamaya. Ia dikenal sebagai tukang kayu ulung, khususnya dalam membuat RAK.

Konon pendopo Kabupaten Kudus adalah salah satu karya terbesarnya. Ia juga meninggalkan warisan berupa buku Rajah Ragamaya dan alat pertukangan ( jangkar besi dan siku besi) yang sampai sekarang tersimpan di salah satu perangkat Desa Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu (Kudus).
Nilai filosofis

Menurut hasil penelitian, RAK memiliki nilai normatif dan filsafat, yang tercermin dari, saka (tiang) geder, saka guru, blandar penuwun, blandar kayu sengon, reng adhem ati, pakiwan dan arah rumah (selatan).

Saka geder adalah tiang rumah tunggal yang terletak di ruang jogosatru. Melambangkan Allah itu tunggal dan tegak kokoh seperti huruf Arab, alif. Atau mengingatkan kepada setiap manusia —terutama penghuni RAK agar selalu beriman dan bertakwa kepada Tuhan.

Soko guru, berjumlah empat buah merupakan penyangga utama RAK dan diartikan agar penghuninya menyangga kehidupan diri sendiri dengan mengendalikan empat nafsu manusia, yaitu amarah, luamah, supiyah dan mutmainah.
Blandar penuwun terletak di bagian atas (puncak) rumah. Artinya tempat manusia memohon selalu ke atas (Tuhan, Sang Maha Pencipta)

Blandar kayu sengon, salah satu jenis kayu yang difungsikan sebagai blandar pinggang. Bermakna mengingatkan manusia agar selalu ingat kepada Sing Angon Jagat Raya , yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Reng adhem ayem, adalah reng dengan jenis kayu adhem ayem yang diselipkan diantara reng-reng lain yang terbuat dari kayu jati. Artinya pemilik rumah selalu hidup dalam kententraman.

Pakiwan berupa sebuah sumur, kamar mandi dan padusan (tempat wudlu). Terletak di sebelah kiri depan RAK atau tepatnya di depan pintu luar menuju dapur.Maknanya tempat untuk membersihkan diri secara phisik maupun rohani.

Sedang di seputar pakiwan ini biasanya ditanami pohon belimbing (rukun Islam), pohon puring ( tegar menghadapi kesulitann hidup), pohon andong ( tanggap situasi), pohon pandan wangi ( rejeki yang harum/halal), pohon/kembang melati ( keharuman dan kesucian abadi).

Menghadap arah selatan , adalah letak RAK yang berdasarkan hukum alam (falak), bila di musim kemarau bagian depan rumah tidak langsung terkena sinar matahari. Pada musim penghujan, tritisan depan rumah tetap terlindung dari terpaan air hujan. Tidak “memangku” Gunung Muria, tidak membelakangi saat datangnya tamu raja laut selatan (Ratu Nyai Roro Kidul) dan filsafat orang Jawa “ Ngungkurake gunung, mangku samodra lan pasabinan” ( membelakangi gunung (Muria), menghadap samodra (laut) dan dikelilingi sawah/perkebunan).

Nilai normatif

Adapun nilai-nilai normatif RAK mencakup bentuk dan struktur. Bentuk RAK adalah joglo pencu. Sedang strukturnya terdiri dari landasan phisik berupa lima trap atau landasan yang berada di atas permukaan tanah.

Yaitu bancik kapisan (1), bancik kapindo (2), bancik katelu (3), jogan jogosatru (trap lantai ruang depan) dan jogan lebet ( trap lantai ruang dalam).

Lalu kerangka bangunan mencakup sokoguru bangunan, pengeret tumpang sanga (9) atau tumpang pitu (7) atau tumpang telu (3), tergantung tinggib rendahnya kemampuan pemilik rumah..

Adapun tata ruang RAK tergolong sederhana, yaitu dengan pagar hidup di sekeliling rumah. Lalu ruang jogosatru (ruang tamu), ruang dalam berfungsi sebagai kamar dan tempat menyimpan benda-benda berharga dan benda pusaka. Ditambah ruang dapur, ruang makan dan lumbung (gudang)

Sedang untuk mendirikan RAK terlebih dahulu dilaksanakan upacara selamatan “bukan tableg”, dengan uba rampe (perlengkapan) berupa kembang telon, bubur merah putih, ingkung ayam, nasi tumpeng, jajan pasar dan kendi berisi air putih. Upacara ini dipimpin pinisepuh atau kiai setempat.

Setelah itu ditindak lanjuti dengan upacara munggah tongsit (atap bangunan/kerangka) dengan perlengkapan yang mencakup 16 macam.. Dari sepasang ikan sungai, anak pohon pisang, padi pengantin, bendera merah putih, kelapa gading, pisang raja, lampu minyak, ingkung ayam jago, bubur hingga kembang .

Upacara baru diakhiri dengan upacara ulih-ulihan, yaitu upacara selamatan dan ucapan rasa syukur setelah rumah jadi 100 persen dan siap dihuni. Adapun uba rampenya terdiri alat-alat kebersihan, gentong (tempat air dari tanah liat ukuran besar), siwur ( gayung air terbuat dari tempurung kelapa), tikar, lampu gantung, ambengan lengkap, genuk beras (tempat menyimpan beras), panganan berupa jadah, nagasari, gemblong dan sebagainya.

Dijual belikan .

RAK juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi undang-undang nomor 11 tahun 2010, namun kenyataannnya cukup banyak RAK yang diperjual-belikan di luar Kudus, sehingga tinggal beberapa rumah saja yang tersisa. Dalam pengertian kondisinya masih komplit dan asli.

Meski bukan tergolong RAK yang komplit dan terbaik, Pemkab Kudus bekerjasama dengan Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK), telah memiliki sebuah RAK yang ditempatkan di bagian kiri Museum Kretek di Desa Getaspejaten Kecamatan Jati, sekitar tiga kilometer selatan komplek Kantor Bupati Kudus.

Sedang harga sebuah RAK yang masih komplit mencapai ratusan juta rupiah, hingga tembus lebih satu setengah miliar rupiah.. Tergantung motif ukirnya yang terdiri dari satu dimensi, dua dimensi atau tiga dimensi. Semakin tinggi dimensinya semakin mahal, karena cara mengukirnya lebih rumit dan bahan bakunya juga lebih banyak (tebal). Umumnya pembeli RAK berasal dari kalangan pengusaha, artis hingga kolektor.

Harga bisa ditekan lebih rendah, jika menggunakan bahan baku bukan kayu jati berusia puluhan tahun, namun kayu jati muda atau dari bahan kayu lainnya. Pembeli yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia, bisa memesan kepada para pengrajin RAK yang jumlahnya puluhan.

Menurut Ketua klaster gebyok dan RAK, Bintong MR, sebagian besar pembeli, tidak membeli dalam bentuk satu rumah utuh, tetapi cukup membeli gebyoknya saja (bagian depan, yang terdiri pintu, dua jendela dan dinding).. Harga dihitung dari panjang pendeknya serta dimensi ukirannya.

“Sayang banyak warga Kudus sendiri yang tidak mau atau tidak tertarik membangun rumah seperti RAK. Meski hanya terbatas pada pintu atau jendela, atau dinding, atau sekedar berbagai asesorisnya saja. “ tuturnya.

Bahkan di kalangan gedung pemerintahan maupun swasta sangat jarang ditemukan pernak-pernik RAK, meski Pemkab Kudus telah mengeluarkan peraturan daerah tentang keharusan mentrapkan pernak pernik tersebut pada setiap bangunan perkantoran, gedung sekolah dan sebagainya.

Akan lebih baik lagi ketika Pemkab juga mengecek ke lapangan apakah peraturan daerah tersebut sudah dilaksanakan atau belum. Apalagi setelah RAK telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (Suprapto)
.

13 Views
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: