13 Desa di Kabupaten Kudus Rawan Banjir

  • Bagikan
Pintu air Wilalung (Foto : Suprapto/Portal Indonesia)

KUDUS – Paling tidak ada 13 desa yang tersebar di lima kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kudus yang rawan diterjang banjir. Bahkan sebagian besar diantaranya dikenal sebagai “pelanggan” banjir.

Padahal menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Budi Waluyo, Senin (25/10/2021) yang mengutip Badan Meterologi Klimatologi Geofisika (BMKG), diperkirakan awal 2022 terjadi musim hujan ekstrim (curah hujan tinggi, badai, petir yang berlebihan).

“Oleh karena itu kami mengingatkan kepada segenap warga. Khususnya yang tinggal di 13 desa di lima kecamatan untuk lebih berhati-hati. Atau menyiapkan sesuatunya untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana,” tegasnya.

Tiga belas desa tersebut adalah : Desa Kesambi, Temulus, Kirig , Golantepus Kecamatan Mejobo. Desa Tanjungkarang, Jetis Kecamatan Jati, Desa Karangrowo, Ngemplak, Wates Kecamatan Undaan, Desa Setrokalangan, Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu, Dan Desa Bulungcangkring, Bulung Kulon Kecamatan Jekulo.

Menurut catatan Portal Indonesia, ke-13 desa tersebut berada di wilayah rendah berdekatan dengan sungai sungai besar. Bencana banjir akan menimpanya ketika curah hujan yang turun di seputar Gunung Muria wilayah Kabupaten Kudus dengan intensitas tinggi.

Apalagi jika dibarengi dengan daerah/kabupaten tetangga yang berada di bagian atas juga turun hujan lebat.
Sebab aliran sungai di daerah atas, yaitu di seputar Kabupaten Blora, Grobogan , sebagian Boyolali, Sragen dan Salatiga sebagian besar mengalir ke laut Jawa.

Diantaranya melalui pintu pembagi banjir Wilalung di Kecamatan Undaan Kudus.
Menurut Tawar, salah satu petugas jaga pintu Wilalung, secara umum, debit banjir dari daerah atas ( seputar wilayah Kabupaten Blora, Grobogan, Sragen, Boyolali) masih rendah.

“Meski demikian dalam status Siaga III, warga yang tinggal di seputar daerah aliran sungai (DAS). Khususnya DAS Wulan yang sebagian berada di wilayah Kecamatan Undaan dan Jati (Kudus), Karanganyar, Mijen, Wedung (Demak) harus ektra hati-hati. Terutama yang berada di seputar tanggul rawan jebol. Mengingat laju banjir sebelum mencapai Laut Jawa di wilayah Demak, melewati wilayah itu lebih dahulu.” ujarnya.

Dengan debit abnjir yang mencapai 550 — 819 meter kubik tersebut, tambah Tawar membuktikan daerah atas masih belum terbebas dari sisa-sisa aksi penjarahan hutan 1988/1989 yang mengakibatkan sebagian besar hutan di wilayah ini porak poranda.

Kondisi itu menjadikan curah hujan menggelinding bebas tanpa hambatan. Kemudian diperparah dengan kondisi Kali Lusi, Kali Serang serta ana-anak sungainya yang belum pernah terjamah normalisasi. Kedua kali skala besar tersebut bertemu di Purwodadi, kemudian menyatu menuju pintu Wilalung.

Dari pintu Wilalung yang berjumlah 11 buah, banjir digelontorkan ke arah Kali Wulan melalui dua pintu. Ketika dinormalisasi sekitar enam- tujuh tahun lalu, Kali Wulan mampu menampung debit banjir hingga 1.110 meter kubik per detik. Namun pada saat sekarang menurut Tawar sangat sulit untuk menampung hingga lebih dari 900- 1.000 meter kubik/detik, jika itu terjadi hampir dipastikan Kali Wulan meluap dan menimbulkan banjir.

Sedang 9 pintu yang mengarah ke Kali Juwana, beberapa diantaranya rusak dan sengaja dimatikan, sehingga sebagian besar debit banjir ditumpukan kepada Kali Wulan. Sedang Kali Juwana yang pernah menjadi tumpuan utama (sebelum dialihkan ke Kali Wulan) kondisinya belum ada 50 persen dinormalisasi, sehingga potensi ancaman masih cukup serius. (Suprapto)

18 Views
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: