Ziarah ke Makam Sunan Kudus, Naik Ojek Resmi Atau Liar?

  • Whatsapp
Kepala Terminal Bakalan Krapyak, Rosi (Foto : Suprapto/Portal Indonesia)

KUDUS – Bagi peziarah dengan tujuan Masjid Menara Makam Sunan Kudus (M3SK) di Kota Kudus (Jawa Tengah) sebaiknya hati hati saat menumpang ojek motor. Sebab ada pengojek resmi dan pengojek liar.

Salah satu resiko jika menumpang ojek liar, tertimpa musibah dalam perjalanan, maka tidak ada yang bertanggung jawab. Sebaiknya memilih ojek atau jenis angkutan lain yang telah ditetapkan pemerintah- dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus.

Bacaan Lainnya

“Kami sangat sering memperingatkan kepada calon penumpang ojek atau angkutan lain. Tapi kami tidak berhak untuk memaksa- hanya sekedar “woro woro” saja. Terserah kepada setiap peziarah. Terkadang situasinya berbeda,” tutur Kepala Terminal Wisata Bakalan Krapyak, Rosi yang ditremui Portal Indonesia, Senin siang ( 4/10/2021)

Menurut Rosi, pihaknya secara “aturan main”tidak bisa menindak pengojek liar tersebut dan lebih tepat pada pimpinan / pengurus ojek resmi- yang keberadaannya diketahui pihak Dishub maupun kepolisian — khususnya polisi lalulintas.

Dia menambahkan, kehadiran pengojek liar juga mengakibatkan hasil pendapatan pengojek resmi turun. Begitu pula menyangkut retribusi yang diperoleh Dinas Perdagangan.

Perbedaan

Sugiyono, salah satu pengurus ojek Menara membenarkan adanya pengojek liar. Dan pihaknya sudah seringkali memperingatkan agar tidak lagi mengulangi perbuatannya.

“Saya sedikit banyak bisa mengatasi-mengendalikan, jika pengojek liar itu beroperasi pada saat “jam kerja” pengojek resmi. Yaitu sejak pukul 17.00 — 06.00 waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Jika mereka “operasi” pada pagi hari kami tidak bisa berbuat apa apa” ujarnya pada Portal Indonesia, Senin malam (4/10/2021).

Setiap pengojek Menara, dalam menjalankan pekerjaannya selalu menggunakan rompi warna hijau disertai nomor dan berhelm warna merah. Pengojek ini hanya “bertugas” mengantar peziarah/wisatawan dari komplek M3 SK menuju terminal wisata Bakalan Krapyak.
Setelah itu pengojek kembali ke pangkalan ( seputar M3SK) dan dilarang membawa penumpang dari koimplek terminal wisata Bakalan Krapyak.

“Karena anggota pengojek Bakalan Krapyak yang bergantian membawa- mengantarkan peziarah-wisatawan ke M3SK. Dan seperti halnya kami, teman pengojek Bakalan Krapyak, juga dilarang membawa penumpang /peziarah/wisatawan dari komplek M3SK. Mereka juga menggunakan rompi yang berbeda, yaitu oranye dan helm warna putih” tambah Sugiyono yang mengaku harus mengontrol — berpatroli selama pukul 17.00 — 06.00 WIB

Ia menambahkan, jumlah anggota Ojek Menara sekitar 500 , namun saat ini yang rutin “beroperasi” hanya sekitar 100 orang saja. Disebabkan, jumlah peziarah/wisatawan belum seramai dibanding pada masa sebelum berkecamuknya wabah Covid-19. “

Kebetulan tidak ada yang menggantungkan penghasilannya dari pengojek. Pengojek itu samben. Sebagian besar adalah tukang-pekerja bangunan. (Sup)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan