Olah Kulit Semangka Jadi Obat Diabetes, Tiga Santri Genggong Raih Medali Emas Kejuaraan di Jepang

  • Whatsapp
Ketiga santriwati peraih medali emas bersama sejumlah pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. 

PROBOLINGGO. portal-indonesia.com – Luar biasa, tiga orang santriwati Ponpes Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo, Jawa Timur, telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Mereka adalah Fiorenza Annafisa, Firdausiah dan Wini Wahda Uliyawati.

Ketiga santriwati yang merupakan siswi MA Model Zainul Hasan Genggong ini, berhasil meraih juara pertama dan membawa medali gold (emas) dalam perlombaan International Award Japan Design, Idea dan Invention Expo.

Bacaan Lainnya

“Perlombaannya diselenggarakan di negeri Sakura, Jepang”, kata Nafisa (panggilan akrab Fiorenza Annafisa), Minggu (26/9/2021).

Nafisa dan temannya dalam perlombaan tersebut membuat olahan limbah berbahan kulit Semangka dan daun Stevia menjadi minuman berkhasiat.

“Nama minumannya adalah Nata De Citrilus. Minuman ini terbuat dari limbah kulit Semangka dan juga daun Stevia”, ujar Nafisa, Minggu (26/9/2021).

Awalnya tidak menyangka bakal berhasil meraih juara pertama dan membawa medali emas karena dalam perlombaan tersebut, karena Nafisa dan kedua temannya harus bersaing dengan 35 Negara tetangga.

Namun ternyata produk olahan limbah berbahan kulit Semangka dan daun Stevia menjadi minuman berkhasiat, dan ampuh mengobati penyakit diabetes hasil karya ketiga santriwati itu mendapat nilai terbaik dari segi produk, manfaat dan juga presentasi.

“Alhamdulillah kami senang dan bangga mendapatkan nilai terbaik dan berhasil meraih medali emas tingkat internasional di Jepang” ucap Nafisa.

Nafisa mengatakan, selain untuk mengobati penyakit diabetes, minuman itu juga memiliki fungsi untuk mencegah penyakit itu. “Jadi minuman tersebut boleh diminum oleh selain penderita diabetes”, ujarnya.

Sementara itu, slah satu Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong yang akrab dengan panggilan Gus Haris, sangat mengapresiasi pencapaian ketiga santriwatinya itu.

“Ini suatu kebanggaan tersendiri bagi kami, ini adalah sebuah kreasi semoga tidak berhenti sampai di sini”, tutur Gus Harus.

Gus Haris tidak menyangka dalam kejuaraan di Jepang tersebut, mereka bisa menjadi yang terbaik. Hal tersebut membuktikan, bahwa mereka mampu berkarya dan mengukir prestasi di tengah pandemi ini.

“Ini adalah sebuah syi’ar bahwa pesantren mampu melakukan, bersaing dengan 35 Negara, dan mendapatkan medali emas” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan