2024 Targetkan Produksi Gula Konsumsi Capai 3,2 Juta Ton

  • Whatsapp
Ist

YOGYAKARTA – Pada pertengahan Agustus lalu seluruh pabrik gula di bahwa naungan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) III digabung dalam satu entitas perusahaan gula nasional bernama PT Sinergi Gula Nusantara. Penggabungan seluruh pabrik gula lewat holding company tersebut  diharapkan bisa meningkatkan kemandirian produksi gula nasional.

Adanya holding ini menurut Direktur Utama PTPN III Dr Mohammad Abdul Ghani dikarenakan selama ini terjadi penurunan kapabilitas, kapasitas dari SDM dan budaya kerja di pabrik gula milik PTPN. Sehingga perlunya perombakan secara menyeluruh.

Bacaan Lainnya

“Tujuan transformasi ini agar tercapai kemandirian industri gula nasional. Tahun 2024 kita tergetkan produksi capai 3,2 juta ton untuk gula konsumsi. Untuk gula buat produk makanan dan minuman belum sanggup karena masih adanya keterbatasan lahan,” kata Abdul Ghani dalam webinar bertajuk Problematika Kebijakan dan Revitalisasi Industri Gula Nasional, Kamis (23/9/2021).

Untuk menggenjot produksi gula nasional tersebut, pihaknya akan menambah area baru lahan perkebunan tebu hingga 250 ribu hektar. Ini bekerja sama dengan Perhutani. Selain itu juga melakukan pembenahan soal bibit tebu agar lebih berkualitas yang mampu meningkat produktivitas.

Dia mengakui adanya persoalan bibit. Seluruh lahan kemitraan dengan petani nantinya menggunakan bibit yang tersertifikasi. Kesejahteraan petani juga diperhatikan dengan menekan biaya transportasi dan efisiensi produksi.

Sedangkan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM Prof Azwar Maas mengatakan tantangan PTPN dalam meningkatkan produktivitas gula nasional tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab menurutnya tanaman tebu memerlukan lahan khusus agar produktivitas meningkat.

Diakui tanah di Jawa dan Sumatra, Sulawesi merupakan daerah yang dianggap cocok untuk tanaman tebu. Namun demikian di Pulau Jawa, tidak banyak lahan yang bisa dikonversi untuk perkebunan karena sudah terbatas.

“Untuk pengembangan HGU nampaknya sulit karena pemda tidak semuanya mampu menyediakan lahan di atas 10 ribu hektar,” kata dia.

Fakta lain yang  dijumpai di lapangan, kata Azwar menunjukkan kinerja dari pabrik gula milik BUMN masih dalam langkah berjuang dan bertahan di tengah dunia bisnis dengan berbagai kendala. Baik dari segi budidaya, pascabudidaya dan pengelolaannya.

Di samping itu, lanjut Azwar pengembangan produksi gula nasional perlu dukungan dan keberpihakan pemerintah. Di negara lain malah justru penanam tebu ada subsidinya dari pemerintah. “Lihat saja Thailand bisa mengekspor karena kelebihan produksi. Ada campur tangan pemerintah yang pro tebu. Ada subsidi sampai 30 persen. Keberpihakan pemerintah ini kita tunggu kapan masanya bisa dapat seperti itu,” jelas dia.

Sementara Guru Besar Bidang Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, Prof Irham mengatakan setiap kebijakan harus berbasis riset. Namun kebijakan pertanian selama ini kurang berbasis riset. Konsolidasi tebu rakyat dengan melibatkan pabrik tebu secara aktif.

“Kita ingin suatu saat PTPN bisa jadi perusahaan berbasis riset seperti perusahaan di negara maju.”

Tujuannya, jelas dia,  untuk menjamin bibit yang berkulitas dan tepat waktu, menjamin ketersediaan pupuk, waktu tebang yang benar, transportasi tebu ke penggilingan yang tepat waktu serta adanya peningkatan kesejahteraan petani. (bams)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan