Jacob Ereste: Diksi Patriotis Mayor Jendral Rido Hermawan M.Sc Dalam Laku Spiritual Penuh dan Utuh

  • Whatsapp

PORTAL INDONESIA – Untuk melengkapi keinginan Ketua Umum GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) menyambangi Kerabat GMRI Mayor Jendral Rido Hermawan M.Sc di kediamannya kawasan Gotong royong kelurahan Baru, Jakarta Timur pada Senen malam 13 September 2021.

Acara silaturrahmi yang berlangsung bakda Isya itu berakhir hingga tengah malam dengan kesepakatan yang bermakna spiritual dalam ungkapan filosofisnya “sedulur lanang sak jaman, sedulur wadon sak jalan” yang bisa diterjemahkan secara bebas semacam kesetiaan dalam seiring sejalan untuk menggapai tujuan.

Bacaan Lainnya

Begitulah tiwikromonya yang dimaknai oleh Surya Kecana itu semacam cahaya mata hari yang bertaut dengan cahaya dari dalam hati bagi semua orang yang menekuni laku spiritual sejati. Karena itu, menurut Jenderal Rido untuk membangun kebangkitan kesadaran spiritual anak bangsa Indonesia, memang sudah harus dilakukan dengan percepatan yang maksimal untuk menjawab tantangan permasalahan jaman bagi bangsa Indonesia sekarang.

“Anda bisa lihat, dan anda pun juga bisa merasakan, Ibu Pertiwi sedang menangis sedih. Tapi semua putra putrinya tampak diam, seperti tidak terjadi apa-apa”, kata Jendral Rido seakan sedang menggugat segenap warga bangsa Indonesia yang tidak peka kalau bangsa ini terus menerus ditimpa musibah dan bencana. Padahal semua itu adalah isyarat dari Yang Maha Pencipta atas kerusakan bumi akibat ulah jahil manusia.

Pendapat senada seperti diungkap Eko Sriyanto Galgendu tentang perilaku manusia di jaman sekarang ini. “Rumongso sing nduwe negoro, ora tau salah, ora tau ngalah lan karepe benere dewe”, ujar Ketua Umum GMRI.

Apalagi, katanya untuk memahami makna “sopo siro, sopo insun” ketika hendak mengatasi konplik yang terjadi dalam masyarakat yang cenderung selalu dijadikan obyek mainan.

Acara silaturahmi Ketua Umum GMRI kepada Kerabat GMRI Mayor Jendral TNI Rido Hermawan M.Sc, yang juga Wakil Koordinator Tenaga Ahli Pengajar Lemhannas, untuk menghadirkan ide dan gagasan guna percepatan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bagi anak bangsa Indonesia agar dapat menghadapi dan menjawab tantangan jaman yang semakin berat dan kompleks ini, sudah harus dilakukan sekarang juga. Bila perlu, penting adanya revolusi spiritual, tandas  sang Jendral.

“Aku hanya ingin kau tahu” adalah judul sebuah buku yang tengah dia persiapkan untuk terbit dalam waktu dekat. Sari pati dari muatan buku itu, sepenuhnya untuk menggugah kesadaran generasi muda agar dapat memahami betapa besar dan adiluhungnya bobot spiritual yang dimiliki oleh para leluhur kita, suku bangsa di Nusantara yang pernah terbukti pernah berjaya dengan peradaban gemilang di masa silam.

Konsep utama dari gerakan kesadaran  spiritual itu menurut Mayjen Rido Hermawan M.Sc adalah bermula dari prosesi pewahyuan illahiah berupa ide, konsep dan gagasan yang harus ditransformasikan kedalam sebuah pertimbangan kesadaran diri melalui akal pikir, rasa perasaan dan budi pekerti, sehingga terakumulasi menjadi karsa manusia untuk lelaku karya nyata dalam upaya mewujudkannya sebagai karma yang baik hingga dapat memberi manfaat banyak bagi orang lain, termasuk makhluk hidup serta alam lingkungannya sebagai wujud bhakti suci.

Intinya, dari  kebangkitan spiritual itu bagi bangsa Indonesia adalah kembali kepada jati diri suku bangsa Nusantara yang memiliki kearifan lokal yang adiluhung. Karena kandungan nilai spiritual suku bangsa kita sangat banyak, besar bobotnya dan paripurna.

Bila merujuk pada Hutington yang melihat benturan peradaban di dunia sebagai sebuah kecenderungan kekinian, maka bisa jadi yang akan terjadi adalah benturan antara peradaban Barat yang ditandai oleh materialistik dan peradaban Timur yang khas bersifat inmaterial atau spiritualistik.

Karena itu dalam benturan peradaban di dunia ini, maka akan membuat batasan-batasan negara pun bergeser dalam arti kiasan maupun dalam arti yang nyata, dalam wujud jarak dan batas-batas negara yang semakin tidak jelas dalam konteks budaya atau peradaban manusia di bumi.

Karenanya, Jendral Rido pun mencoba menyelami untuk memahami pernyataan Eko Sriyanto Galgendu yang menyatakan bahwa gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2010 di Indonesia seperti kesepakatan bersama Gus Dur dan Susuhunan Paku Buwono XII yang dideklarasikan pada 11 Januari 2011 di kediaman Gus Dur di Jawa Timur dengan dukungan dari sejumlah tokoh lintas agama dan pejabat tinggi negara seperti Jendral Polisi Sutarman.

Paparan yang sarat dengan muatan filsafat Jawa dan Sunda yang kuat dari Jendral Rido jelas bersandar pada tatanan serta tuntunan Islam, dia ekspresikan dalam bentuk pedang dan pisau komando yang khas memiliki kekuatan magnetik, sehingga senjata yang menjadi simbol kesatria dari kepribadiannya yang meniti karier militer jadi lebih bermakna, dan jika boleh disebut oleh penulis,  itu adalah gambaran laku Kesatria Pinandita sejati.

Semboyan patriotiknya pun dalam diksi spiritual seorang Rido, begitu terkesan, dia memang sungguh menyimpan banyak energi “Kesatria Pinandita” yang energinya justru dia peroleh saat bertugas di Sulawesi Selatan. Dan menurut pengakuan sang Jendral ini, inti dari upaya yang hendak digapai dalam setiap laku spiritual adalah : selalu sadar penuh dan hadir dalam kemanunggalan lahir maupun Bathin. Sehingga kepedulian anak bangsa terhadap bangsa dan negara sebagai wujud bhakti anak pertiwi itu, utuh dan penuh demi anak negeri.

Jakarta, 14 September 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan