Agenda Ponorogo Hebat dan Berfikir

  • Whatsapp
Predianto (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo) 

OPINI – APA PARAMETER Ponorogo hebat yang dicanangkan Sugiri Sancoko atau lebih akrab disapa Kang Giri? Pada masa jabatan yang belum genap 5 bulan sejak dilantik pada 26 Feb 2021 media Ponorogo dihujani dengan slogan “HEBAT”. Tetapi dari slogan ini seiring dengan adanya kerja sama yang melibatkan Group of Development, Technologies and Construction Companies (GDTC) International rasanya perlu ada tambahan slogan, yaitu “HEBAT dan BERFIKIR”.

Kerjasama tersebut merupakan lanjutan dari penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU)  oleh Chairman GDTC Maroko, HEH Sharif Moulay Sidi Al Sultan Ahmad Bin Zuhir Bin Mohammad Bin Jaber Al Natour dengan tujuh Direktur BUMN dan BUMD di Jatim di Gedung Negara Grahadi Surabaya  pada hari Sabtu sore 8 Mei 2021. Pada saat yang sama juga dihadiri Walikota Surabaya Eri Cahyadi, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Bupati Ngawi Ony Anwar, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Bupati Probolinggo Puput Tantriana dan Bupati Bangkalan R Abdul Latif Amin Imron.

Bacaan Lainnya

MoU itu sendiri merupakan hasil Rapat Koordinasi (Rakor) Usulan Project Kerjasama antara GDTC dengan Perusahaan, BUMD dan BUMN di Jawa Timur. Hasilnya, ketujuh proyek tersebut telah menarik minat GDTC dan telah ditindaklanjuti dengan pembahasan teknis. (Baca: http://kominfo.jatimprov.go.id/, Edisi Sabtu 8/5/2021)

Menurut rilis https://ponorogo.go.id/ yang terbit pada tanggal 29 Mei 2021 dikabarkan Ponorogo telah menerima dana investasi dari GDTC International melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara GDTC International dengan PD Sari Gunung di Rumah Dinas Bupati Ponorogo. Kerja sama tersebut dinamai dengan business to business atau B2B untuk pengembangan sejumlah program pembangunan di Ponorogo dengan total mencapai Rp754 miliar.

Dari total tersebut rinciannya ialah Rp200 miliar untuk pembangunan museum reyog, Rp100 miliar untuk Ngebel, Rp100 miliar untuk pabrik pupuk, Rp174 miliar untuk pembangunan kawasan pertanian terpadu dan Rp180 miliar untuk pembangunan pabrik porang.

Kembali lagi pada istilah/slogan Hebat dan Berfikir. Bukankah kata “Hebat” lebih dari cukup dan lebih efektif dan fokus bila tanpa diimbuhi dengan istilah “Berfikir”? Kenapa perlu adanya tambahan “Berfikir”?.

Pertama, dari rincian di atas kita melihat adanya rincian Rp100 miliar untuk Ngebel. Jika boleh mengistilahkan dengan bahasa yang sederhana kenyataan tersebut bisa dikatakan sing gedi tambah gedi, sing cilik tambah mati. Ya, dari dana Rp100 miliar tersebut kenapa hanya dialokasikan di daerah Ngebel yang secara organik masyarakat sudah mengakui keindahanya?. Lalu bagaimana nasib wisata-wisata yang ada di Desa yang itu sebenarnya juga masih membutuhkan dana untuk pengembangan. Apakah desa harus mandiri dengan mencari investor sendiri atau mengandalkan APBDes?.

Mari berfikir… jangan sampai… kerja sama yang awalnya diniatkan sebagai nota kesepahaman antara Pemerintah Daerah (PEMDA) Ponorogo dengan pihak GDTC justru menjadi nota kesalahpahaman antara PEMDA dengan masyarakat yang memperjuangkan wisata-wisata yang ada di desa masing-masing yang ada di Ponorogo dan berpotensi merugikan berbagai pihak.

Hanya mengingat, bahwa kita (Ponorogo) masih memiliki PR yang belum terjawab terkait dengan bagaimana pengkodisian lahan parkir dari jalan H.O.S. Cokroaminoto.

Mengingat adanya tanda tanya besar masyarakat yang menilai pasca adanya proyek pembangunan face off tersebut, berdampak pada penyempitan jalan namun belum ada kepastian. Hal senada juga diungkapkan Agung S, Pengurus Paguyuban Parkir Citrem Waluku Ponorogo. “Kami pun belum dikumpulkan dan bagaimana kelanjutan setelah selesai face off ini, bagaimana penataan lahan parkir yang nanti akan menimbulkan konflik antara tukang parkir dan warga sekitar, seperti warga Jalan Tamrin, Siberut, Dr.Sutomo, dan Jaksa Agung Suprapto,”. (Baca: https://www.songgolangitfm.com/, edisi 27 Mei 2021).

Saya cukup sulit dalam membaca apa yang sebenarnya menjadi fokus utama dalam pembangunan Ponorogo yang ingin Hebat, dalam paparannya di depan peserta  Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD Kabupaten Ponorogo 2021-2026 di ruang pertemuan maupun peserta yang mengikuti rapat secara virtual pada hari Senin 31 Mei 2021, Kang Giri menuturkan bahwa “Saya menempatkan pertanian sebagai prioritas satu karena saya menyadari bahwa hampir sepertiga luas Ponorogo ini adalah lahan pertanian. Sehingga kami ingin membangun Ponorogo dari ‘urusan perut’. Ketika urusan ini selesai maka semua bisa diajak untuk berpikir secara jernih untuk urusan-urusan yang lain,” (Baca : https://ponorogo.go.id/, edisi 31 Mei 2021).

Apakah benar apa yang diungkapkan orang nomer satu di Ponorogo tersebut? Mari melihat konsistensi dari beliau dengan berkaca pada uraian ‘Kang Giri’ di hari yang sama pada saat meluncurkan akun pembelajaran pendidikan berbasis Microsoft Office 365 bagi siswa dan tenaga pendidik untuk mempermudah pembelajaran yang bertempat di Aula SMPN 2 Ponorogo pada hari Senin, 31 Mei 2021. Beliau mengatakan, “untuk membongkar gerbang Ponorogo menjadi lebih hebat pintu pertama adalah pendidikan. Dengan pendidikan bisa merubah nasib dan merubah pola pikir manusia.” (Baca : https://ponorogo.go.id/, edisi 1 Juni 2021).

Dari dua ungkapan di atas kita bisa menilai bagaimana konsep Hebat yang akan dibangun oleh Kang Giri mengalami bias proses. Artinya, pada saat hari yang sama namun di tempat yang berbeda, beliau mampu mengungkapkan dua hal yang paradoks.

Ungkapan yang pertama mengatakan pembangunan Ponorogo diawali dari urusan perut dan dilain sisi pada tempat yang berbeda beliau mengatakan urusan pendidikan.

Jika hal ini tidak kita terima dan tidak kita sadari bersama sebagai masyarakat Ponorogo yang tentunya menginginkan Ponorogo benar-benar hebat, maka akan menimbulkan kecemasan publik yang berkelanjutan dan kata “Hebat” hanya berdampak pada sloganis semata.

Pembangunan yang menyeluruh secara cepat sangat baik dan suatu keharusan, tetapi perlu menjadi sirine dalam setiap langkah pembangunan juga harus mempertimbangkan road map yang sudah dioptimiskan oleh masyarakat Ponorogo kepada Kang Giri. Sangat disayangkan jika representasi kecepatan pembangunan salah dalam menentukan langkah awal.

Berani berfikir dan berfikir ulang itu Hebat!. (***/opini)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan