Harga Kedelai di Sleman Terus Melambung

  • Whatsapp
Kepala Dinas Perindag Kabupaten Sleman, RR Mae Rusmi Suryaninhsih berbincang dengan pedagang kedelai. (Foto : Brd / Portal Indonesia)

SLEMAN|portal-indonesia.com – Untuk mengetahui dampak kenaikan harga kedelai impor saat ini, sejumlah pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Kamis (7/1/2021) meninjau sejumlah pasar tradisional dan sentra kerajinan tahu di Sleman.

Dari hasil pantauan tersebut, diketahui bahwa harga kedelai di sejumlah pasar tradisional di Sleman terus melambung, namun tidak ada perajin tahu dan tempe yang berhenti produksi karena dampak naiknya harga kedelai tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam pantauan yang dipimpin oleh Kepala Dinas Perindag Kabupaten Sleman, RR Mae Rusmi Suryaningsih tersebut, diketahui bahwa sekitar sebulan lalu harga kedelai impor di Sleman masih berkisar Rp 7.000/ Kg. Namun, sejak itu, tiap hari harganya terus naik dan kini harganya telah mencapai Rp 10.000/ kg, dan diperkirakan masih akan naik lagi.

Padahal, berdasarkan catatan Dinas Perindag Kabupaten Sleman, kini di Sleman tercatat ada 271 perajin tahu dengan kebutuhan kedelai sekitar 91, 4 ton per bulan, serta ada 741 perajin tempe dengan kebutuhan kedelai sekitar 8 ton per bulan.

Meski demikian, para perajin tahu dan tempe sebanyak itu, belum ada yang berhenti produksi yang disbabkan oleh naiknya harga kedelai tersebut. Seperti yang terjadi di Sentra tahu Padukuhan Krapyak, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Dari 80 perajin tahu yang ada, satupun tidak ada yang berhenti produksi. Hanya saja, mereka rata-rata mengurangi produksinya. Jika sebelum harga kedelai naik, rata-rata seorang produsen tahu mengolah kedelai menjadi tahu sekitar 50 Kg per hari.

Tetapi, setelah harga kedelai terus mengalami kenaikan, rata-rata mereka hanya memproduksi sekitar 30 hingga 40 kilogram kedelai per hari. Agar tidak rugi dalam menjalankan usahanya, para perajin tahu terpaksa menaikan harga jual tahu hasil produksinya.

Sebagai contoh, tahu yang semula dijual seharga Rp8 rupiah per kilogram, kini dinaikkan menjadi Rp 9 ribu per kilogram. Sedangkan tempe, yang semula dijual Rp 1.000 tiga biji, kini dinaikkan menjadi Rp400 per biji.

Para perajin tahu dan tempe di Sleman mengaku tidak tahu penyebab kenaikan harga kedelai ini. Bahkan, para pejabat Dinas Perindag Sleman juga mengaku tidak tahu terus naiknya harga kegelai impor saat ini. Selain itu, para pejabat dinas perindag Sleman juga mengaku tidak dapat mengatasi permasalahan naiknya harga kedelai ini.

Sebab, naiknya harga kedelai impor saat ini, buka hanya terjadi di Sleman. Tetapi, juga terjadi di seluruh wilayah se Indonesia. Sehingga permasalahan ini sudah menjadi permasalahan nasional.

“Oleh karena itu, terhadap masalah naiknya harga kedelai ini, kami akan segera melaporkannya ke Pemda DIY sebagai bahan pembahasan ke tingkat nasional,” kata Mae Rusmi.

Menurut Mae Rusmi, terus melambungnya harga kedelai impor yang telah membuat resah bagi para perajin tahu dan tempe ini, juga pernah terjadi pada tahun 2009 lalu. Untuk mengatasi permasalah tersebut, waktu itu Dinas Perindag Sleman juga hanya melaporkan segela permasalahan yang dihadapi para perajin dan penjual tahu tempe ke Dinas Perindag DIY.

Selanjutnya Dinas Perindag DIY melaporkan masalah tersebut ke pemerintah pusat untuk diselesaikan permasalahanya.

“Semoga permasalahan yang dihadapi para perajin tahu dan tempe terkait terus melambungnya harga kedelai ini, telah diketahui oleh pemerintah pusat dan terus ditindak lanjuti, sehingga permasalahan yang dihadapi para perajin tahu dan tempe di Indonesia tetus bisa teratasi”, tegasnya. (Brd)

Tinggalkan Balasan