Selama Masa Covid-19 Pesanan dan Ekspor Terhambat, Nelayan Ikan Hias Kelimpungan

  • Whatsapp

Sejumlah nelayan ikan hias tengah menyelam di perairan pantai Kampe, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. (Photo: Kurniadi/Portalindonesia)


BANYUWANGI|portal-indonesia.com – Selama pandemi Covid-19, pesanan dan ekspor terhambat. Dampaknya, juga dialami oleh para nelayan ikan hias di wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Bacaan Lainnya

Dampak tersebut, seperti yang dirasakan puluhan nelayan pencari ikan hias di Desa Bengkak kecamatan Wongsorejo.

Di kawasan yang terkenal dengan sejarah nelayan ikan hiasnya itu, para nelayan ikan hias merasa kelimpungan selama masa pandemi ini. Kondisi tersebut membuat mereka rehat, atau tidak bekerja di laut.

Namun selama pandemi ini, mereka berusaha beradaptasi dan bangkit untuk memulihkan diri. Terlebih lagi bagi mereka, nelayan adalah pekerjaan yang sulit digantikan.

Saat awak media mengunjungi sekitar pantai Kampe, Senin (4/1/2021) pagi, tampak dua orang nelayan ikan hias tengah siap-siap melakukan spearfishing ke laut.

Kepada awak media, kedua nelayan ikan hias itu mengatakan sudah lama tidak masuk laut karena tak ada pesanan dari pengepul atau eksportir.

Kedua nelayan itu diketahui bernama Masdugi dan Sarkawi.

Kemudian pria yang bernama Masduki yang tengah bersiap melakukan snorkeling, mengatakan, setelah lama rehat, hari ini akan kembali masuk laut. “Kami akan mencari ikan lagi,” ujar Masdugi, pria yang akrab disapa Dugi ini.

Hal itu membuat awak media pun penasaran dengan jenis peralatan yang dibawa dan bagaimana mereka bekerja.

Tepat disaat mentari sudah beranjak dari horison, Dugi yang saat itu sudah menggunakan wet suit, dengan penuh semangat menenteng ember yang diisi penutup buatan sendiri dengan resleting di tengahnya. “Ini tujuannya agar ember mudah ditutup saat menyelam ke dalam laut setelah ikan berhasil ditangkap dengan jaring,” kata Dugi.

Hal unik lain dari idenya, ia membuat fin sendiri dari ban bekas. Potongan ban dijahit tangan dengan benang kuat, sehingga membentuk desain fin.

Dua alat penting lainnya, adalah jaring dengan pemberat dan jaring kecil untuk menangkap ikan. Sementara jaring pemberat itu hanya untuk menghadang atau memerangkap ikan.

Meski snorkle yang dipakainya terlihat butut karena saking lamanya dipakai, namun dari sejumlah peralatan sederhana yang dikreasikan para nelayan ikan hias itu dinilai tepat guna.

Sementara Sarkawi, tampak santai dan penuh pengalaman. Ia tak terlihat kerepotan membawa semua peralatan snorkel ke tengah laut. Ia juga memegang jaring di tangan kanan, ember masuk bahu kiri, dan fins di tangan kiri.

Setelah mengambang di permukaan laut, Sarkawi yang telah mengenakan fins dan snorkel, langsung masuk ke dalam laut selama kurang dari 10 detik. Beberapa kali ia terlihat kembali muncul di permukaan, beberapa puluh meter dari garis pantai.

Ia merasa sudah tidak kesulitan lagi karena area pencarian ikan hias tersebut sudah belasan tahun dilaluinya.

Sekitar 30 menit kemudian, ia sudah kembali ke darat dengan ember berisi hampir 100 ekor

“Harapan kami semoga pandemi Covid-19 di Indonesia cepat selesai sehingga kami dengan teman nelayan yang lain bisa beraktivitas dengan normal kembali,” kata Sarkawi.

Tinggalkan Balasan