Raker Konfederasi SBSI Aceh dan Lhokseumawe Bahas Kesejahteraan Buruh

  • Whatsapp

Suasana saat berlangsungnya Raker (K) SBSI Aceh dengan (K) SBSI Kota Lhokseumawe.


LHOKSEUMAWE|portal-indonesia.com
Ketua Konfederasi (K) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Tgk. H. Ishak Yusuf, menggelar rapat kerja (Raker) dengan DPC Konfederasi SBSI Kota Lhokseumawe di sebuah cafe di Lhokseumawe, Sabtu (26/12/20).

Bacaan Lainnya

Belasan perwakilan dari kota Lhokseumawe yang hadir, sangat antusias saat Raker untuk memperkuat silaturahmi dan mencari permasalahan kesejahteraan buruh di Lhokseumawe dan Aceh umumnya tersebut digelar.

Dalam raker tersebut, juga membahas persoalan tenaga kerja, kemiskinan dan pengangguran yang ada di Kota Lhokseumawe.

Korwil SBSI Propinsi Aceh Tgk. H. Ishak Yusuf (Ayah Seuhak) menyampaikan, tujuan didirikannya K SBSI ini sebagai wadah pendidikan, advokasi serta peningkatan kualitas sosial kaum buruh, serta menyikapi isu seputar perlindungan buruh dan pekerja secara nasional, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh buruh.

Dikatakan, buruh yang ada di Lhokseumawe harus berperan aktif membantu buruh di daerahnya.

“Kegiatan ini merupakan momen yang sangat penting, dikarenakan ada perwakilan buruh setiap kecamatan yang ada di wilayah Kota Lhokseumawe dari berbagai perwakilan (PK ), terkait permasalahan buruh di Kota Lhokseumawe dan Aceh umumnya”, jelas ayah Seuhak.

Ayah Seuhak menambahkan, untuk mensejahterakan buruh di Kota Lhokseumawe, diperlukan sinergitas dan diskusi terhadap seluruh stakeholder. Baik itu pemerintah, masyarakat dan pemuda demi mencapai solusi yang kongkrit ke depannya.

“Kesejahteraan buruh diperlukan sinergi dan diskusi aktif sesama stakeholder, masyarakat, pemuda dan pemerintah”,  tandasnya.

Dalam Raker ini, Ketua Federasi SBSI Kota Lhokseumawe Arfiandi, ST MM didampingi ketua Harian Faisal, dan Ketua PK Federasi SBSI Muara Satu Saiful Bahri, sangat mengharapkan kepada Direktur agar objek vital yang ada di Kota Lhokseumawe dapat memprioritaskan terhadap pemberdayaan tenaga kerja lokal dan masyarakat setempat yang saat ini hanya sebagai penonton di negeri sendiri. “Itu sangat miris”, imbuhnya.

Ke depan baik pemerintah maupun perusahaan, perlu ditingkatkan penempatan tenaga kerja lokal. Selama ini sektor usaha bukan dinikmati oleh pengusaha lokal. Kesempatan bekerja pun demikian, tanpa disadari itulah realitasnya.

“Dengan kerja sama, ke depan menjadi terbuka dan tidak berdiri sendiri. Sehingga tetap eksis sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan