Habiskan Dana Ratusan Juta, Bangunan Tandon di Desa Ketapang Mangkrak

  • Whatsapp
Tandon air yang mangkrak dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. (Photo: Kurniadi/Portalindonesia)

BANYUWANG|portal-indonesia.com – Bangunan tempat penampung air (tandon) di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, sudah lebih dari 2 tahun ini mangkrak dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Proyek pembangunan tandon yang diketahui diinisiasi oleh Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM) Tirtogiri Desa Ketapang pada tahun 2017 dengan menelan anggaran ratusan juta yang sumber dananya dari Dana Desa tersebut, awalnya tidak diketahui oleh banyak warga.

Bacaan Lainnya

Padahal, kebutuhan akan keberadaan air saat itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Anehnya, dalam pengajuan proposal bernomor 099/HIPPAM-TG/IX/2017, nama Aprilia Ningsih dicatut sebagai Sekretaris dan Matsagawi sebagai Bendahara.

Dalam tayangan di stasiun TV lokal di Banyuwangi, Aprilia Ningsih menyangkal bahwa dirinya bukan sekretaris dan sama sekali tidak tahu menahu tentang proposal tersebut.

“Saya tidak pernah menjadi sekretaris atau di tunjuk di kelompok HIPPAM Tirtogiri dari tahun 2017 hingga Desember 2020 ini, karena sama sekali tidak ada pemberitahuan kepada saya,” ucap Aprilia Ningsih.

Hal senada, juga di sampaikan oleh Matsagawi yang namanya dalam proposal dicatut sebagai bendahara.

Matsagawi menjelaskan bahwa dirinya hanyalah tukang tagih saja, bukan bendahara.

Berdasarkan keterangan dari kedua orang yang namanya dicatut dalam proposal kelompok HIPPAM Tirtogiri 2017 tersebut, diduga kuat bahwa proyek pembangunan tandon tahun 2017 itu abal-abal dan tidak transparan.

Sementara dari hasil keterangan Kepala Desa ketapang Selamet Utomo kepada awak media terkait nama dan tanda tangan Aprilia Ningsih, mengatakan bahwa Aprilia Ningsih itu memang sekretaris HIPPAM Tirtogiri yang diangkat setelah bapaknya meninggal.

“Awalnya bapaknya menjadi pengurus, karena bapaknya meninggal dunia, jadi kami angkat Aprilia Ningsih sebagai sekretaris dan tugas sekretaris juga membuat proposal,” kata kades ketapang Slamet Utomo.

Saat disinggung terkait siapa yang menerima dana tersebut, Slamet Utomo menjelaskan bahwa dana tersebut diterima oleh bendahara.

Namun nama bendahara yang disampaikan Kades Ketapang ini bukan nama Matsagawi sesuai nama bendahara yang tercantum dalam susunan pengurus di proposal, melainkan nama orang lain yang menjadi bendahara dan menerima dana tersebut.

“Tentang yang menerima dana tersebut ya bendahara mas, namanya Suwandik,” ungkap Slamet Utomo.

Masih Slamet Utomo, namun dana tersebut tidak turun sekaligus untuk pembangunan tandon air, artinya belanja dulu setelah belanja baru dibayar sesuai nota pembelanjaan

“Jadi proyek tandon air tersebut bukan mangkrak mas tapi belum selesai hanya menunggu pipanisasi,” beber Slamet Utomo.(kur)

Tinggalkan Balasan