Minim Sosialisasi, Pelaku Usaha dan warga Kayutangan Dialog Dengan Anggota DPRD Kota Malang

  • Whatsapp

Suasana diskusi antara pelaku usaha, warga dan anggota DPRD kota Malang.

KOTA MALANG | portal-indonesia.com – Polemik terkait pembangunan koridor heritage Kayutangan seakan tidak ada ujungnya, setelah beberapa hari kemarin masyarakat mengeluhkan kemacetan di beberapa titik jalan yang ada di Kota Malang. Saat ini timbul permasalahan baru yang datangnya dari pelaku usaha, warga dan juru parkir ( jukir) yang mengalami penurunan pendapatan hingga 95% sejak Jl. Basuki Rahmat ( kayutangan ) di tutup total. Guna menjembatani masalah tersebut, diadakan dialog yang menghadirkan anggota DPRD Kota Malang, Sabtu (14/11/2020)

Bacaan Lainnya

Dari pantauan portal-indonesia.com dilokasi dialog, tampak sekitar 75 orang yang terdiri dari warga, pelaku usaha (toko dan kuliner), perwakilan hotel dan jukir yang terdampak langsung dengan adanya proyek pembangunan Koridor Heritage kayutangan. Dalam dialog hadir pula Arief Wahyudi, SH dan H. Lookh Mahfudz, SS selaku anggota DPRD Kota Malang Komisi B.

Dalam paparanmya Arief Wahyudi menuturkan ” kita harus positif menanggapi adanya proyek ini, akan tetapi sebelum pelaksanaan suatu proyek harusnya di lakukan langkah – langkah sosialisasi yang inten baik kepada warga dan pelaku usaha yang terdampak langsung dan yang tidak terdampak langsung. Terpenting ketika pemkot Malang lakukan penutupan total pada jalan kayutangan ini, maka akan timbul masalah baru. Masalah tersebut adalah matinya mata pencaharian dan pendapatan dari para pelaku usaha dan para jukir di sepanjang jalan ini. Seperti yang sudah kita dengar, keluhan para pelaku usaha dan jukir adalah masalah di tutupnya kayutangan secara total, ketika jalan kayutangan ditutup total maka terjadi para pengunjung atau pembeli yang akan ke jalan ini akan mengalihakan tujuannya ke tempat lain. Semua keluhan dan aspirasi dari warga, pelaku usaha dan jukir akan saya sampaikan pada paripurna jawaban walikota Malang Senin (16/11/2020). Pelaku usaha dan jukir inginkan pembukaan jalan kayutangan, apabila hal tersebut tidak bisa di laksanakan pemkot Malang harus berikan kompensasi kepada pelaku usaha disini. ” tutup pria yang kerap gunakan topi ini.

Lain pula apa yg di katakan oleh Sukrul Amin selaku pengelolah pujasera Kayutangan ” ketika pandemi Covid-19 mendera, usaha kuliner kami sudah sepi pembeli. Sekarang ditambah dengan penutupan Jl.Kayutangan yang tentunya akan menambah usaha kami hancur. Mulai dari hari pertama penutupan proyek hingga hari ke 4 ini tidak ada satupun pembeli. Saya mengharapkan kepada pemkot Malang untuk juga memperhatikan nasib para pelaku usaha di sepanjang jalan ini. Entah itu dengan pembukaan jalan Kayutangan apa dengan pemberian kompensasi kepada kami. ” ucap pria yang mengelolah 13 lapak kuliner ini. (Junaedi)

Tinggalkan Balasan