Forkompincam Loano Adakan Upacara Pemancangan Bendera Bambu Runcing di TPU Solotiyang

  • Whatsapp
Camat Loano saat memancangkan bendera bambu runcing di TPU Solotiyang, Rabu (11/11/2020) . (Foto : M. Fauzi / Portal Indonesia)

PURWOREJO | Portal -Indonesia.com – Memperingati hari pahlawan nasional tahun 2020 ini, segenap Forkompincam Kecamatan Loano dan FKPPI menggelar upacara pemancangan bambu runcing bendera merah putih kepada para pejuang 45 yang tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Projo Handoko. Kegiatan upacara yang di pimpin dari Assisten 3 Kabupaten Purworejo dilaksanakan di TPU Solotiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Rabu ( 11/11/2020).

Sukoso DM, selaku Sekretaris Dewan Harian Jawa Tengah Angkatan Tahun 1945 Kabupaten Purworejo saat ditemui seusai upacara pemancangan menyampaikan, bahwa dalam peringatan Hari Pahlawan tahun 2020 ini sebanyak 10 pusaran dalam pemancangan bambu runcing merah putih, 6 pusaran di daerah Desa Jrakah, Kecamatan Banyu Urip,1 pusaran di Kecamatan Purwodadi,1 pusaran Kecamatan Purworejo Kelurahan Pangen Juru Tengah dan 2 pusaran di lokasi TPU Solotiyang di Desa Maron, Kecamatan Loano.

Bacaan Lainnya

Disinggung dari berapa jumlah pejuang yang dimakamkan di luar Makam Pahlawan Kabupaten Purworejo, Sukoso menjelaskan bahwa yang sudah saja kira-kira sekitar 70 pusaran tapi yang belum masih banyak sekali karena diantara sekian pejuang-pejuang 1945 ada yang data-datanya atau bintang jasa terpelihara dengan baik oleh anak cucunya, tetapi juga lebih banyak yang tidak terawat dan hilang kemudian sudah dimakan rayap dan seterusnya.

“Serta tidak terpelihara, sehingga kelanjutan hanya kesaksian-kesaksian dari keluarga maupun dari tetangga,” Bebernya.

Masih di lokasi upacara, salah satu keturunan dari pejuang yang di makamkan di TPU Solotiyang, bercerita riwaya masa hidup salah seorang pejuang bernama Subandi Bin Ali Mahmud.

Pejuang Subandi tercatat sebagai seorang pemuda yang dilahirkan pada tahun 1924 di Desa Maron dan anak ke -7 dari keluarga almarhum Ali Mashud dan Marinem. Ia sempat nengikuti pendidikan setingkat SD pada tahun 1942.

Kemudian bergabung ke satuan pembela tanah air atau PETA di jaman penjajahan Jepang. Lalu ia masuk dalam Badan Keamanan Rakyat atau BKR sesudah proklamasi kemerdekaan tahun 1945. BKR adalah satuan militer RI yang kemudian menjadi TNI.

Pada saat clash atau perang kemerdekaan 1 dan 2 tahun 1947 – 1949, ia ditugaskan dalam pertempuran di wilayah Sruweng, Kabupaten Kebumen melawan tentara Belanda. Pada saat itu pula tepatnya tahun 1948 ia gugur terkena tembakan dan jenazahnya dipulangkan kembali ke Purworejo dimakamkan di TPU Solotiyang ini. Disertai penganugerahan sebagai prajurit TNI dengan perangkat Sersan Mayor Anumerta.

Karena kondisi sulit di masa peperangan, oleh keluarganya tak diketemukan bukti adminiatrarif surat-surat penghargaannya. Namun demikian Sejak tahun 1950 makam selalu diziarahi oleh pejabat dan tokoh masyarakat tingkat Kecamatan Loano pada setiap peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Makam kedua almarhum Sumpras bin Sowirono. Pejuang Sumpras putra dari pasangan Sowirono dengan istri asal Banyuwangi yang dilahirkan pada tahun 1925. Ia masuk ke kesatuan PETA atau p sesudah tamat SR tahun 1942 di zaman penjajahan Jepang.

Selanjutnya ia bergabung dengan BKR atau cikal bakal TNI pada akhir tahun 1945. Dan ketika terjadi Clash atau perang kemerdekaan 2 Tahun 1948, ia turut bertempur di Palagan Ambarawa melawan Belanda namun ia gugur dalam pertempuran.

Jenazahnya diantar kembali ke keluarganya di Desa Maron dan dimakamkan di TPU Solotiyang Desa Maron. Pada saat itu juga kepadanya diberikan pangkat Koptu Anumerta.

Seperti halnya yang lainnya, bukti administrasi penghargaannya tidak ditemukan lagi oleh keluarganya selain kesaksian dan keluarga dan tetangga.

Sejak tahun 1950 panitia peringatan 17 Agustus setiap tahun selalu mengadakan ziarah ke pusarannya yang diikuti pejabat dan tokoh masyarakat tingkat Kecamatan Loano.( Fauzi)

Editor: tris

Tinggalkan Balasan