Portal Jateng

Rambut Gimbalnya Dicukur, Atika Minta Bakso dan Buntil

Ritual pencukuran rambut rambut gimbal di Rumah Budaya Dieng dalam acara Dieng Culture Festival, Kamis (27/9/2020).

portal-indonesia.com,
BANJARNEGARA – Lantunan tembang macapat dandanggula mengiringi ritual pencukuran rambut gimbal (gembel) di Rumah Budaya Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2020). Ritual sakral yang digelar tahunan itu, kali ini dilaksanakan secara virtual dan penerapan protokol kesehatan.

Sebelum-sebelumnya, ritual puncak acara Dieng Culture Festival (DCF) berlangsung di Komplek Candi Arjuna, dan disaksikan ribuan pengunjung. Namun, karena pandemi Covid-19, acara harus berpindah ke Rumah Budaya Dieng dan hanya disaksikan oleh tamu undangan terbatas. Untuk masyarakat umum bisa menyaksikan melalui live streaming YouTube, Instagram, serta Facebook.

Tiga anak berambut gimbal atau biasa disebut bajang dipanggil satu per satu menuju tempat pencukuran. Paling pertama yang memulai mencukur rambut anak adalah sesepuh adat, yakni Mbah Sumanto. Selanjutnya dilakukan oleh pejabat setempat.

BACA JUGA :   Bupati Setuju Tanah Kas Desa Untuk Kemakmuran Masyarakat Miskin

Rambut yang telah dipotong, dimasukkan ke dalam gentong, untuk selanjutnya rambut dilarung ke Telaga Warna. Prosesi larung rambut gimbal merupakan bagian paling akhir ritual pemotongan rambut gimbal.

Kebetulan ketiga anak semuanya perempuan. Masing-masing anak memiliki keinginan yang harus dipenuhi orang tuanya sebagai syarat ritual potong rambut. Salah satunya, Atika Nur Laila (7), anak Suprapto dan Ariyati. Warga Biwongso, Kalikajar, Kabupaten Wonosobo itu meminta bakso dan buntil sebagai syarat potong rambutnya.

Permintaan itu termasuk unik ketimbang dua anak lainnya, yakni Reli Juliyanti (9) yang meminta handphone dan Dea Maulana Safira (6) meminta kalung dan tablet.

“Saya juga tidak tahu mengapa mintanya buntil sama bakso,” ujar Ariyati, orang tua Atika.

Ia menceritakan, kemunculan rambut gimbal saat anaknya berusia dua tahun. Awalnya, Atika mengalami demam tinggi dan sempat dibawa ke puskesmas. Namun, pagi harinya tiba-tiba pulih dan muncul rambut gimbal.

BACA JUGA :   Duh, Tiga Bocah di Purwokerto Disodomi Remaja

“Tiap sebulan sekali anak saya demam, biasanya malam hari. Keesokan harinya sudah sembuh tapi muncul gimbal baru,” Bebernya.

Baru setelah berusia tujuh tahun, ia bersama suami mendaftarkan anaknya untuk mengikuti ritual potong rambut di Dieng Culture Festival tahun ini.

Ariyati berharap setelah mengikuti prosesi pencukuran rambut gimbal, anaknya bisa tumbuh sehat dan diberi kecerdasan.

“Semoga sehat, cerdas, pintar dan solihah,” harapnya.

Sementara, Ketua Adat Dieng, Mbah Sumanto menuturkan, ritual cukur rambut gimbal tahun ini dilaksanakan tertutup karena masih masa pandemi Covid-19. Namun, hal itu tidak mengurangi nilai dan kesakralannya.

“Walau dilaksanakan tertutup, tapi nilainya masih tetap. Sesaji masih sama dan prosesinya sama seperti sebelumnya,” ujar Mbah Sumanto. (KJ)

Tags

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: