EkonomiPortal Jateng

Usaha Aneka Roti di Banyumas Ini Harapkan Bantuan Alat Produksi

Sejumlah pekerja tengah mengemas olahan aneka kue dan roti di rumah Udin-Sumiarti di Desa Kalicupak Kidul, Kecamatan Kalibagor, Banyumas. (Foto : Sugito / Portal Indonesia).

portal-indonesia.com, BANYUMAS – Di tengah pandemi Covid-19 ini, tak menyurutkan semangat juang pasangan Udin – Sumiarti, warga Desa Kalicupak Kidul RT 02 RW 01, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas untuk kontinu memproduksi olahan makanan jenis roti yang dijual di pasar-pasar.

Mendirikan usaha aneka kue dan roti yang diberi nama TSABATA sejak 2010 silam, Udin dan sang istri kini mempekerjakan karyawan sebanyak 15 pekerja.

Uniknya, para pekerjanya kebanyakan merupakan orang-orang yang dianggap marginal. Seperti mantan anak jalanan, tuna wicara, disabilitas dan orang yang benar-benar membutuhkan pekerjaan. Sebagian pekerjanya bahkan tinggal di rumah Udin.

BACA JUGA :   KKN Daring, Mahasiswi Semarang Ini Edukasi Masyarakat Akan Bahaya Covid-19

Ditemui Portal Indonesia Selasa (1/9) malam, Udin dan Sumiarti menjelaskan beberapa hasil produksi usaha mereka. Diantaranya roti bolu basah, roti tawar, wingko, kue sisir dan kelapa. Semua varian tersebut dijual dengan harga murah dan grosir dibawah Rp 2000 berisi 5 potong.

Hampir setiap pukul 20.00 Wib, para marketing/sales mengambil roti dan kue di rumah Udin.
“Produksi roti kami dipasarkan hingga daerah Cilacap, Tegal, Bumiayu dan Banjarnegara,” Kata Udin.

Ia menyebut, kendala yang dialami yakni kurang alat produksi, meski sudah memiliki alat potong kupas, oven dan mixer. “Kami masih kekurangan peralatan produksi dan masih kebingungan harus mengajukan bantuan kemana,” Ujarnya.

Diungkapkan, pada tahun 2012 lalu Sumiarti pernah mengikuti pelatihan di Disperindag Banyumas selama 15 hari pelatihan. Pada tahun itu pula mereka mendapatkan bantuan alat mixer dan timbangan digital seharga Rp 5 juta.

BACA JUGA :   Amir Machmud Kembali Pimpin PWI Jateng Periode 2020 - 2025

Kemudia tahun 2014 mengikuti pelatihan di Balatkop dan Disperindagkop Provinsi Jawa Tengah. “Saat itu cuma dapat pelatihan, makan dan penginapan gratis, tidak dikasih bantuan alat produksi,” Kata Sumiarti. (Git)

Tags

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: