EkonomiPortal Jateng

Petani di Purbalingga Kesulitan Mendapatkan Pupuk Subsidi

Salah seorang petani Desa Panican, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga (kanan) mengaku kesulitan mendapatkan pupuk subsidi belakangan ini. (Foto : Sugito / Portal Indonesia).

portal-indonesia.com, PURBALINGGA – Memasuki musim tanam ke 2 pada bulan April hingga September 2020, para petani di Purbalingga kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi di Kios Pupuk Lengkap (KPL) yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah setempat.

“Pupuk bersubsidi sudah lama susah didapatkan. Ya hampir tiga bulan lebih. Terpaksa saya beli pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal,” Beber Kano (61) salah seorang petani Desa Panican, Kecamatan Kemangkon saat ditemui, Rabu (2/9).

Kepala Dinpertan Purbalingga, Mukodam mengakui atas kesulitan pupuk bersubsidi di kalangan petani. Menurutnya sistem distribusi pupuk bersubsidi menggunakan sistem tertutup, alokasi dan harga eceran tertingginya ditentukan oleh pemerintah pusat.

BACA JUGA :   Berharap Kehadiran Bupati Dalam Acara Parenting, SMP Negeri 8 Purworejo Kecewa

“Terjadinya kelangkaan puluk bersubsidi disebabkan oleh alokasi pupuk subsidi terutama pupuk urea tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Alokasi tahun ini hanya 10 ribu ton pupuk, sedangkan tahun lalu 11.880 ton pupuk,” Terang Mukodam.

Lebih jauh Mukodam menjelaskan, alokasi kebutuhan pupuk kabupaten/kota mempertimbangkan luas lahan dan usulan melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disusun dan diusulkan oleh kelompok tani. Selanjutnya, diinput secara komputerisasi oleh petugas di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) kecamatan menjadi Elektronik RDKK (E-RDKK).

“RDKK ini disesuaikan dengan anjuran dosis pemupukan, tetapi realisasinya alokasi selalu di bawah usulan,” Katanya.

Ia mengakui bahwa kebutuhan pupuk saat ini meningkat tajam karena sejak awal tahun sudah masuk musim penghujan dan air yang tersedia cukup melimpah.

BACA JUGA :   DPO Kasus Penipuan Rp 4,6 Miliar Dibekuk di Purwokerto

“Salah satu faktor kelangkaan pupuk salah satunya karena kecenderungan petani menggunakan pupuk melebihi dosis yang dianjurkan dan ini menjadi salah satu penyebab kekurangan pupuk terutama urea,” jelasnya.

Adalun langkah yang telah ditempuh untuk mengatasi kelangkaan pupuk, meliputi realokasi pupuk antar kecamatan. Dengan cara menggeser alokasi yang relatif aman ke kecamatan yang kekurangan secara proporsional.

“Penambahan alokasi pupuk bersubsidi sudah kami usulkan kepada pemerintah pusat melalui Gubernur, khusus untuk pupuk urea diusulkan tambahan alokasi 3.265 ton,” Paparnya.

Mukodam meminta supaya para petani menggunakan pupuk secara hemat sesuai anjuran dosis pemupukan. Serta menggalakkan penggunaan pupuk organik lokal dengan memanfaatkan kompos dan jerami yang telah busuk atau dari kotoran ternak. (trs/git)

Tags

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close
%d blogger menyukai ini: